A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Makalah
 ► Galeri
 ► Link
 ► Al-Zaytun
 ► Tokoh Dunia
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 01032005  
   
  ► e-ti/maz  
  Nama:
Prof. Dr. Robert W. Hefner

- Peneliti dalam Program Agama dan Demokrasi untuk Institute for Religion and World Affairs (IRWA) di Boston University
 
     
 
HEFNER HOME

 

Prof. Dr. Robert W. Hefner

Peneliti Islam Indonesia

Guru Besar Antropologi Universitas Boston, Amerika Serikat yang fasih berbahasa Indonesia, Jawa dan Perancis, ini sejak tahun 1977, rajin bolak-balik Amerika-Indonesia. Dia mengajar sebagai dosen tamu di Universitas Gajah Mada (UGM) sambil terus giat melakukan penelitian-penelitian. Ia dikenal mempunyai pengetahuan yang luas tentang Islam dan Indonesia.

 

Prof. Dr. Robert W. Hefner

Agama, Kebutuhan Zaman Modern

Menurut Prof. Dr. Robert W. Hefner, tesis sekulerisme penghapusan agama (bahwa semakin modern masyarakat semakin sekuleris) itu salah. Justru sebenarnya, agama itu malah suatu kebutuhan di zaman modern ini. Dalam ceramah umumnya di Al-Zaytun, ia juga menyebut pluralisme merupakan satu ciri pokok dari dunia kita. Pluralisme tidak hanya menyangkut isu etnis dan agama tapi menyangkut seluruh kehidupan kita.

 

 

 

     

 

 

Prof. Dr. Robert W. Hefner

Pesantren Pusat SDM Nasional

Pesantren merupakan suatu sumber daya manusia yang sangat perlu digarap dengan baik. Baik oleh para kiai maupun para pegawai nasional. Karena itu merupakan suatu pusat SDM yang sangat dibutuhkan oleh nasional. Hal itu dikemukakan Prof. Dr. Robert W. Hefner dalam wawancara dengan jurnalis Al-Zaytun, ketika Professor Anthropologi di Boston University, itu berkunjung ke Ma'had Al-Zaytun, 6 Januari 2005.

     

Prof. Dr. Robert W. Hefner

September 11 and the Struggle for Islam

Six hundred years ago the great Arab historian, Ibn Khaldun, observed that popular religion in Muslim societies tends to oscillate between periods of strict religious observance and others of devotional laxity. An astute observer of social life, Khaldun (1958) attributed this cultural cycle to features of ecology and social organization peculiar to the Middle East.