A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Makalah
 ► Galeri
 ► Link
 ► Al-Zaytun
 ► Tokoh Dunia
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 01032005  
   
  ► e-ti/maz  
  Nama:
Prof. Dr. Robert W. Hefner
Istri:
Nancy Smith-Hefner
Anak:
- Claire-Marie
- William Fracisco Xavier Hefner

Pendidikan:
- Doctor of Philosophy in Anthropology, University of Michigan. Thesis: “Identity and Cultural Reproduction among Tengger (Hindu) Javanese.”, 1982.
- Intensive Javanese, Indonesian Summer Studies Institute, University of California, Berkeley, 1978.
- U.S. Office of Education Program in Advanced Indonesian, IKIP Malang, East Java, Indonesia, l977.
- Master of Arts in Anthropology, The University of Michigan, 1975.
- Bachelor of Arts in Anthropology, The University of Michigan. Thesis: “Toward a Cultural Theory of Political Conflict in Latin America.”, 1974.
- Bachelor of Arts in French Language and Civilization, Department of Romance Languages, The University of Michigan, 1974.
- L’Universite de Provence, Aix-en-Provence, France, 1972-73
- High School Diploma, St. Ignatius High School, Cleveland, Ohio, 1970.

Pekerjaan:
- Professor Anthropologi di Boston University
- Associate Director of the Institute on Culture, Religion and World Affairs (CURA)
- Peneliti dalam Program Agama dan Demokrasi untuk Institute for Religion and World Affairs (IRWA) di Boston University

Proyek:
1998-2001, memimpin Ford Foundation Project tentang “Southeast Asian Pluralisms: Social Resources for Civility and Participation in Malaysia, Singapore, and Indonesia,”
bekerjasama dengan Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKIS) di Yogyakarta.

Buku-Buku:
- Civil Islam: Muslims and Democratization in Indonesia (Princeton 2000)
- Indonesian, Islam, Pasar, Keadilan: Kontekstualisasi Lokal Kapitalisme dan Demokrasi [Islam, Markets, Justice: Local Contexualizations of Capitalism and Democracy] (LKIS 2000)
- ICMI dan Perjuangan Menuju Kelas Menengah Indonesia [ICMI and the Struggle for a New Middle Class].
Editor:
Mengedit beberapa buku dalam berbagai topik seperti sosial, politik, agama:
- Islam in an Era of Nation-States: Politics and Religious Renewal in Muslim Southeast Asia (1998)
- Democratic Civility: History and Cross-Cultural Possibility of a Modern Political Ideal (1998);
- Market Cultures: Society and Morality in the New Asian Capitalisms (1999)
- Conversion to Christianity: Historical and Anthropological Perspectives on a Great Transformation (1993)
- The Politics of Multiculturalism: Pluralism and Citizenship in Malaysia, Singapore, and Indonesia (2001)
 
 
     
 
MAKALAH

 

Prof. Dr. Robert W. Hefner

Agama, Kebutuhan Zaman Modern*

 

Menurut Prof. Dr. Robert W. Hefner, tesis sekulerisme penghapusan agama (bahwa semakin modern masyarakat semakin sekuleris) itu salah. Justru sebenarnya, agama itu malah suatu kebutuhan di zaman modern ini. Dalam ceramah umumnya di Al-Zaytun, ia juga menyebut pluralisme merupakan satu ciri pokok dari dunia kita. Pluralisme tidak hanya menyangkut isu etnis dan agama tapi menyangkut seluruh kehidupan kita.

 

****

 

Terima kasih banyak atas undangan ini dan terima kasih terutama kepada Syaykh A.S. Panji Gumilang karena beberapa bulan akhir ini telah mengundang saya (untuk datang) ke sini dan memberikan suatu kesempatan yang manis untuk melihat dari dekat apa itu Al-Zaytun, setelah saya banyak (mendapat) informasi yang kadang-kadang sedikit keliru di media Indonesia ini, yang biasanya saya baca dari internet. Terima kasih banyak atas undangan ini.

Saya walaupun kadang-kadang membaca informasi MAZ dari media masa, saya sebenarnya sudah mempunyai pengalaman baik dari Bang Amek yang kebetulan saja belajar di Boston University 2 tahun lalu. Pada kesempatan ini saya diberi penjelasan yang saya kira lebih jujur, akurat dan lebih komplit. Dan tentu saja saya kaget melihat dari dekat “apa itu Al-Zaytun?”. Tapi di lain pihak, kalau boleh saya mengakui kenyataan ini, saya tidak bisa dan belum bisa membayangkan betapa luas Al-Zaytun ini, bukan hanya luas fisiknya yang 1.200 hektare dan pesawahan, tapi luasnya dari segi visi dan misi, moril, intelektual dan aktual dalam arti kontemporer.

Kita tinggal di dunia yang penuh godaan, tantangan dan kesempatan. Kita sebagai sesama manusia selalu menghadapi semua hal itu. Pada zaman modern ini, yaitu zaman kita, entah itu sebagai Kristen, Muslim atau Hindu, kita sebagai manusia pada zaman yang sama tentu saja menghadapi tantangan yang sama.

 

Dari situlah asal visi, misi dan ambisi yang saya sempat amati hari ini: bahwa ada upaya mendirikan fasilitas pendidikan modern yang maju dan canggih, terbuka tapi (di dalamnya) ada visi dan misi moral yang sesuai dengan tantangan modern. Nah itu yang saya akan bicarakan sedikit lebih lanjut malam ini, walaupun saudara-saudara yang tentu saja pada saat saya datang belum tahu akan diajak untuk berbicara resmi seperti ini.

Ada tiga tantangan yang saya kira merupakan bagian dari zaman modern yang ingin saya utarakan secara singkat pada ceramah saya malam ini. Tapi hanya seadanya, “sa’mene wae. Matur nuwun lan nuwun sewu boso Jawa kula mboten alus maneh” (hanya seadanya, terima kasih dan minta maaf bahasa Jawa saya tidak lagi bagus lagi).

 

Sudah terlalu lama saya tidak lagi berbahasa Jawa tapi kalau saya dengar lagu dan musik yang saya dengar saya selalu ingat pada saat saya di Malang dan di Yogya karena begitu manis buat saya.

 

Tantangan Modernisasi
Kembali ke soal tantangan tadi, ada tiga tantangan kita sebagai manusia. Pertama, yaitu tantangan modernisasi, tantangan yang sering dibicarakan sejak abad XIX baik di dunia Barat maupun dunia Muslim seperti Muhammad Abduh.

 

Seperti saya pribadi sebagai Colombus Colombia saya tetap memuliakan Muh. Abduh yang mencoba menghadapi tantangan yang sama sebagai sesama manusia.

 

Salah satu ciri zaman modern itu, pada suatu ketika, selama beberapa dasawarsa di Barat terutama ada kesan, kesimpulan yang menegaskan bahwa semakin modern masyarakat semakin sekuleris. Tapi bukan sekuler yang sesuai dengan pengertian Cak Nur. Ketika saya belajar dari Nurcholis Majid dalam kata dan gagasan itu ada pendekatan semacam yang sangat tepat bahwa sekuler tidak sama dengan sekuleris yang diramalkan oleh sebagian pemikir Barat.

Pada akhir abad XIX dan awal XX mereka mengatakan bahwa kalau mau modern harus tidak beragama. Paling sedikit imammu harus berkurang, harus dijadikan menjadi tidak signifikan, tidak begitu bermakna untuk kehidupan umum, bersama dan untuk kehidupan sebagai muamalah.

 

Dalam hal itu, saya termasuk orang yang sejak dulu dibesarkan di kalangan agamis, saya selalu punya kesan yang sedikit tidak enak dengan tesis sekulerisasi ini. Tapi pada suatu ketika, walaupun saya tidak setuju dengan tesis itu, mungkin itu betul dan mungkin sejarah beralih seperti itu, berarti semakin modern kita semakin tidak agamis.

Dalam hal ini saya kembali kepada tantangan modern yang kita hadapi sebagai salah satu pelajaran. Dari pelajaran yang kita peroleh dari dunia modern Muslim, kalau ada daerah atau wilayah dan peradaban di dunia ini yang modern dan membuktikan bahwa modern itu tidak sama dengan sekulerisme (dalam arti pengurangan atau penghapusan agama).

 

Kalau ada peradaban yang membuktikan bahwa tesis itu salah, ada orang seperti kolega saya yang saya kenal baik yaitu Samuel Huntington, suatu ketika menarik kesimpulan bahwa “mungkin itu betul: bahwa semakin modern dunia Muslim tidak semakin sekuleris.” Tapi dalam hal ini dunia Muslim dalam perkecualian dan perkecualian itu sangat bertentangan dengan modernitas toleran, demokrat, mau menerima orang-orang yang lain. Menurut dia, modernitas Muslim itu modernitas yang penuh dengan kekerasan, kebencian, permusuhan dan konflik.

Saya selama satu tahun setengah pernah duduk bersama-sama satu meja dengan Samuel Huntington sebagai tamu yang diundang karena saya dianggap sebagai orang yang harus ikut seminar yang dia pimpin karena saya dianggapnya sebagai orang yang salah karena menganggap bahwa dunia itu tidak seperti itu dan dunia Islam itu tidak seperti itu. Saya dianggap orang yang menolak tesis itu.

Saya kira tesis itu (memang) salah. Dan untuk kembali ke isu sekulerisme, setelah kita lihat bangkitnya Islam tidak hanya di Indonesia tapi di negara Muslim lainnya, salah satu kenyataan yang jelas, tidak hanya untuk nonmuslim tapi juga untuk seluruh umat manusia walaupun dunia Muslim dalam hal ini adalah perintis anti sekulerisme, sebetulnya kami yang nonmuslim bisa mengambil manfaat dari pengalaman peradaban Muslim. Dan juga bermanfaat, dalam arti mempunyai implikasi keilmuan, setelah kita melihat di dunia Muslim dengan bangkitnya Islam, bukan berarti benturan peradaban tapi ada suatu yang lebih dinamis.

Setelah kita mengamati kejadian di dunia Islam, kita bisa lebih melihat secara teliti di Barat, India (Hindu), China yang atheis tapi belakangan ini beralih kepada yang lain. Setelah belajar dari dunia Islam kita cenderung lebih terdetail di seluruh dunia dan semakin yakin bahwa apa yang terjadi di dunia Islam mungkin mempunyai ciri yang begitu istimewa.

Tapi di daerah lain juga tidak seperti yang diramalkan para pemikir abad ke XIX. Buktinya agama masih bertahan, masih jalan, masih dibutuhkan karena sebagian besar dari umat manusia merasa seolah-olah kehidupan itu tidak punya makna, tidak punya pedoman dan mungkin kehilangan moralitas tanpa agama. Ini merupakan pelajaran pertama dari Islam.

 

Itulah mengapa banyak nonmuslim belajar dari Islam. Samuel juga harus belajar dari Islam, jangan memakai konsep yang terlalu abstrak, yang diciptakan tanpa melihat yang ada di dunia ini. Ada fenomena yang jauh lebih menarik, kompleks, lebih kaya dari pada yang dibayangkan orang semacam dia, walaupun dia bukan musuh karena kita tidak perlu bermusuhan.

Saya kira MAZ dalam hal ini memberikan suatu pelajaran yang cukup bermakna: “walaupun bertentangan jangan bermusuhan.” Itu merupakan salah satu sumbangan dari Pak Panji Gumilang pada negara ini. Jadi kesimpulan pertama, bahwa tesis sekulerisme penghapusan agama itu salah. Justru yang sebenarnya, agama itu malah suatu kebutuhan di zaman modern ini.
 

Kemajemukan
Kedua, kemajemukan. Sedikit back ground, kadang-kadang orang Barat itu mempunyai kesan yang salah bahwa merekalah yang menemukan masyarakat majemuk. Sebelum Barat tidak ada masyarakat yang majemuk. Masyarakat majemuk hanya di Barat. Ternyata kemudian ada satu gagasan baru dan kami harus menyesuaikan diri dengan itu. Tentang masyarakat majemuk, kalau kita membandingkan antara dunia Barat dan dunia Muslim, apalagi dengan Indonesia, kita lihat bahwa asumsi itu sangat keliru.

Pluralisme pada zaman modern semakin berkembang. Tapi itu tidak diawali di Barat dan baru kemudian negara Muslim, apalagi Indonesia. Negara Barat seperti Jerman, Prancis itu homogen: hanya satu, dua etnis saja. Kemajemukan etnis dan agama itu pun sulit diterima sampai kini. Orang Muslim di Prancis mau berjilbab? Di sana tidak ada toleransi karena jilbab tidak boleh ada di sekolah dan di tempat umum. Jadi di Prancis pun masih ada problem dengan pluralisme. Padahal, pluralisme itu adalah ciri umum pada zaman modern. Zaman modern semakin pluralis, semakin ada gaya hidup, gagasan, dan ilmu baru yang harus diteliti dan berkembang terus.

Jika kita masih pegang keimanan itu dan harus kita terapkan secara praktis dan teliti maka kita harus bisa belajar dengan menggunakan ilmu bagaimana cara menghadapi pluralisme secara benar. Untuk itu kita harus memperbaharui kultur kita, dalam artian kita tidak mengganti agama tapi tafsiran, praktiknya. Dan itu harus (dilakukan) terus menerus karena semakin modern, semakin pluralis dunia, bukan hanya masalah agama dan etnis saja tapi juga seluruh ciri kehidupan sosial.

Maka perlu disimpulkan bahwa pluralisme merupakan satu ciri pokok dari dunia kita. Dan mungkin, pluralisme tidak hanya menyangkut isu yang gampang seperti etnis dan agama tapi seluruh apa yang menyangkut kehidupan kita. Dan untuk menghadapi pluralisme itu kita tidak bisa kembali kepada bahasa baku atau mapan, tapi harus mengembangkan ilmu pengetahuan baik di kehidupan sehari-hari maupun di meja belajar, kita terus gali tradisi agama di lingkungan masing-masing, menemukan dan menciptakan tafsiran yang betul dan mampu menghadapi pluralisme yang sedemikian rumit.
 

Pendidikan
Ketiga, menyangkut pendidikan. Jika tadi saya jelaskan tentang pluralisme yang merupakan tantangan yang paling berat untuk masyarakat modern. Hal ketiga yang paling layak, efisien, dan paling punya makna dalam menghadapi pluralisme dalam artian luas adalah pendidikan.

Dalam hal ini, kita sebagai ummat manusia harus diingatkan, belajar dari sesama manusia. Kalau orang Muslim, mungkin dalam “tanda kutip” disebut sebagai orang Muslim modern, kadang-kadang tidak diterima di luar Indonesia, seperti di Mesir yang mungkin punya konotasi yang berbeda. Tapi tidak apa-apa, yang penting ciri-ciri modernis muslim Indonesia adalah adanya suatu keberanian untuk belajar dari pengalaman-pengalaman dan peradaban lain. Hal itu tidak berarti meniru atau menerima begitu saja, tapi diambil yang baik dan menolak yang tidak baik.

Dalam hal ini, malam ini, dalam hal ini yang paling berkesan adalah di Al-Zaytun. Menyangkut isu Al-Zaytun, kita melihat suatu percobaan meneruskan jiwa, semangat dan perjuangan klasik modernis. Hal itu malah mungkin (bisa) menyegarkan jiwa modernisme karena bisa dalam berbagai hal.

 

Di mana-mana, baik modernisme di Barat maupun modernisme Islam itu bisa beku, menjadi tradisional bahkan bisa sedikit lelah karena seperti manusia kalau menjadi tua, sudah cape tidak mau menggali dan mengembangkan gagasannya lagi.

 

Tapi di Al-Zaytun, yang saya amati hari ini, khususnya Pak Panji Gumilang, hal yang betul-betul menggembirakan adalah bahwa jiwa modernis itu diperbaharui, diperbesar dan diterapkan di bidang yang mungkin untuk orang lain, baik muslim maupun nonmuslim. Agak mengherankan saya. Kok ada peternakan yang mencoba mengembangkan teknologi yang canggih tapi ada upaya yang menyangkut upaya untuk membentuk suatu kultur yang damai, yang sesuai dengan tantangan pokok pada zaman ini.

Di negara-negara di dunia, tantangan pluralisme itu sejak dulu sudah ada. Di peradaban Islam ada ajaran toleransi, tetapi belum berarti semua orang Muslim toleransi. Toleransi juga ada di Kitab Kristen, tapi di negara Kristen pada abad XX ada suatu penyembelihan massa terbesar yaitu PD II.

 

Dan sebelumnya, orang yang disebut Kristen keluar dari Eropa barat dan menjajah ke seluruh dunia termasuk juga dunia Muslim. Kita lihat pengalaman itu, apakah ada jiwa egaliter? Kadang-kadang, ada seorang yang menggagas egaliter, demokrasi, dan freedom tapi praktiknya lain. Kita harus bersifat kritis dan menghadapinya. Itulah jiwa modernis. Maka harus ada upaya modernisasi, tapi bukan memperbaharui agama Islam. Tapi memperbaharui pendidikan agar sesuai dengan tantangan kita.

Saya kira itu bagus, kita yang datang dari luar Al-Zaytun memang baik datang ke Al-Zaytun supaya kami diingatkan bahwa di sini dan beberapa tempat lain Indonesia ada orang yang meneruskan dan menggalakkan jiwa modernis dan memperbaharui sistem pendidikan untuk menghadapi tantangan pluralisme yang begitu majemuk dan rumit.

 

Saya salut kepada Bapak A.S. Panji Gumilang dan kepada saudara-saudara Al-Zaytun. Saya berdo’a atas upaya Anda yang begitu cemerlang bisa berhasil karena keberhasilan itu dibutuhkan Indonesia. Tapi tidak hanya Indonesia, juga dunia kita karena dunia kita penuh tantangan dan konflik. Saya kira Al-Zaytun dengan dipimpin Pak Panji Gumilang telah memberikan kita pelajaran dan juga alat menghadapi tantangan ini.

Cukup sekian, saya ucapkan terima kasih kepada Pak Panji Gumilang atas undangan ini dan kesempatan bagi saya melihat dari dekat institusi yang penting dan begitu segar: pesantren Al-Zaytun. ►Caramah Umum di Mahad Al-Zaytun, pada 6 Januari 2005.

 

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)