BERITA TOKOH INDONESIA
 
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
 

 

  B E R I T A
 ► Berita
 ► Wawancara
 ► Opini
 ► Editorial
 ► Resensi
 ► Leadership
 ► Berita KIB
 ► Berita Tsunami
 ► Sebelumnya
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 

 


 
1 Maret 2005

Harga BBM Naik


Jakarta 1/3/2005: Pemerintah menaikkan harga BBM mulai berlaku Selasa 1 Maret 2005, pukul 00.00 WIB. Hanya minyak tanah rumah tangga yang tidak mengalami kenaikan yakni tetap Rp 700 per liter. Minyak tanah industri naik 22% dari Rp 1.800 menjadi Rp.2.200. Premium naik 32% dari Rp 1.810 menjadi Rp 2.400. Solar tranportasi naik 27% dari 1.650 menjadi Rp 2.100. Solar industri naik 33% dari Rp 1.650 menjadi Rp 2.200. Minyak diesel naik 39% dari Rp 1.650 menjadi Rp 2.300. Minyak bakar naik 47,44% dari Rp 1.560 menjadi Rp 2.300.


Pemerintah mengumumkan kenaikan harga bahan bakar minyak rata-rata 29 persen dengan harga bervariasi per jenisnya, itu Senin (28/2/2005) malam di ruangan Graha Sawala Departemen Keuangan. Kenaikan harga itu, diatur dalam Peraturan Presiden No. 22 Tahun 2005.


Pengumuman kenaikan harga BBM itu dibacakan secara bergantian oleh Menteri Koordinator Perekonomian Aburizal Bakrie, Menteri Keuangan Jusuf Anwar, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro, dan Menneg PPN/Kepala Bappenas Sri Mulyani Indrawati. Juga dihadiri seluruh menteri yang mengordinir dana kompensasi dampak kenaikan harga BBM tersebut.


Menko Perekonomian Aburizal mengatakan, pemerintah memutuskan mengurangi subsidi BBM sesuai Peraturan Presiden Nomor 22/2005 setelah melewati pertimbangan yang seksama. Keputusan diambil setelah dilakukan kajian akademis yang sistematis, sehingga dengan mengikutkan program kompensasi yang tepat justru akan mengurangi jumlah orang miskin secara signifikan.


Pertimbangan lainnya adalah terus melambungnya kenaikan harga minyak dunia setahun terakhir. Angka harga minyak tersebut jauh dari asumsi harga yang dipakai pemerintah dan DPR dalam perumusan anggaran negara. Dengan asumsi harga minyak 37,17 per barrel saja, menurut Aburizal, subsidi BBM akan mencapai Rp 69 triliun. Saat ini harga minyak mentah sudah mencapai 50 dollar AS per barrel, pemerintah harus menanggung subsidi Rp 73 triliun atau Rp 200 miliar per hari.


Tetapi dengan pengurangan sebesar rata-rata 29 persen pada tahun ini, masih tersisa subsidi Rp 39,8 triliun, atau Rp 110 miliar per hari. Itu pun masih jauh dari subsidi yang ditetapkan DPR dan pemerintah untuk tahun 2005, yang hanya Rp 19 triliun dengan asumsi harga minyak mentah hanya 24 dollar AS per barrel.


Sementara untuk mengurangi beban rakyat, pemerintah mengusulkkan dana kompensai Rp 17,8 triliun. Itu berasal dari penghematan subsidi BBM Rp 10,5 triliun dan berbagai program yang sudah ada dalam APBN senilai Rp 7,3 tiliun. *e-ti/cnm
 

  BERITA LAINNYA  
= Harga BBM Naik

= Tidak Semua Eselon I Akan Diganti

= Kementerian Negara Kominfo Jadi Departemen

= Ical, Sugiharto, dan Suryadharma Dapat Nilai Terendah

= M Samsul Arif, Kinerja Belum Sentuh Substansi

= Presiden Tak Pernah Janji Soal 100 Hari

= Dikritik, SBY Ngaku Lapang Hati

= Paul Sutaryono: 100 Hari Pemerintah dan Industri Perbankan

= FKB Kecewa, SBY-JK Tekesan Masih Kampanye

= Masalah 100 Hari, Presiden Terjebak Jargon Sendiri

= Seratus Hari Tanpa Perubahan Signifikan

= Gebrakan 100 Hari Tanpa Gebrakan

= Megawati: Janji SBY di Awang-awang

= Kinerja Kementerian BUMN Buruk

= Janji-Janji Presiden Sulit Sitepati

= Ketidakpuasan Publik Mulai Terekspresikan

= Presiden Belum Puas, 100 Hari Dapat Ponten 4

= 100 Hari SBY-Kalla, Tidak Puas Kinerja Aparat Hukum

= Penanganan Korupsi, SBY Sendiri Belum Puas

= Tajuk Kompas: Kinerja 100 Hari Pemerintah SBY-Kalla

= 100 Hari Pemerintahan SBY Penegakan Hukum Masih Buruk
= Presiden Tidak Puas Kinerja Polisi dan Jaksa
= Sukardi Rinakit: SBY dan Politik "Gusti Ora Sare"
= Presiden SBY, Jangan Cepat Vonis Pemerintah Gagal
= Frans Seda, Budaya 100 Hari
= Noktah Merah Rapor SBY
= Dr J Kristiadi, Hanya Retorika Politik