WELCOME: Selamat datang di situs gudang pengalaman. Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online.

KIRIM BIOGRAFI: Sudahkah Anda punya "Rumah Biografi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? Silakan Kirim Biografi dan CV Anda ke redaksi@tokohindonesia.com

PERTANYAAN: Bila Anda punya pertanyaan untuk TokohIndonesia.com, silakan hubungi kami dengan menggunakan FORM KONTAK yang disediakan.

LOWONGAN: TokohIndonesia.com yang berkantor di Jakarta membuka kesempatan kerja sebagai Account Executive. Lamaran dikirimkan ke sdm at tokohindonesia.com

LOGIN: Anda harus login agar bisa mengakses semua konten dan fitur di TokohIndonesia.com. Bila login bermasalah, silakan Refresh (Ctrl + F5) browser Anda.

TELL THE WORLD: Don't forget to Bookmark/Share TokohIndonesia.com if you CARE

Berita Tokoh Monitor

KPK-Hukum

Bisnis-Entrepreneur

Internet-Social Media

Budaya-Sastra

Mancanegara

Olahraga

Gaya Hidup

Berita Pilihan TokohIndonesia.com memilihkan (menyaring) berita-berita terbaik dan relevan dari beberapa portal berita di Indonesia. Berita di-update setiap jam.
Facebook TokohIndonesia.com Twitter TokohIndonesia.com Google Plus TokohIndonesia.com Berita Tokoh - Aplikasi Android Tokoh Indonesia
Kategori: CATATAN KILAS

Visi Jakarta Raya


Visi Jakarta Raya
Ch. Robin Simanullang | Ensikonesia.com | wes

Setiap kali terjadi banjir besar dan kemacetan parah di Jakarta, selalu timbul berbagai pendapat reaktif tentang beban Jakarta yang sudah tidak layak lagi sebagai Ibukota Negara dan pusat pemerintahan Republik Indonesia. Lalu, setelah banjir surut berbagai pendapat itu pun surut pula tanpa bekas, tanpa tindak lanjut.

Tokoh Terkait

Berita Terkait

Berita Filter
 
Kategori Pekerjaan:
Presiden-Wapres (0)
Pahlawan (0)
Pemuka (0)
Pejabat (0)
Politisi-Aktivis (0)
Profesi (0)
Pengusaha (0)
Selebriti (0)
Juara (0)

Beberapa tahun lalu, misalnya, ramai pendapat tentang pemindahan Ibukota Negara dan/atau pusat pemerintahan, yang direspon oleh Presiden Presiden Republik Indonesia Keenam (2004-2014)
Presiden Republik Indonesia Keenam (2004-2014)
Susilo Bambang Yudhoyono
dengan menawarkan tiga opsi. Yakni: 1) Tetap menjadikan Jakarta sebagai ibukota dan pusat pemerintahan dengan melakukan pembenahan (Opsi Realistis); 2) Tetap menjadikan Jakarta sebagai ibukota, dan hanya memindahkan pusat pemerintahan ke daerah baru (Opsi Moderat); 3) Memindahkan ibukota dan pusat pemerintahan secara bersamaan, dengan membangun ibukota baru. The real capital, the real government center (Opsi Ideal bersifat Radikal). (Jumat (3/9/2010).

Memang, konsep Jakarta Raya yang diusulkan Syaykh Pendiri dan Syaykh Al-Zaytun
Pendiri dan Syaykh Al-Zaytun
Panji Gumilang
tersebut, membutuhkan kepemimpinan yang kuat, berani dan visioner. Tidak cukup hanya dalam level gubernur, tetapi terutama presiden. Maka, pada akhirnya, hal ini terpulang kepada kehendak seluruh rakyat Indonesia untuk nanti dalam Pemilu memilih Presiden yang visioner dan berani mengambil risiko.

Presiden menjelaskan opsi pertama (opsi realistis) dimana ibukota dan pusat pemerintahan tetap di Jakarta, namun dengan pilihan kebijakan untuk menata, membenahi, dan memperbaiki berbagai persoalan Jakarta, seperti kemacetan, urbanisasi, degradasi lingkungan, kemiskinan urban, banjir, maupun tata ruang wilayah. Kebijakan ini harus diikuti dengan desentralisasi fiskal dan penguatan otonomi daerah untuk mengurangi kesenjangan antardaerah.

Sementara, jika salah satu dari dua opsi (2 dan 3) itu dipilih, menurut perkiraan Presiden Republik Indonesia Keenam (2004-2014)
Presiden Republik Indonesia Keenam (2004-2014)
Presiden SBY
, perlu waktu sekitar sepuluh tahun. Setelah sepuluh tahun, ibukota atau pusat pemerintahan baru itu mulai bisa berjalan dan tertata dengan baik. Secara khusus untuk pemindahan pusat pemerintahan, menurut Presiden, perlu pembahasan yang cermat. Sebagai proyek besar, opsi itu harus dijalankan dengan perhitungan yang matang dari berbagai aspek, termasuk aspek biaya. Presiden mencontohkan pemindahan pusat pemerintahan dari Kuala Lumpur ke Putrajaya membutuhkan biaya sekitar Rp80 triliun.

Untuk ketiga opsi itu, Presiden Republik Indonesia Keenam (2004-2014)
Presiden Republik Indonesia Keenam (2004-2014)
Presiden SBY
menegaskan akan mendengarkan masukan dari pihak mana pun. Dan, untuk dapat segera mengkaji dan merumuskan opsi yang ditawarkannya, Presiden mengatakan telah membentuk tim kecil. Presiden di Istana Negara, Rabu (8/9/2010) mengungkapkan, tim kecil ini antara lain untuk mengkaji membangun ibukota baru yang dikehendaki rakyat. Kajian tersebut termasuk bagaimana pendanaan pembangunan ibukota baru.

Namun, setelah tiga tahun berlalu, publik tidak tahu apa yang dikerjakan dan dikaji tim kecil yang disebut presiden tersebut. Lalu, tiba-tiba setelah Jakarta dilanda banjir pertengahan Januari 2013, muncul lagi wacana pemindahan ibukota negara tersebut. Andrinof Chaniago, akademisi Universitas Indonesia, dalam acara dialog di sitasiun televisi menympulkan bahwa pemerintah saat ini sama sekali tidak punya visi. Jangankan melakukan kajian, bahkan kajian yang dilakukan Tim Visi 2033 yang dipimpinnya tak pernah direspon pemerintah. Andrinof dan kawan-kawan merekomendasikan pemindahan ibukota ke Palangkaraya, Kalimantan, sebagai bagian dari penataan Indonesia.

Di tengah berbagai wacana itu, khususnya opsi yang ditawarkan Presiden, Syaykh Pendiri dan Syaykh Al-Zaytun
Pendiri dan Syaykh Al-Zaytun
Al-Zaytun
Pendiri dan Syaykh Al-Zaytun
Pendiri dan Syaykh Al-Zaytun
Panji Gumilang
mengusulkan perpaduan ketiga opsi konsep Ibukota Raya atau Jakarta Raya. Perluasan wilayah Jakarta menjadi Jakarta Raya, yakni mencakup wilayah yang dilintasi kanal Tirta Sangga Jaya yang ditawarkannya. Jika konsep Jakarta Raya tersebut terealisasi, dia yakin berbagai permasalahan banjir, macet dan tata ruang di Jakarta dan sekitarnya akan teratasi dan Indonesia pun akan terbilang dan dan terpandang di mata dunia internasional.

Memang, konsep Jakarta Raya yang diusulkan Syaykh Pendiri dan Syaykh Al-Zaytun
Pendiri dan Syaykh Al-Zaytun
Panji Gumilang
tersebut, membutuhkan kepemimpinan yang kuat, berani dan visioner. Tidak cukup hanya dalam level gubernur, tetapi terutama presiden. Maka, pada akhirnya, hal ini terpulang kepada kehendak seluruh rakyat Indonesia untuk nanti dalam Pemilu memilih Presiden yang visioner dan berani mengambil risiko. [Visi Berita Majalah BERINDO (Berita Indonesia) Edisi 86 | Februari 2013] Catatan Kilas Pemimpin Redaksi Tokoh Indonesia
Pemimpin Redaksi Tokoh Indonesia
Ch. Robin Simanullang
| Redaksi TokohIndonesia.com

© ENSIKONESIA - ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA


Tag: robin, Visi, Jakarta Raya, banjir, pemindahan ibukota

Ditayangkan oleh cross  |  Dibuat 13 Feb 2013  |  Pembaharuan terakhir 31 Okt 2013

lazada.co.id
Beri Komentar
 

Subscribe Today!

Dapatkan berita dan penawaran terbaru seputar Tokoh Indonesia langsung di e-mail Anda. E-mail akan dikirim sekali sebulan sehingga tidak akan menjejali inbox Anda. Kami juga tidak akan membagi e-mail Anda kepada siapapun.
Terima kasih sudah mendaftar!
Domain for sale: