gototopgototop

WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

LOWONGAN: TokohIndonesia.com yang berkantor di Jakarta membuka kesempatan kerja sebagai Account Executive. Lamaran dikirimkan paling lambat 16 Mei 2012.

LENGKAPI DATA: Sudahkah Anda punya "rumah pribadi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan kirimkan biografi dan CV Anda ke

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

  • 0
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
prev
next
Kategori: Pancasila

Isu NII dan Implementasi Pancasila


Isu NII dan Implementasi Pancasila
  • zoom in
  • zoom out
  • bold
Tokoh Terkait

Berita Terkait

Berita Filter
 

Hiruk-pikuk berita tentang beberapa mahasiswa yang menghilang dan diduga dicuci otaknya oleh NII (Negara Islam Indonesia) telah mendominasi berita media massa dalam sebulan terakhir. Beberapa orang yang mengaku mantan NII, bahkan juga mengaku ayah-ibunya NII, telah menjadi narasumber ‘utama dan terpercaya’ beberapa media televisi, cetak dan online. Mereka selalu mengaitkan NII KW9 dengan Ma’had Al-Zaytun. Bahkan beberapa media cenderung telah bernada menghakimi.

Isu NII KW9 dikaitkan dengan Al-Zaytun, memang setiap tahun menjelang musim penerimaan santri sering ditiupkan. Namun kali ini isu itu dikaitkan dengan adanya beberapa mahasiswa yang menghilang dan diduga dicuci otaknya serta hartanya dikuras oleh NII. Mereka dicuci otaknya hijrah dari NKRI (Pancasila) ke NII (Syariat Islam Radikal). Dan para narasumber yang mengaku mantan NII selalu mengaitkannya dengan Al-Zaytun. Anehnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) tampaknya lebih percaya kepada para mantan NII daripada kepada pemerintah, khususnya Menteri Agama.

Opini publik pun sempat terbentuk yang memberi stigma radikal, anti Pancasila bahkan sarang teroris yang diarahkan ke Al-Zaytun dan Panji Gumilang pun dipersepsikan sebagai orang paling berbahaya bagi masyarakat, bangsa dan negara. Bahkan, paling menyedihkan, para pakar dan praktisi hukum (penegak hukum) dalam acara Jakarta Lawers Club di TVOne berteriak-teriak ’menghakimi’: Tangkap Panji Gumilang!

Bukan hanya itu. Siapa-siapa yang telah berkunjung ke Al-Zaytun telah pula dipersepsikan sebagai NII. Beberapa partai pun, terutama Partai Demokrat yang Ketua Umum dan Sekjennya baru berkunjung dan memberi sekadar sumbangan ke Al-Zaytun, disebut telah disusupi NII.

Berbeda pendapat, apalagi persepsi, adalah hal wajar. Namun, bagi manusia yang berpikir rasional dan positif, memberi pendapat dan persepsi atas hal yang subtansi dan kenyataannya tidak (belum) diketahui (buta) adalah hal tidak patut. Apalagi bila persepsi menghakimi itu muncul dari mulut para elit hukum, politik dan ulama bahkan rektor.Berbeda pendapat, apalagi persepsi, adalah hal wajar. Namun, bagi manusia yang berpikir rasional dan positif, memberi pendapat dan persepsi atas hal yang subtansi dan kenyataannya tidak (belum) diketahui (buta) adalah hal tidak patut. Apalagi bila persepsi menghakimi itu muncul dari mulut para elit hukum, politik dan ulama bahkan rektor.

Kita sependapat dengan Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum Ketua Umum Partai Demokrat (2010-2015) Anas Urbaningrum yang telah berkunjung ke Al-Zaytun bersama Sekjen DPP Partai Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono dan rombongan, bulan Maret lalu bahwa untuk meluruskan pandangan miring soal ponpes Al-Zaytun, Anas meminta semua pihak yang masih penasaran datang langsung ke ponpes di Indramayu itu. "Silahkan datang dan lihat sendiri Al-Zaytun. Kalau saya, mungkin akan datang lagi, jika berkesempatan. "Jangan ribut sendiri, tuduh-menuduh, jelek-menjelekkan yang tidak jelas juntrungannya," kata Anas.

