|
|
ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA |
|
| Search |
|
|||||||||||||||
|
|
|
|||||||||||||||
|
|
|
|
|
|||||||||||||
| :: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka :: | ||||||||||||||||
|
|
||||||||||||||||
|
|
C © updated 210303 | |||||||||||||||||||||||||||||||
|
|
Indonesia Kecam Agresi ASMinta Sidang Darurat DK PBBJakarta 20/03/03: Presiden Megawati Soekarnoputri mengatakan pemerintah dan rakyat Indonesia mengecam keras agresi pemerintah Amerika Serikat (AS) dan sekutunya yang menggunakan kekuatan militer terhadap Irak atas dasar keputusan sepihak. Tindak agresi itu bertentangan dengan hukum internasional. Presiden mengemukakan hal itu di Istana Negara, Jakarta, Kamis 20/3/03, seusai sidang kabinet yang membahas perkembangan krisis Irak. Dalam kaitan itu, presiden meminta Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) segera mengadakan sidang darurat untuk mendesak AS dan sekutunya segera menghentikan perang. Jika DK PBB menemui kebuntuan, Indonesia mendesak Majelis Umum PBB menggelar sidang darurat di bawah kerangka Resolusi Tindak Bersama untuk Perdamaian. Presiden Megawati yang didampingi Wakil Presiden Hamzah Haz, Menko Kesejahteraan Rakyat Jusuf Kalla, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Susilo Bambang Yudhoyono, Menko Perekonomian Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda, Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Yusril Ihza Mahendra, dan Kepala Polri Jenderal (Pol) Da'i Bachtiar, itu mengatakan perang tidak menyelesaikan masalah, tetapi mengakibatkan tragedi kemanusiaan. Ditegaskan, pemerintah dan rakyat Indonesia sangat prihatin atas jatuhnya korban penduduk sipil yang tidak berdosa dan kerugian material yang besar. Tindakan AS itu telah mengancam tatanan dunia dan membawa dampak negatif terhadap ekonomi dan politik, tidak hanya di kawasan Timur Tengah, tetapi di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Presiden menegaskan bahwa pemerintah AS dan sekutunya harus bertanggung jawab mengatasi aspek-aspek kemanusiaan akibat agresinya tersebut. AS dan sekutunya mulai menyerang Irak Kamis 20/3/03. Sebelumnya Presiden AS George W Bush memberi ultimatum agar Saddam Husein dan keluarganya keluar dari Irak dalam tempo 48 jam. Satu jam setelah tenggat waktu itu, AS benar-benar menyerang Irak kendati ditentang banyak negara dan tanpa kesepakatan DK PBB. *e-ti PPP Belum Pikirkan Calon PresidenJakarta 20/03/03: Partai Persatuan Pembangunan (DPP PPP) berpengalaman dalam politik. Sehingga tidak perlu buru-buru menyebut nama orang untuk calon presiden. Wakil Sekretaris Jenderal DPP PPP Bachtiar Chamsyah mengemukakan hal itu seusai sidang kabinet di Gedung Utama Sekretariat Negara, Jakarta, Kamis 20/3/03. Ia menegaskan DPP PPP belum memikirkan calon presiden dan wakil presiden yang akan dimajukan pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2004. "Saya kira, sebaiknya kita harus melihat suara yang diperoleh kalau mau bicara soal calon presiden. Kalau hanya dapat, misalnya, lima persen, kok mau ngomong calon presiden," ujar Bachtiar. Jadi, ia meminta sabar dululah. ”Tidak usah buru-buru. Politik ini, kan, dalam sehari bisa berubah. Saya pikir, kalau dapat suara 20 persen, wajarlah kalau mengincar kursi presiden," katanya. *e-ti BJ Habibie BersaksiJakarta 20/03/03: Mantan Presiden BJ Habibie memberi kesaksian dalam persidangan kasus pelanggaran hak asasi manusia di Timor Timur, dengan terdakwa mantan Komandan Resor Militer 164 Wira Dharma Brigadir Jenderal Tono Suratman kembali digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis 20/3/03. Dalam persidangan yang dimulai sejak pukul 10.00 WIB dan dipimpin Ketua Majelis Hakim Andi Samsan Nganro ini B.J Habibie dimintai kesaksiannya mengenai seputar keluarnya keputusan jajak pendapat pada 1999. Saat menjabat presiden, tahun 1999, Habibie memberikan dua pilihan bagi masyarakat Timtim yaitu otonomi khusus dan tetap bergabung dengan Indonesia atau lepas secara baik-baik tanpa persetujuan DPR. Suatu keputusan yang dianggap banyak pihak sangat naif. Tapi Habibie menganggapnya sebagai tindakan yang terbaik. "Saya hanya berkepentingan masalah itu diselesaikan secara jujur dan seadil-adilnya," katanya. Melalui jajak pendapat yang diselenggarakan Perserikatan Bangsa-Bangsa, mayoritas rakyat Timor Timur memilih untuk berpisah (merdeka). *e-ti |
Nurcholish Madjid Masuk Nominasi CapresJakarta 15/3/03: Tokoh Islam moderat, penganut pluralisme, Nurcholish Madjid, yang dikenal dengan panggilan Cak Nur makin mencuat dalam nominasi pencalonan presiden Pemilu 2004. Setelah Sekjen PKB menyebut namanya, kali ini Ketua DPP Partai Golkar, Fahmi Idris menyebut kemungkinan partainya juga bias mencalonkannya.
|
|||||||||||||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
| Copyright © 2003 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero |