Presiden SBY Serukan
Gelar Konferensi Korban Tsunami
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tampaknya melakukan berbagai upaya
dalam rangka menangani bencana gempa bumi dan tsunami di Provinsi
Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumut. Salah satu upaya yang dilakukan
adalah meminta dan menyerukan kepada PBB menjadi sponsor penyelenggaraan
konferensi internasional untuk membantu negara-negara yang terkena
bencana tsunami.
Seruan itu disampaikan SBY secara langsung kepada Sekjen PBB Kofi Annan,
sebagaimana diungkapkannya dalam jumpa pers setelah sidang kabinet di
Kantor Presiden, Jakarta, Kamis 30/12/04. "Saya sudah usulkan kepada
Sekjen PBB kemarin (Rabu, 29 Desember 2004) dalam percakapan telepon di
Medan bahwa bagus sekali kalau dunia, dengan disponsori PBB,
melaksanakan konferensi internasional untuk membantu negara-negara yang
kena bencana gempa dan tsunami ini," ungkap SBY.
Presiden mengungkapkan, Annan menyetujui usulnya tentang konferensi
internasional tersebut. "Saya mendapat penjelasan bahwa Sekjen PBB
menyetujui," katanya mantap. SBY menjelaskan, konferensi itu tidak hanya
diperuntukkan bagi Indonesia. Tapi, juga negara-negara lain yang terkena
dampak tsunami Minggu pagi 26 Desember 2004 lalu. Ada sebelas negara di
Asia dan Afrika yang terkena dampak gempa dan tsunami itu. Yakni, Sri
Lanka, Thailand, Malaysia, India, Myanmar, Bangladesh, Maladewa,
Somalia, Kenya, Tanzania, dan Indonesia.
SBY juga mengungkapkan bahwa bukan hanya Sekjen PBB yang setuju atas
konferensi internasional korban tsunami itu. Presiden AS George Walker
Bush memberikan sinyal sama. "Tadi malam (Rabu malam 29/12/04) saya
komunikasi dengan presiden AS. Saya minta memberikan dukungan atas
konferensi internasional ini. Responsnya positif dan saya dengar
informasi akan ada kontribusi internasional," ungkapnya.
SBY mengakui sudah banyak kontribusi dari luar negeri atas musibah gempa
dan tsunami di tanah air. Termasuk, ucapan simpati dan belasungkawa,
serta komitmen untuk membantu pemerintah Indonesia. "Yang jelas, saya
juga telah bicara dengan PM Malaysia, PM Singapura, presiden Pakistan,
raja Jordania, PM Australia, dan PM Belanda. Belum (negara) yang secara
tertulis menyampaikan simpati dan memberikan kontribusi kepada
Indonesia," ucapnya.
Jumpa pers yang digelar SBY Kamis 30/12/04 itu merupakan kali pertama
dilakukan di ruang wartawan Kantor Presiden. Bahkan, itu juga jumpa pers
terlengkap. Selain SBY, hadir Wapres Jusuf Kalla dan para menteri
terkait. Di antaranya, Menko Polkumkam Widodo A.S., Menko Kesra Alwi
Shihab, Menko Perekonomian Aburizal Bakrie, Menlu Nur Hassan Wirajuda,
Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, Menkes Siti Fadilah Supari,
dan Kapolri Jenderal Pol Da’i Bachtiar.
SBY menyampaikan terima kasih dan penghargaan atas simpati dan respons
negara-negara sahabat dalam membantu pemerintah Indonesia menangani
korban bencana alam.
Bantuan dari negara-negara sahabat berupa finansial, logistik, maupun
SDM (sumber daya manusia) terus mengalir. Negara-negara yang membantu
itu, antara lain, AS, Malaysia, RRC, Singapura, Arab Saudi, Jepang,
Korea Selatan, dan Australia.
Yang lebih menggembirakan, kata SBY, masyarakat Indonesia sangat
antusias dalam membantu rekannya yang terkena gempa dan tsunami. "Saya
justru bersyukur dan lega. Sebelum komitmen internasional itu datang,
saudara-saudara kita sendiri, hingga hari ini, siang malam, dengan
sukarela, telah memberikan bantuan apa saja. Baik uang tunai, logistik,
tenaga, maupum lainnya," paparnya.
Namun, SBY juga berpesan agar pemberian bantuan itu tepat sasaran dan
disertai transparansi yang tinggi. "Saya berharap, semua dikelola dengan
benar, mulai dari Jakarta, Medan, hingga Banda Aceh, dengan
akuntabilitas dan transparasi yang setinggi-tingginya. Saya tidak ingin
ada salah urus, sehingga salah sasaran," jelasnya.
Suami Kristiani Herawati itu memperingatkan agar tidak ada penyimpangan
dalam bentuk apa pun dalam masalah pengelolaan bantuan kepada korban.
Karena itu, dia minta lembaga swadaya masyarakat (LSM) agar bersama-sama
mengawasi jalannya pemberian bantuan. "LSM yang ingin bersama-sama
mengatasi keadaan ini bisa memberikan bantuan agar pengelolaan bantuan
bisa tepat sasaran, tepat waktu, dan sesuai yang dibutuhkan di lapangan." *e-ti/indopos
|
|
|
|