|
Susilo-Kalla
Terima Mandat Perubahan
Jakarta, 12/08/2004: Kaukus Pemuda Bhineka Tunggal Ika menyampaikan mandat
perubahan kepada Capres-Cawapres Jenderal (Purn) Susilo Bambang
Yudhoyono-Jusuf Kalla. Anis Heryanto Sinulingga, ketua panitia pelaksana
menjelaskan kaukus pemuda ini terdiri dari organisasi pemuda lintas
agama, lintas daerah dan lintas profesi. Acara yang berlangsung sore 12
Agustus 2004 di Puri Agung Hotel Sahid Jaya, Jakarta, itu dihadiri para
tokoh yang belakangan ini merapatkan diri ke Susilo BY, setelah
sebelumnya mendukung Capres lain yang tereliminasi di Pilpres putaran
pertama.
Para tokoh yang hadir itu, antara lain Surya Paloh
Pemimpin Media Indonesia/ MetroTV yang mantan calon presiden
Konvensi Partai Golkar, Rizal Ramli (mantan Menko Ekuin yang sebelumnya
mendukung Wiranto), Todung Mulya Lubis (pengacara terkemuka yang pernah
membela Majalah Time), Barnabas Suebu (mantan Gubernur Irian Jaya),
Idrus Marham (Ketua KNPI), Yorris Raweyai (PP yang sebelumnya aktif di
tim sukses Wiranto-Wahid), Priyo Budi Santoso (Golkar pendukung Wiranto-Wahid).
Juga hadir Meilono Suwondo dan Julius Usman (anggota
DPR dan kader PDI-P), Haryanto Taslam (Caleg PNBK), artis dangdut
Camelia Malik. Demikian pula petiggi partai seperti Fahmi Idris (Golkar)
serta Alwi Shihab dan MAS Hikam (PKB), pengacara Henry Yosodiningrat
yang akrab kampanye anti narkoba dan Denny JA piminan LSI.
Susilo BY dalam pidatonya yang ramai diliput oleh
media massa cetak dan elektronik, itu menyebutkan bahwa lima hari lagi
kita akan memperingati Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Pada hari
bersejarah seperti itu, selalu kepada kita disegarkan dan diperkuat
semangat, cita-cita, komitmen, dan tanggungjawab kebangsaan,
tanggungjawab untuk berbuat yang terbaik bagi bangsa dan negara kita.
Pada hari bersejarah seperti itu, para pendiri republik, para
founding fathers bagaikan hadir bersama kita seperti Bung Karno,
Bung Hatta, Panglima Besar Jenderal Sudirman, dan sejumlah para pendiri
republik dan pahlawan kesuma bangsa yang seolah-olah menagih janji,
apakah generasi kita ini telah berbuat baik dan lebih baik dari yang
diperbuat oleh generasi sebelumnya.
Dalam semangat itulah, Susilo BY menyambut baik
prakarsa dari para pemuda yang telah menyelenggarakan forum yang pada
hakekatnya adalah forum kebangsaan, forum cita-cita, dan forum untuk
masa depan. Dikatakannya, kalau kita bicara perubahan yang menginginkan
perubahan bukan hanya yang ada di ruangan forum.
Dua minggu terakhir dia
telah bertemu dengan sejumlah tokoh, pemimpin, yang tidak selalu diliput
oleh media massa, berjumpa Amien Rais di Yogyakarta, bertemu Pak Wiranto
dan Gus Dur di Jakarta, dan sejumlah tokoh lain. Susilo BY menyimpulkan
bahwa para beliau-beliau itu sudah makin kuat komitmen untuk berbuat
yang terbaik bagi negara ini, untuk membangun masa depan Indonesia yang
lebih baik.
Komitmen perubahan ini juga ada di kalangan
masyarakat Indonesia. Susilo BY menyebutkan dalam enam bulan terakhir
ketika dia berjuang dalam perjuangan politik dari bawah, dalam wahana
perjuangan politik melalui Partai Demokrat yang baru saja mereka dirikan,
mereka berjuang merangkak dari bawah, satu demi satu menaiki tangga
perjuangan, dan, puluhan kali dia bertemu dan berdialog dengan rakyat
Indonesia di banyak tempat di negeri ini. Mereka, petani, nelayan, guru,
buruh, pimpinan pondok pesantren, dan pimpinan agama-agama yang lain
pendeknya segala lapisan masyarakat kita, mereka juga menyerukan dan
memikirkan perubahan.
Perubahan ke arah Indonesia yang lebih baik, in
better Indonesia, in better future, yang mereka katakan Indonesai
yang lebih aman dan damai, Indonesia yang lebih adil dan demokratis, dan
Indonesia yang lebih sejahtera. Suara itu adalah suara rakyat. Mereka
turut bertanya, apakah hari esok lebih baik dari hari ini, apakah mereka
memiliki masa depan untuk hidup lebih bermartabat sebagaimana yang
dinikmati oleh bangsa lain. Susilo BY yang menyampaikan sambutannya
setelah usai pidato Todung Mulya Lubis, Rizal Ramli, dan Barnabas Suebu,
melanjutkan, teman-teman telah berbicara tadi, telah melihat bagaimana
perkembangan negara lain.
Susilo BY menyebutkan minggu yang lalu berada di
Malaysia, bulan lalu berada di Singapura, dua bulan sebelumnya berada di
Republik Rakyat Tiongkok, sebelumnya berada di banyak negara. “Ketika
saya melihat kemampuan, modernisasi, kemakmuran bangsa-bangsa itu, I
also have a dream, we have a dream a better Indonesia. Let’s us dream,
the dream in to reality. Mari kita wujudkan mimpi-mimpi indah itu
menjadi kenyataan. Mari kita lakukan perubahan untuk mewujudkan mimpi
indah itu,” kata Susilo BY yang mengenakan baju batik warna coklat dan
celana panjang sepadan.
Dia menilai mandat yang diberikan kepadanya adalah
mandat yang tidak ringan. Mulia, tetapi juga penuh tantangan, very
challenging. Dia mengatakan tidak mampu melaksanakan sendiri tetapi
yakin dengan kebersamaan kita bisa mewujudkan Indonesia yang lebih baik.
Bersama kita bisa melakukan perubahan. Dia yakin seyakin-yakinnya,
dengan ridho Tuhan yang Maha Kuasa, kalau kita bersatu, melangkah
bersama, bekerja keras dan sangat keras, di bawah kepemimpinan yang baik,
pemerintahan yang baik, disertai unity (persatuan) diantara kita,
seberat apapun tantangan yang dihadapi bangsa kita insya Allah akan
dapat kita bangun masa depan Indonesia yang lebih baik.
Ini adalah keyakinan Susilo BY. Keyakinan inilah yang
menuntun pikirannya, dan pikirannya inilah yang menuntun tindakannya.
Tindakan Susilo BY sekarang adalah mendengarkan suara rakyat di seluruh
tanah air, mendengarkan apa yang disampaikan. Susilo BY akan berjuang,
berjuang sekuat tenaga dalam kompetisi demokrasi ini, semoga harapan
untuk perubahan ini, dengan mandat rakyat, mandat saudara, bersama
saudara, bersama rakyat dapat dia jalankan.
Kata Susilo BY, Indonesia yang ingin kita tuju,
paling tidak lima tahun yang akan datang, adalah Indonesia yang aman dan
damai. Negara kita utuh dari Sabang sampai Merauke. Kita yakin itu.
Karena Aceh dan Papua harus tetap menjadi bagian utuh dari Negara
Indonesia. Kita harus mencari solusi yang bijak dan tepat di dalam
menyelesaikan Aceh. Ada satu segi, Aceh dan Papua menjadi bagian negara
kita, tetapi saudara-saudara di Aceh dan Papua dapat menikmati kehidupan
yang lebih bermartabat, yang adil, yang sejahtera sebagaimana yang
dinikmati oleh saudara-saudaranya yang lain.
