Wapres Jusuf Kalla
Ujian Pasti Memacu Peningkatan Mutu
Kompas 4/1/05: Wakil Presiden Jusuf Kalla menegaskan bahwa
ujian nasional alias UN-yang menimbulkan pro dan kontra di
masyarakat-dengan menetapkan standar kelulusan tertentu merupakan upaya
untuk melecut motivasi semua kalangan agar meningkatkan mutu pendidikan.
Dengan melaksanakan ujian berstandar nasional, semua pihak, terutama
siswa dan guru, akan terpacu untuk belajar dan bekerja keras.
Cara yang sudah diprogram secara sistematis sejak tahun 2003 itu
diibaratkan sebagai terapi kejut agar dengan sendirinya budaya lembek di
masyarakat tergantikan menjadi budaya kerja keras.
Di sini, kata Jusuf Kalla, yang ingin diubah adalah menyangkut kultur
bangsa Indonesia.
Berbincang-bincang dengan Kompas di Istana Wakil Presiden, Jalan Medan
Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis (3/2), Kalla mengimbau agar pro dan
kontra tentang UN tidak berlarut-larut.
Dia juga menyadari bahwa pendidikan setidaknya mengandung tiga hal:
proses, infrastruktur, dan evaluasi. Namun, dalam konteks ini, Kalla
yakin bahwa lewat aspek yang disebut terakhir-dalam hal ini
penyelenggaraan ujian yang berstandar nasional-adalah kuncinya.
"Saya mungkin bukan perencana yang baik. Saya pragmatis. Para ahli
pendidikan silakan saja memberikan pendapat. Nyatanya, dengan teori-teori
yang ada itu ternyata mutu pendidikan kita selama puluhan tahun malah
makin mundur. Silakan saja kontra terhadap ujian nasional, tetapi
pemerintah akan tetap jalan. Apa pun yang terjadi. Kita tidak bisa
menghentikan misi ke depan hanya karena orang tidak setuju," kata Kalla
menegaskan.
Berikut petikan wawancaranya.
Sebetulnya apa yang melatarbelakangi sikap pemerintah yang bersikeras
untuk melakukan standardisasi pendidikan melalui ujian secara nasional?
Ini berawal dari keprihatinan terhadap lemahnya etos kerja masyarakat
kita. Semua ingin mencapai hasil baik tanpa mau kerja keras. Anak-anak
sekolah ingin lulus tanpa mau belajar keras. Akibatnya, posisi Indeks
Pembangunan Manusia Indonesia kita terpuruk dibandingkan negara-negara
tetangga.
Sejak kapan budaya lembek ikut meracuni bidang pendidikan kita?
Itu terjadi periode 1980-2000. Selama 20 tahun banyak aspek politik yang
memengaruhi bidang pendidikan, termasuk kebanggaan kita terhadap capaian
angka-angka kuantitas. Karena tak mau dianggap gagal, para kepala sekolah
cenderung meluluskan siswanya 100 persen. Pejabat pemerintah pun takut
gagal. Apalagi ketika itu ada campur tangan faktor partai politik
tertentu.
Dampak apa yang menonjol dari fenomena itu?
Anak-anak kita jadi malas belajar. Tanpa belajar keras pun mereka yakin
bisa lulus. Malas dan rajin sama saja. Akibatnya, anak-anak Malaysia,
Singapura, dan Vietnam sekalipun, pada level yang sama, lebih pintar
daripada anak-anak kita. Lihat saja soal-soal ujian akhir SD dan SMP di
Malaysia, lalu bandingkan soal-soal yang diberikan kepada anak didik kita
pada level yang sama. Kita jauh tertinggal. Soal ujian untuk murid SMP
kita hampir sama dengan soal ujian untuk murid SD di sana. Jadi, dari
aspek ini saja kita sudah ketinggalan tiga tahun dari Malaysia. Belum
lagi kalau mau dibandingkan dengan Singapura.
