WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com YouTube TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia
Kategori: CATATAN KILAS

Golkar Jadi Follower


Golkar Jadi Follower
Jokowi, Rapimnas Golkar

Golkar, partai penguasa 30-an tahun Orde Baru, jika dilihat dari perolehan suara pemilu legislatif era reformasi, masih bertahan sebagai salah satu partai besar di Indonesia. Namun dalam hal pemilu presiden, tampak semakin tak berdaya, loyo, kerdil dan terpuruk jadi follower.

Catatan Ch. Robin Simanullang
Wartawan TokohIndonesia.com

Tokoh Terkait

Berita Terkait

Berita Filter
 
Kategori Pekerjaan:
Presiden-Wapres (0)
Pahlawan (0)
Pemuka (0)
Pejabat (0)
Politisi-Aktivis (0)
Profesi (0)
Pengusaha (0)
Selebriti (0)
Juara (0)

Bahkan posisi follower Ketua Dewan Pembina Partai Golkar
Ketua Dewan Pembina Partai Golkar
Golkar
pada Pilpres 2019 nanti, sudah diputuskan (dideklarasikan) dalam Rapimnas Kamis (28/7/2016). Hal mana Partai Ketua Dewan Pembina Partai Golkar
Ketua Dewan Pembina Partai Golkar
Golkar
secara resmi mendeklarasikan Presiden Presiden RI ke-7 (2014-2019)
Presiden RI ke-7 (2014-2019)
Joko Widodo
(Presiden RI ke-7 (2014-2019)
Presiden RI ke-7 (2014-2019)
Jokowi
) sebagai bakal calon presiden (capres) di Pilpres 2019.

Dinyatakan, keputusan mendukung Presiden RI ke-7 (2014-2019)
Presiden RI ke-7 (2014-2019)
Jokowi
di Pilpres 2019 itu didasarkan pada pandangan seluruh DPD Ketua Dewan Pembina Partai Golkar
Ketua Dewan Pembina Partai Golkar
Golkar
se-Indonesia dan Dewan Pembina Partai Golkar.? Tepuk tangan riuh ribuan kader Golkar mengiringi penyerahan piagam deklarasi pencalonan itu langsung ke Presiden Presiden RI ke-7 (2014-2019)
Presiden RI ke-7 (2014-2019)
Jokowi
.

Suasana saat itu, tak ubahnya seperti suasana pesta kemenangan. Padahal, logika dan realitas politiknya, deklarasi itu justru (hakikatnya) sebagai suatu pernyataan kekalahan jauh hari sebelum hari pertarungan. Sudah sedemikian kerdilnyakah Partai Golkar, sampai-sampai tiga tahun lebih sebelum Pilpres sudah menyatakan diri sebagai follower Jokowi, kader partai lain (Presiden Republik Indonesia Kelima (2001-2004)
Presiden Republik Indonesia Kelima (2001-2004)
PDIP
)?

Selain alasan formal, apa sesungguhnya yang melatarbelakangi deklarasi jadi follower Jokowi tersebut? Berbagai kemungkinan diopinikan para pengamat. Pertama, jangan-jangan Golkar berharap kiranya Jokowi meninggalkan Presiden Republik Indonesia Kelima (2001-2004)
Presiden Republik Indonesia Kelima (2001-2004)
PDIP
, atau setidaknya berharap agar posisi tawar Jokowi kepada Presiden Republik Indonesia Kelima (2001-2004)
Presiden Republik Indonesia Kelima (2001-2004)
PDIP
bertambah kuat, dengan demikian Golkar bisa menyalip menggaet Jokowi, setidaknya menggaet elektabilitasnya Jokowi.

Tapi, kemungkinan ini justru menunjukkan betapa para elit Golkar tidak mengenal Jokowi. Bukankah Jokowi itu tak hanya sekadar kader PDIP? Jokowi itu adalah DNA Marhaen, sosok yang menjadi simbol ajaran Proklamator, Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1966)
Proklamator, Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1966)
Bung Karno
. Seandainya Proklamator, Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1966)
Proklamator, Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1966)
Bung Karno
masih hidup dan kita tanya, siapa sosok yang memiliki DNA Marhaen dalam konteks kekinian? Tak mustahil jika jawabannya adalah Jokowi.