Langkah itu pulalah yang dilakukan oleh pemerintah melalui Menteri Agama Suryadharma Ali. Bersama beberapa pejabat Dirjen dan Balitbang Kementerian Agama sengaja datang berkunjung sekaligus mengklarifikasi berbagai isu negatif. Dia pun bersama Syaykh Al-Zaytun menggelar temu pers hampir empat jam menjawab berbagai pertanyaan wartawan.

Menteri Agama pun meyakini bahwa Al-Zaytun tidak terkait NII. Suryadharma Ali Menteri Agama RI (2009-sekarang) Suryadharma Ali mengatakan tidak menemukan keterkaitan Al Zaytun dengan NII KW 9 yang radikal. Dia pun memastikan kesimpulan tersebut juga bersumber dari penelitian Kementerian Agama yang komprehensif dan valid.

Sementara terkait dugaan pengumpulan dana bagi Al-Zaytun dengan menggunakan metode pencucian otak para santrinya, Suryadharma yakin bahwa hal tersebut tidak benar. "Saya yakin tidak ada. Di sana ada ribuan santri, kalau mau cuci, cuci saja. Mereka baik-baik saja," kata Suryadharma.

Sedangkan Syaykh Al-Zaytun menjawab pertanyaan tentang pengaruh cuci otak itu mengatakan supaya tidak dicuci otak, kembalilah kepada ajaran Illahi lima nilai dasar negara itu. "Kita selalu mengatakan Pancasila, Pancasila, Pancasila. Prakteknya tidak ada lima sila itu. Praktekkan. Al-Zaytun mempraktekkan itu," tegasnya.

Dia menegaskan agar lima nilai-nilai dasar (Pancasila) itu diajarkan dan diimplementasikan, praktekkan. Al-Zaytun yang bermotto toleransi dan perdamaian, mempraktekkannya. "Kalau sekolah-sekolah itu diadakan seperti ini, tidak ada itu bahasa cuci otak. Tidak ada bahasa-bahasa yang lain-lain. Karena apa? Itu ajaran Ilahi," jelasnya.

Dalam konteks ini, bagi mereka yang merindukan Pancasila, silakan menikmatinya di Al-Zaytun. Bagi sekolah-sekolah atau pesantren-pesantren yang ingin mengajarkan dan mempraktekkan Pancasila (lima nilai dasar) silakan studi banding ke Al-Zaytun. Sebagai gambaran, redaksi majalah ini lebih banyak beragama Kristen, dan selalu menikmati go home di Al-Zaytun. Di sana (Al-Zaytun), semua umat beragama dihormati sebagai orang-orang beriman. Redaksi Ch. Robin Simanullang Pemimpin Redaksi Tokoh Indonesia Ch. Robin Simanullang | Visi Berita Indonesia 84

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA


Tag: Pancasila


Ditayangkan oleh cross  |  Dibuat 24 Mei 2011  |  Pembaharuan terakhir 19 Nov 2011

Intermezzo
Pada tahun 1901, Datuk Sutan Marajo bersama adiknya Baharudin Sutan Rajo nan Gadang menerbitkan dan memimpin sendiri sebuah surat kabar yang diberi nama Warta Berita yang merupakan surat kabar pertama di Indonesia yang berbahasa Indonesia (bahasa Melayu dengan huruf Latin), dimana pemilik dan redakturnya orang Indonesia.

Beri Komentar

Anda dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. TokohIndonesia.com dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar yang ada. TokohIndonesia.com juga berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.


Kode keamanan Refresh

 

Komunitas

  • Terbaru
  • Komentar
  • Irwan Hidayat

    m.nailul anwar noer
    Alhamdulillah, kami selaku warga negara Indonesia, sangat bangga atas tercapainya cita2 Sidomuncul, dan ...
     
  • Galaila Karen Agustiawan

    soedono adi triwanto
    Saya mengagumi anda sebagai salah satu dari sedikit tokoh yg berkarakter dan sebagai bangsa Indonesia ...

Poling Tokoh