Menurut mantan Menko Polsoskam era Kabinet Persatuan
Pimpinan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, serta mantan Menko Polkam
Kabinet Gotong Royong pimpinan Megawati Soekarnoputri namun berhenti
mundur di tengah jalan, sama seperti pasangannya Muhammad Jusuf Kalla,
negara yang aman dan damai juga negara yang berdaulat dalam pergaulan
internasional. Keamanan yang makin baik di seluruh tanah air, kejahatan
yang terus kita perangi, dan kehidupan berbangsa serta bernegara yang
harmonis, rukun, serta penuh toleransi, itulah proses negara kita lima
tahun mendatang, yang bisa kita bangun Indonesia yang lebih aman dan
damai.
Susilo BY mengidentifikasi Indonesia yang lebih adil
akan bisa kita wujudkan kalau keadilan sosial dan keadilan ekonomi tegak.
Hukum ditegakkan. Korupsi dan penyimpangan diberantas. Tidak ada
diskriminasi di negeri tercinta ini. Semua harus mendapatkan perlakuan
yang sama di atas keadilan sesuai dengan amanat konstitusi. Demokrasi
apabila demokrasi kian mekar. Hak-hak azasi manusia dapat terus kita
junjung dan kita lindungi. Peran serta masyarakat, civil society
makin nyata. Ketika kita mendorong demokrasi, hak-hak azasi manusia dan
peran civil society kita tampilkan bahwa semuanya itu kita
ciptakan dalam lingkungan politik yang stabil disertai dengan ketertiban
dalam kehidupan bermasyarakat demokrasi.
Sejahtera yang hendak kita tingkatkan tiada lain
adalah, tadi sudah diangkat oleh teman-teman, ekonomi kita harus kembali
tumbuh tetapi tahan terhadap gonjangan serta terdistribusi secara adil.
Pengangguran harus semakin berkurang. Kemiskinan harus semakin susut.
Infrastruktur harus semakin kita tumbuhkan. Pendidikan harus semakin
baik. Kesehatan makin baik. Daya beli makin baik. Pendek kata
kesejahteraan rakyat makin baik di masa mendatang.
Susilo BY mengakui apa yang disampaikannya sepertinya
satu platform yang ambisius. Ya. Kita harus punya ambisi. Ada yang
memberikan komentar platform ekonomi SBY terlalu ambisius, itu hanya
bisa dicapai kalau dilakukan sangat sangat sangat keras. Ya. Harus
ambisius. Harus sangat keras. Karena rakyat tidak bisa menunggu terlalu
lama kehidupannya yang tidak ada kemajuan yang tidak berarti. Berapapun
harus ada peningkatan dalam taraf kehidupan mereka dan itulah yang harus
kita kerjakan sungguh-sungguh lima tahun mendatang. “Saya yakin bisa
kita lakukan semuanya,” tegas Susilo BY optimis.
“Kalau kita tidak punya pemikiran yang besar tidak
akan pernah menjadi bangsa yang besar. Tetapi kebesaran itu tidak akan
datang dengan sendirinya kecuali kita bekerja sangat keras untuk
mewujudkan semuanya itu menjadi kenyataan,” kata Susilo BY. Dia akan
merasa bersyukur dan berterimakasih kalau hadirin peserta forum
memberikan kepercayaan kepadanya untuk berjuang dalam demokrasi, dan
tentunya kalau Tuhan yang Maha Kuasa memberikan jalan kepadanya nanti,
jika rakyat memberikan mandat dan amanat kepadanya nanti. Dia
menyebutkan, tentu mandat itu akan dijalankannya dengan sebaik-baiknya.
“Kami mohon doa restu dan mohon dukungan dari hadirin
sekalian, dari rakyat Indonesia untuk bersama-sama mewujudkan perubahan
yang kita cita-citakan bersama,” kata Susilo BY mengakhiri sambutannya.
Sentimen Perubahan
Akan halnya Anis Heryanto Sinulingga, ketua panitia,
menyebutkan bahwa Kaukus Bhineka Tunggal Ika pada 31 Juni atau lima hari
sebelum Pemilu Presiden 5 Juli 2004 telah pernah memberikan dukungan
kepada Susilo BY di Gedung Usmar Ismail, Jakarta. Kini, pemberian
dukungan dilaksanakan di hotel berbintang lima Puri Agung Sahid Jaya
Hotel tanpa meminta-minta dana ke Pak SBY, sebab telah dibiayai oleh
Yorris Raweyai.
Tema hari ini kata Anis adalah sebuah mandat untuk
perubahan. Pemilu Legislatif 5 April dan Pemilu Presiden 5 Juli 2004
sudah memberikan isyarat perlunya perubahan. Sekarang, adalah tugas SBY
untuk memobilisasi akumulasi sentimen perubahan. Perubahan bukanlah
jargon-jargon tapi harus ada perubahan yang luar biasa, perubahan dalam
dimensi perubahan seperti membongkar pragmatisme.
Anis Sinulingga mengatakan hanya perlu minta tiga hal
ke SBY jika terpilih. Pertama, jangan pernah tinggalkan event
kepemudaan seperti kongres, rakernas dan lain-lain dari setiap OKP (Ormas
Kemahasiswaan dan Pemuda). Kedua, dalam setiap kunjungan
kenegaraan, ini sekali lagi seandainya Tuhan mengizinkan dan rakyat
memilih Susilo BY, pergilirkan Ormas Kepemudaan dan Kemahasiswaan dalam
rombongan kepresidenan hanya untuk dua orang saja. Dan ketiga,
setiap enam bulan sekali dan setahun sekali undang OKP berdialog
berkomunikasi dua arah seperti pernah biasa dilakukan oleh Bung Karno
dahulu.
Anis Heryanto Sinulingga menilai sentimen perubahan
kini tak lagi di tangan Amien Rais sebab terukti pada 5 Juli 2004
pilihan lebih banyak ke Susilo BY. Dia sekaligus memberitahu rencana,
bahwa tanggal 17 Agustus bersamaan peringatanHari Kemerdekaan, di Semper,
Cilincing, Jakarta Utara tempat para pemulung yang hanya beberapa
kilometer dari pusat kekuasaan Istana Negara, dimana 80 persen pemilih
di sana memilih Susilo BY, Kaukus meluncurkan buku sembilan alasan
memilih Susilo BY-Kalla, kemudian tanggal 12 September 2004 diadakan
sepeda santai bersama SBY-Kalla di Jakarta.
Akan halnya advokat top Todung Mulya Lubis dalam
pidatonya juga banyak mengungkap perubahan dan soal korupsi yang tak
kunjung bisa terselesaikan. Saat ini memang ada semacam sikap the
losser, mental kalah bukan mental pemenang dalam hal mengatasi
korupsi. Karena itulah diperlukan perubahan.
Todung menyebutkan, kita semua menangkap semangat
perubahan yang luar biasa, the wind of change, dan percaya bisa
membangun Indonesia yang lebih baik dibanding hari ini.
Di Indonesia,
kata Todung, menurut Transparansi Internasional (TI) korupsi telah
berlangsung sistemik, endemik, luar biasa, membudaya, menjadi the way
of life, bahkan telah mendarah daging. Menurut TI Indonesia adalah
negara yang paling korupsi di Asean, hanya lebih baik dari Myanmar dan
telah sama dengan Bangladesh. Kalau korupsi ini tidak dibenahi Indonesia
akan menjadi warga negara kelas tiga.
Dia menyimpulkan bahwa penegakan hukum macet total,
kejaksaan, kepolisian, lumpuh total lima tahun terakhir tidak banyak
yang dilakukan, tidak memanfaatkan the golden opportunity setelah
kejatuhan Presiden Soeharto.
Ditegaskannya, pengadilan, kejaksaan, kepolisian,
telah menjadi ajang jual beli keadilan. Pengacara pun punya peran yang
tidak kecil di situ. “Marilah tegakkan bendera perubahan, the wind of
change, saatnya lakukan supremasi hukum, tidak ada yang
untouchable, tidak ada yang tak tersentuh oleh hukum. Banyak klien
asing saya yang hengkang dari Indonesia karena memperoleh perlakuan
hukum yang semena-mena,” kata Todung yang mengaku baru saja pagi itu
bertemu dengan pimpinan sebuah perusahaan asing dari Jepang.
Rizal Ramly yang awalnya menjadi bagian dari Tim
Wiranto, itu menyebutkan Pak Bambang adalah calon presiden yang akan
jadi presiden. “Kita ingin ada perubahan hidup ke arah yang lebih baik.
Cukup banyak kemajuan Pemerintah yang kita dengar, kondisi ekonomi
stabil, inflasi rendah, suku bunga rendah, lalu untuk apa perlu
perubahan, betulkah kita perlu perubahan, perubahan yang bagaimana yang
diinginkan oleh rakyat,” kata Rizal penuh retorik.
Rizal menyebutkan betul, bahwa selama tiga tahun
terakhir ekonomi kita berada pada posisi yang stabil. Hal tu terjadi,
pertama karena nilai tukar dolar melemah terhadap mata uang asing.
Kedua, tingkat suku bunga internasional rendah atau sama dengan
50 tahun yang lalu. “Tapi begitu dua bulan terakhir berubah dolar naik
tingkat suku bunga naik maka terjadi koreksi yang lebih buruk,” kata
Rizal. Ditambahkan, betul ada stabilitas tapi masih rapuh, masih banyak
kasus-kasus yang ongkosnya mahal. Kita menyadari stabilitas saja tidak
cukup. Kita harus berada di atas stabilitas.
Indikator ekonomi seperti nilai tukar, inflasi, suku
bunga, dan lain-lain adalah sasaran antara. Indikator ekonomi yang perlu
di dunia internasional adalah daya beli masyarakat naik dan tersedia
lapangan kerja. Itu sebab indikator yang disebutkan oleh Pemerintah
tidak nyambung dengan apa yang dirasakan rakyat biasa. Apa yang
dirasakan rakyat biasa adalah, daya beli atau purchasing power
rakyat merosot sementara biaya transportasi, pendidikan dan lain-lain
meningkat. Kemudian, rakyat semakin kesulitan mencari lapangan kerja.
Tahun 1998 jumlah pengangguran ada 40 juta penganggur, tahun 2001 turun
menjadi 36,2 juta penganggur, tahun 2004 mestinya lebih turun lagi namun
angka pada akhir Desember 2003 malah naik menjadi kembali mendekati
angka 40 juta penganggur.
“Sehingga ada kontradiksi antara stabilisasi dengan
pengangguran dan penurunan kapasitas produksi pabrik-pabrik,” kata Rizal
Ramy yang tak lagi menjadi menteri seiring Gus Dur diturunkan oleh SI
MPR Juli 2001.
Penyebab kontradiksi itu, menurut Rizal Ramly karena
Pemerintah hanya fokus pada stabilisasi finansial tanpa menyentuh
investasi, produktivitas industri, daya saing, dan lain-lain. Juga
terjadi manipulasi angka-angka statistik. Penerimaan pajak disebutkan
Pemerintah dalam tiga tahun terakhir melebihi penerimaan pajak sepanjang
era Orde Baru. Pemerintah memanipulasi angka statistik sebab hanya
menambahkan tahun ke tahun penerimaan pajak, padahal penerimaan pajak Rp
1 triliun pada tahun 1970 saat ini barangkali sudah setara dengan Rp 70
triliun, sehingga menjadi tidak benar angka penerimaan pajak tiga tahun
terakhir lebih besar dari sebelumnya.
Dikatakan oleh Rizal, di dunia, yang dipakai adalah
proporsi penerimaan pajak terhadap GDP yang rata-rata 13%, dengan SBY
peningkatan tax ratio itu bisa mencapai 18% untuk membiayai
pendidikan, kesehatan, food security. “Apakah kita akan biarkan
pemerintahan shadow reformism tapi isinya pengkhianatan terhadap
reformasi, bungkusnya nasionalisme isinya pengkhianatan nasionalisme,
apakah kita biarkan stagnasi berlangsung lima tahun lagi, atau kita ikut
angin perubahan supaya kita bisa menikmati kehidupan yang lebih baik,”
ujar Rizal sambil memberikan contoh bahwa Cina hanya membutuhkan waktu
12 tahun untuk maju di bawah kepemimpinan Deng Xioping dan Zhu Rhongji,
Malaysia 15 tahun, dan Taksin hanya butuh dua periode saja.
Mantan Gubernur Irian Jaya yang juga mantan Ketua
KNPI Irian Jaya, Barnabas Suebu menyebutkan nasib suatu bangsa
tergantung kepada pemimpin bangsa. Seperti bangsa Eropa, Jepang, Korea,
Singapura semua ditentukan pertama dan terutama oleh pemimpinnya.
Memilih pemimpin bangsa berarti memilih nasib bangsa. Nasib Indonesia
sejak merdeka juga ditentukan oleh siapa pemimpinnya.
“Bangsa ini sudah
terperosok ke jurang yang dalam. Kecenderungan atas arus besarnya adalah
menginginkan perubahan, apapun yang dilakukan oleh elit di atas tidak
besar pengaruhnya. Arus besar ini tidak bisa dilawan apapun. Arus
besarnya adalah perubahan,” ujar Barnabas yang menyebutkan khusus datang
ke Jakarta untuk mengikuti forum.
Berdasarkan pengamatannya sebagai mantan pejabat,
Barnabas Suebu menyimpulkan ada tiga ciri kepemimpinan kita selama ini.
Pertama “telmi”, telat mikir, kedua berpikir
sepotong-sepotong tidak berpikir strategis, dan ketiga
mengulang-ulang kesalahan yang sama dalam sejarah. “Orde Baru awalnya
berjanji berbuat lebih baik dan tak salah ternyata lebih salah lagi.
Dahulu konsep multi partai, kemudian disederhanakan, sekarang kembali
lagi ke multi partai,” kata Barnabas. Dia juga menyimpulkan bahwa
masalah Aceh dan Papua adalah masalah pemimpin. Masalah Aceh dan Papua
tidak bisa diselesaikan secara militer tapi memberi keadilan, kedamaian,
dan kesejahteraan satu untuk semua semua untuk satu, one for all, all
for one.
“SBY pemimpin yang tidak “telmi”, juga MetroTV
pemimpinnya kan tidak “telmi”. Pemimpin yang tidak “telmi”, tidak
sepotong-sepotong, tidak mengulang kesalahan, itu namanya SBY. Kepada
SBY saya titip masalah Papua, juga titip masalah Aceh, dan masalah
bangsa yang belum selesai yang bisa mengancam persatuan dan kesatuan,”
kata Barnabas Suebu yang berpidato berapi-api. *e-ti
|
|
|
|
WAWANCARA |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
 |
|
 |
|
|
|
|
|
|
|
 |
Susilo Bambang Yudhoyono
Gaya
dan tutur bicaranya tenang, sistematis dan
berwibawa, sehingga ia populer bagi kaum ibu dan remaja putri.
Ia seorang yang beruntung mengandalkan popularitas politik. Pantas saja ia dijuluki 'Jenderal yang
Tampan". Ia pun mendirikan Partai Demokrat yang kemudian memperoleh suara
signifikan pada Pemilu 2004 dan mengantarnya menjadi Capres.
Megawati Sukarnoputri
Diam (tak banyak bicara)
itu emas, akhirnya menjadi suatu kekuatan bagi Megawati.
Kendati, mendapat tekanan bahkan caci-maki, dia tetap diam
dan sabar. Buahnya, ia pun berhasil menggapai Presiden RI
ke-5, dan ia pun tetap tak banyak bicara. Puteri Bung Karno ini
memiliki kepribadian politik, tak mudah terombang-ambing dan semakin sulit
ditebak.
|
 |
|
|
|
|
|
|
|
|