Orang boleh menjadi pengagum dan pewaris ajaran Proklamator, Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1966)
Proklamator, Presiden Republik Indonesia Pertama (1945-1966)
Bung Karno
, tapi belum tentu memiliki DNA ajaran Bung Karno. Tentu saja putra-putri Bung Karno memiliki DNA yang sama, tetapi belum tentu memiliki DNA yang sama dengan ajaran Bung Karno (Marhaenisme).

Maka kemungkinan pertama ini hanyalah mimpi siang bolong yang muncul dari angan-angan kebodohan (kekurangtahuan). Jika kemungkinan ini yang diharapkan, pastilah menangguk kegagalan dan kekecewaan.

Kemungkinan kedua, Golkar berharap akan mendapat posisi tawar mendapat jatah Lihat Daftar Menteri
Lihat Daftar Menteri
Menteri
, terutama Cawapres 2019, sekaligus berharap menaikkan elektabilitas untuk memenangkan Pemilu 2019. Kemungkinan ini logis dan pantas secara politik. Tapi masalahnya, siapa (figur) kader Golkar yang mumpuni mendampingi Jokowi?

Golkar sering kali menyebut memiliki banyak kader yang berkualitas. Tapi, kenyataan, terutama dalam kontestasi Pilpres, Golkar selalu gagal menampilkan figur yang memiliki kualitas (elektabilitas) yang mampu meraih kemenangan. Sehingga, ironisnya, Golkar semakin ’puas’ meluncur jadi follower.

Kegagalan terkonyol, sebelum deklarasi kali ini, adalah ketidakmampuan Golkar sebagai pemenang kedua pemilu legislatif untuk membangun koalisi mengususung Capres-Cawapres pada Pilpres 2014. Sehingga (bahkan) menjadi pengikut (follower) fanatik Prabowo-Hatta dengan mengikatkan diri dalam Koalisi Merah Putih pasca Pilres.

Ketidakmampun untuk segera siuman dari posisi follower Prabowo (Pasca Pilpres), telah berakibat terjadinya konflik dalam tubuh (internal) Golkar. Akhirnya, konflik itu telah usai. Ketua Umum berganti. Golkar pun bisa leluasa menyatakan diri sebagai partai pendukung pemerintah, sesuai habitatnya. Tidak lagi terikat dalam bayang-bayang Prabowo sebagai ’bos’ KMP.

Tapi sesudah kembali ke habitatnya (bukan oposisi), langkah dan semangat Rapimnas pun terasa terlalu terburu-buru bahkan kebablasan. Jauh-jauh hari sudah mendeklerasikan menjadi follower Jokowi dalam Pilpres 2019. Ibarat seorang gadis yang lepas dari pelukan seorang lelaki sangar, menyerahkan diri lagi ke dalam pelukan lelaki ’tampan’.

Dalam kontestasi politik (Pemilu 2019, Pemilu legislatif dan presiden diselenggarakan bersamaan), Golkar sudah menyatakan kalah sebelum bertanding. Apakah Golkar sudah kehilangan nyali dan harapan? Separah itukah kondisi Golkar hari ini? Kalaupun tidak bisa tampil sebagai seorang pemuda sangar dan tampan, paling tidak menjadi seorang puteri pingitan.

Untuk memahaminya, baiklah kita review jejak Golkar dalam era reformasi (demokrasi) ini. Memang sejak Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Soeharto
mundur pada 1998 dan digantikan Presiden Republik Indonesia Ketiga (1998-1999)
Presiden Republik Indonesia Ketiga (1998-1999)
Presiden Habibie
(1998-1999), Golkar selalu gagal memenangkan kadernya menjadi presiden.

Dalam SU MPR 1999, Golkar tidak berhasil mengusung Capres-Cawapres, setelah pertanggungjawaban Presiden Republik Indonesia Ketiga (1998-1999)
Presiden Republik Indonesia Ketiga (1998-1999)
Presiden Habibie
ditolak, dan ’memaksanya’ mundur dari pencalonan.

Kemudian, pada Pilpres 2004 (Pilpres pertama secara langsung dipilih rakyat), Golkar mengusung Ketua Umum Partai Hanura
Ketua Umum Partai Hanura
Wiranto
(pemenang konvensi Capres Golkar) berpasangan dengan Salahuddin Wahid, juga kalah, bahkan tidak lolos putaran pertama Pilpres. Tapi, pada Pilpres kali ini Golkar masih menegakkan kepala.

Beruntung pula dalam pilpres ini, Presiden Republik Indonesia Keenam (2004-2014)
Presiden Republik Indonesia Keenam (2004-2014)
Susilo Bambang Yudhoyono
menggandeng Wakil Presiden Republik Indonesia (2004-2009), Ketua Umum PMI
Wakil Presiden Republik Indonesia (2004-2009), Ketua Umum PMI
Jusuf Kalla
(kader Golkar) diusung Partai Demokrat, tampil menjadi pemenang. Kemudian JK terpilih menjadi Ketua Umum. Lumayan dalam posisi sebagai wakil presiden.

Lalu pada Pilpres 2009, JK menegakkan kepala Golkar dengan maju sebagai calon Presiden dari Golkar, berpasangan dengan Ketua Umum Partai Hanura
Ketua Umum Partai Hanura
Wiranto
(Partai Hanura). Tapi, pasangan ini kalah.

Kemudian, pemilihan Ketua Umum Golkar dimenangkan Ketua Umum Partai Golkar, Politisi, Pengusaha
Ketua Umum Partai Golkar, Politisi, Pengusaha
Aburizal Bakrie
(2010). Sejak terpilih, ARB sudah mengiklankan diri bakal menjadi bakal Capres Partai Golkar. Dalam pemilihan legislatif, Golkar pun berhasil meraih posisi kedua. Tapi, ironis, pada Pilpres 2014, Golkar bahkan gagal untuk mengusung kadernya sebagai calon presiden atau wakil presiden. Golkar merelakan diri mendukung Capres-Cawapres dari partai yang perolehan suaranya lebih kecil dari Golkar, yakni Ketua Umum Partai Ketua Dewan Penasehat Partai Gerindra
Ketua Dewan Penasehat Partai Gerindra
Gerindra
Ketua Dewan Penasehat Partai Gerindra
Ketua Dewan Penasehat Partai Gerindra
Prabowo Subianto
dan Ketua Umum Partai Amanat Nasional Menko Perekonomian (2009-2014)
Menko Perekonomian (2009-2014)
Hatta Rajasa
.

Sebenarnya pada Pilpres 2014, Jokowi menggandeng JK (kader Golkar), namun Golkar justru lebih memilih menjadi follower Prabowo-Hatta yang ternyata dikalahkan pasangan Presiden RI ke-7 (2014-2019)
Presiden RI ke-7 (2014-2019)
Joko Widodo
-Wakil Presiden Republik Indonesia (2004-2009), Ketua Umum PMI
Wakil Presiden Republik Indonesia (2004-2009), Ketua Umum PMI
Jusuf Kalla
. Golkar kehilangan arah. Bahkan sempat menandatangani koalisi permanen KMP di bawah kendali Prabowo.

Lalu, tiga tahun lebih menjelang Pemilu 2019, Golkar pun sudah mendeklarasikan menjadi follower Jokowi. Golkar laksana manusia bertubuh besar dan tambun, tapi titik-titik. Ya, sudah, jadi follower pun sudah syukur. Tapi, masih ada waktu untuk siuman. Catatan Kilas Pemimpin Redaksi Tokoh Indonesia
Pemimpin Redaksi Tokoh Indonesia
Ch. Robin Simanullang
| Redaksi TokohIndonesia.com

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA


Tag: golkar, Jokowi, Follower, Pilpres 2019

Ditayangkan oleh cross  |  Dibuat 30 Jul 2016  |  Pembaharuan terakhir 08 Aug 2016

GALERI FOTO


Anda tidak memiliki hak akses yang cukup untuk memberi komentar

 
Majalah Tokoh Indonesia Edisi 43

Tokoh Monitor

KPK Observer

Buku Pilihan

thumb

Bersikaplah gembira, murah hati, bersuka-cita dan mampu memaafkan. Ya, Anda bisa memiliki semua sikap itu sekalipun Anda miskin harta sama sekali! Tersenyumlah senantiasa sekalipun orang memusuhi Anda. Sang Buddha Tertawa akan menunjukkannya kepada kita.

KPK Observer

Like and Support Us

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: