|
|
 |
Rokhmin Dahuri
Dikukuhkan Sebagai Guru Besar Tetap IPB
Bogor
18/01/03: Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri MS dikukuhkan sebagai guru besar tetap
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB), Sabtu
18/1/03. Acara Pengukuhan yang dipimpin Rektor IPB Ahmad Anshori Mattjik
bisa berjalan lancar kendati diwarnai unjuk rasa ribuan mahasiswa yang
menolak kehadiran Presiden Megawati Soekarnoputri, anggota DPR, dan para
pejabat pemerintah lain yang diundang menghadiri acara itu.
Presiden Megawati yang dijadwalkan akan memberikan sambutan dalam acara
itu, tidak hadir. Namun sejumlah undangan menghadiri acara pengukuhan itu
antara lain, Menteri Pendidikan Nasional Abdul Malik Fadjar, Menteri
Kehutanan M Prakosa, Deputi Gubernur Bank Indonesia Anwar Nasution,
Gubernur Gorontalo Fadel Mohammad, Wakil Ketua DPR Tosari Widjaya, Ketua
Komisi III DPR Awal Kusuma, dan anggota DPR Slamet Effendi Yusuf.
BEM IPB yang ikut demo secara prinsip sangat mendukung acara pengukuhan
Rokhmin Dahuri sebagai salah seorang guru besar tetap IPB. Namun, mereka
tidak mau melihat acara dihadiri para pejabat yang diduga kuat telah
menyebabkan keterpurukan bangsa ini melalui kebijakan menaikkan BBM dan
TDL.
Para pengunjuk rasa memeriksa setiap undangan yang hendak masuk ke kampus
IPB. Mereka bahkan melumuri mobil pejabat dengan kotoran hewan yang
sengaja disiapkan sebelumnya. Jika diketahui di dalam mopbil ada pejabat,
pengunjuk rasa yang sudah anarkis itu langsung mengusirnya agar segera
meninggalkan kampus tersebut. Selain itu, ada beberapa mahasiswa yang
menyiapkan batu sebesar kepalan tangan. Mereka mengancam akan melempari
mobil pejabat yang berbalik arah.
Elemen mahasiswa pengunjuk rasa terdiri dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM)
IPB dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) IPB, Himpunan
Mahasiswa Islam (HMI) dan Aliansi Mahasiswa Peduli Bangsa (AMPB).
Orasi Ilmiah
Orasi ilmiah yang disampaikian Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri MS pada
kesempatan itu berjudul “Paradigma Baru Pembangunan Indonesia Berbasis
Kelautan”. Orasi ilmiah yang menggagas pembangunan bangsa berbasis
kelautan secara berkelanjutan ini disusun atas dasar tiga hipotesis utama.
Pertama, sebagai negara bahari dan kepulauan terbesar di dunia dengan
kekayaan sumberdaya kelautan yang luar biasa besar dan ragamnya, maka
menjadikan pembangunan berbasis kelautan sebagai arus utama (main stream)
pembangunan bangsa ini akan memberi manfaat bagi peningkatan kemajuan dan
kesejahteraan bangsa secara keseluruhan.
Kedua, bahwa pengelolaan dan pendayagunaan kekayaan laut yang selama ini
dilakukan berjalan secara tidak optimal dan tidak mengindahkan
kaidah-kaidah dan azas pembangunan berkelanjutan sehingga memberikan
hasil-hasil yang tidak sebagaimana diharapkan. ini dicerminkan antara lain
dengan adanya wajah dualistik (kesenjangan yang tajam) dalam hampir semua
sisi kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat serta menimbulkan berbagai
kerusakan lingkungan di beberapa kawasan pesisir dan laut yang mengancam
kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan perairan laut Indonesia.
Ketiga, melalui penerapan IPTEK, manajemen profesional dan akhlaqul
karimah, maka kekayaan sumberdaya kelautan tropis sebagai keunggulan
komparatif dapat kita transformasikan menjadi keunggulan kompetitif bangsa.
Dijelaskan mengapa gagasan sebagaimana tercantum dalam judul orasi ini
memiliki relevansi dan bahkan menjadi suatu keniscayaan bagi bangsa
Indonesia ini untuk dilaksanakan. Selanjutnya dalam orasi itu diberikan
gambaran apa dan bagaimana pembangunan berbasis kelautan tersebut
dilaksanakan dalam konteks Indonesia baru dan di tengah arus globalisasi
yang semakin intens melanda dunia.
Bagian terakhir dari orasi ilmiah ini memaparkan prasarat-prasarat yang
harus dipenuhi baik yang berupa necessary conditions maupun sufficient
conditions agar pembangunan bangsa berbasis kelautan ini dapat terwujud
dengan benar, sehingga dapat mengantarkan bangsa ini menjadi lebih makmur,
adil dan sejahtera.
Orasi ilmiah ini merupakan hasil dari renungan, pengalaman dan pemikiran
panjang Rokhmin Dahuri, menggeluti kehidupan yang berhubungan dengan
pesisir dan laut. Dilahirkan dari keluarga nelayan, dibesarkan dalam
tradisi dan budaya pesisir, menekuni ilmu di bidang kelautan dan perikanan,
dan bekerja selama dua puluh tahun sebagai akademisi, peneliti dan
konsultan di bidang kelautan dan perikanan serta dalam dua tahun terakhir
ini mendapat amanah menjadi nakhoda pada Departemen Kelautan dan Perikanan.
Pengalaman itu membawa keyakinannya bahwa pembangunan berbasis kelautan
akan mampu menghantarkan bangsa ini menjadi lebih makmur, adil dan
sejahtera. “Oleh sebab itu, for better or worse, orasi ilmiah ini
merupakan cerminan dari perjalanan dan pengalaman kehidupan saya,” kata
Rokhmin kepada Tokoh Indonesia. *e-ti
|
|
 |
| TNEWS |
 |
Akbar Tandjung
Jakarta 17/01/03: Akbar Tandjung, mantan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg)
tetap dihukum tiga tahun penjara di tingkat banding oleh majelis hakim
Pengadilan Tinggi DKI Jakarta yang dipimpin Ridwan Nasution, hari Jumat
17/1/03, karena terbukti melakukan korupsi dalam penyaluran dana
nonbudgeter Badan Urusan Logistik (Bulog) sebesar Rp 40 milyar. Namun
tidak ada perintah langsung menahan Tandjung yang kini menjabat Ketua DPR
itu.
|
|