Pada tahun 1960-an kita tidak kalah dengan mereka. Setelah itu, kualitas
pendidikan kita turun dan mereka naik. Jadi, kita dihadapkan pada satu
kenyataan, bangsa ini seolah-olah didesain menjadi kuli. Karena selama
puluhan tahun kita rendahkan mutu pendidikan, kita bisanya mengirim TKI (tenaga
kerja Indonesia- Red) ke Malaysia sebagai buruh perkebunan dan sopir.
Begitu kita butuh manajer dan akuntan, kita minta tenaga dari India.
Itu semua, sekali lagi, karena kita lembek dengan mempermudah anak-anak
didik kita lulus. Secara gradual, selama 20 tahun terakhir di Indonesia
terjadi seperti halnya orang loncat tinggi, lompat galah. Karena tidak
semua orang bisa lulus, akhirnya mistarnya selalu diturunkan setingkat
demi setingkat. Untuk lulus ujian itu, lama-lama standar dan cara
meloncatnya pun diturunkan. Maka, semua peserta ujian lulus 100 persen.
Bagaimana cara menghilangkan tradisi yang kurang sehat itu?
Tak ada cara lain kecuali membuat ujian dengan patokan yang tegas dan
berskala nasional. Itu kita bikin dulu. Kita bikin bench marking (patokan/standar
acuan) dulu, seraya membenahi masalah-masalah struktural.
Karena itu, sewaktu saya masih menjabat sebagai Menteri Koordinator
Kesejahteraan Rakyat dulu, tahun 2003, saya tawarkan agar standar
kelulusan dipatok pada angka 5. Akan tetapi, kata orang Depdiknas, kalau
angka itu yang dipatok, bisa-bisa 50 persen anak-anak tidak lulus ujian.
Saya bilang, coba turunkan jadi 4. Setelah diujicobakan, ternyata masih
ada sekitar 30 persen yang tak lulus. Dengan nada hampir menangis, saya
katakan kepada Menteri Pendidikan Nasional (ketika itu) Malik Fadjar,
silakan patok di angka 3 saja.
Akhirnya kita bikin rencana untuk lima tahun. Patokan kelulusannya naik
setiap tahun, dari 3 (2003), menjadi 4 (2004), dan 5 (2005).
Kita harus konsisten untuk terus meningkatkan angka (standar kelulusan)
itu. Jika nanti banyak yang tidak lulus, itu adalah konsekuensinya. Lalu
banyak yang bilang, semua orangtua jadi stres. Anak-anak juga stres.
Kepada mereka saya bilang, biar saja, lebih baik 1.000 anak yang stres
daripada sejuta anak tidak lulus.
Dengan tiga lembar ini (sambil menunjukkan perbandingan contoh soal ujian
Indonesia dari tahun ke tahun serta perbandingannya dengan Malaysia dan
Singapura) saya yakin langkah pemerintah ini betul. Tidak perlu
teori-teori dari profesor. Makin banyak anak stres (karena menghadapi
UN-Red), makin saya suka. Lebih baik 1.000 anak stres daripada 1.000 anak
bodoh.
Bukankah itu semua sebetulnya cermin dari masih rendahnya kualitas proses
pembelajaran di sekolah? Mengapa bukan ini yang terlebih dahulu dibenahi?
Betul! Kita perlu bikin dulu patokannya seraya memperbaiki, membenahi
secara struktural. Memang muridnya harus berguguran dulu. Setelah itu
baru ada efek psikologis untuk belajar dan bekerja keras.
Namun, di sini kita memutuskan mendahulukan tes, ujiannya. Para kepala
sekolah itu kalau melihat semua anaknya lulus akan ketawa-ketawa, lalu
lapor kepada bupati/wali kota: lulus 100 persen, Pak! Tetapi kalau tidak
lulus sampai 30 persen dia akan malu, lalu dia marah dan tanya guru apa
yang terjadi. Kita ingin kepala sekolah marah, bupati/wali kota marah.
Otomatis lalu semua bisa diperbaiki karena petunjuk tidak ada yang salah,
penataran demi penataran ada, tetapi mengapa semua jadi begini?
Ada kritik, UN hanya menilai aspek kognitif dan tidak mempertimbangkan
afektif dan psikomotorik?
Itu teori, kadang-kadang saya tidak mengerti istilahnya. Akan tetapi,
teori apa pun, saya ingin bertemu para ahli yang sudah menjalankan
pendidikan selama 20 tahun. Teori macam-macam tapi hasilnya apa? Menteri
datang dari Amerika, bangkunya diputar-putar, cara belajar aktif.
Kemudian datang menterinya dari Jerman, lalu link and match. Silakan saja.
Tapi apa pun sistemnya, harus diukur dengan jujur.
Siap tidak kita mengukur secara jujur?
Tidak ada pertanyaan siap atau tidak. Harus. Karena itu, suatu
saat-secara bertahap-kita tetapkan nilai 6 sebagai standar kelulusan.
Pendidikan merupakan proses panjang, apakah keberhasilan bisa diukur dari
hasil akhirnya saja?
Begini, ya. Kalau saya beli baju saya tahu bagaimana Saudara menjahit.
Akan tetapi, tidak perlu saya tanya bagaimana sulitnya memasukkan benang,
bagaimana cara membuat polanya, bagaimana mengguntingnya. Saya hanya
melihat baju itu bagus atau baju itu jelek.
Untuk melihat hasil pendidikan, kita tidak perlu ikut menelusuri semuanya
karena sudah ada manualnya. Dan itu sudah menjadi tugas kepala sekolah.
Proses itu adalah tanggung jawab kepala sekolah.
Apakah pelaksanaan UN tidak melanggar UU Sisdiknas yang menempatkan guru
sebagai pelaku evaluasi?
Yang periksa kan semua oleh guru, cuma gurunya saja yang berbeda. Hasil
ujian siswa SMA 1 diperiksa oleh SMA 2. Semua yang memeriksa guru. Tidak
satu pun yang memeriksa itu pegawai negeri biasa.
Standarnya saja yang dibikin. Guru kan pegawai negara. Lagi pula, yang
dimasukkan dalam UN hanya tiga dari delapan mata pelajaran. Lima
pelajaran lainnya diuji sekolah. Kenapa kita ambil tiga itu? Kita ambil
pokok-pokoknya saja. Kalau ia rajin belajar matematika, pasti ia rajin
belajar yang lain. (NAR/WIS/osd/nes/ken). |
|
|
|
BERITA LAINNYA |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
 |
|
 |
|
|
|
|
|
|
|
 |
:: Wapres: Ujian Memacu Peningkatan Mutu
:: Alwi Shihab: Aceh Masuki Tahap Transisi
:: Telkom Bebaskan Tagihan Januari-Februari
:: H+35, Evakuasi Korban dari Medan Sulit
:: Pasca Tsunami H-31, Sekolah Dimulai Kembali
:: Pemerintah-PBB Sepakat Empat Prioritas Kerja
:: Pasca Tsunami H-30, Korban Meninggal 173. 981 Jiwa
::
Panglima TNI, Calang Akan Dibangun Segera
:: Relokasi Pengungsi, Pemerintah Sewa Tanah Penduduk
:: Pasca Tsunami H-25, Data Dpekes 166.320 Meninggal
:: Pasca Tsunami H-22 Meninggal 110.229, Hilang
12.132 Orang
:: Presiden: Reorganisasi Bakornas PBP
:: Pasca Tsunami H-20, 81.665 Korban Dimakamkan
:: Telah Terbuka 90% Jalan Utama Banda Aceh
:: Bakornas PBP, Telah Dievakuasi 65.594 Jenazah
:: Menko Kesra, Aceh Bersih 10 Hari Lagi
:: Pasca Tsunami, Banda Aceh Mulai Aktif
:: Menko Kesra: Relokasi Pengungsi Prioritas
:: Presiden: Jamin Korban Anak Yatim
:: Akibat Tsunami, 2.742 Sarana Ibadah Rusak
:: Deklarasi KTT Dampak Tsunami
:: 1178 Tenaga Medis, Depsos Salurkan 969 ton
Beras
:: RS Zainal Abidin Berfungsi, 36.266 Jenazah
Dievakuasi
:: Sejuta Anak Pengungsi Aceh
=> Data Korban
Tsunami di Aceh dan Sumut
|
 |
|
|
|
|
|
|
|
|