| WAWANCARA |
|
|
 |
Prof. Dr. Robert W. Hefner
Pesantren Pusat SDM Nasional
Pesantren merupakan suatu sumber daya manusia yang sangat perlu digarap
dengan baik. Baik oleh para kiai maupun para pegawai nasional. Karena itu
merupakan suatu pusat SDM yang sangat dibutuhkan oleh nasional. Hal itu
dikemukakan Prof. Dr. Robert W. Hefner dalam wawancara dengan jurnalis Al-Zaytun,
ketika Professor Anthropologi di Boston University, itu berkunjung ke
Ma'had Al-Zaytun, 6 Januari 2005.
Menurutnya, MAZ menjadi bagian dari salah satu lokomotif perubahan bagi
terciptanya visi dan misi pesantren sebagai pusat pengembangan SDM di
samping lembaga lain seperti NU, Nahdlatul Wahdah, Dewan Dakwah wal Irsyad
dan lain-lain. Berikut petikan wawancara dengan peneliti Islam Indonesia
itu:
Bisa diceritakan seperti apa pendidikan di Amerika?
Sebetulnya pendidikan di Amerika mempunyai suatu ciri yang sangat
menonjol bahwa di satu pihak ada program-program pendidikan yang sangat
canggih kualitasnya, sangat bagus, tapi di lain pihak ada daerah: kota dan
desa di mana kualitas sistem pendidikannya sangat minim. Kenyataan ini
mencerminkan bahwa di Amerika tidak ada sistem pendidikan nasional, tapi
diurus pada tingkat lokal saja, misalnya pada tingkat kota atau desa.
Dengan akibat, bahwa kadang kualitas sumber daya manusia dari hasil
pendidikan bisa baik sekali tapi bisa juga tidak.
Untuk menjembatani supaya mutu pendidikan di desa dan di kota bisa
balance (seimbang) bagaimana?
Harus ada kerja sama yang erat dan juga ada niat dari masyarakat sendiri.
AS, walau seolah-olah dari luar tampaknya monolit tapi sebetulnya sejarah
AS cukup majemuk dengan akibat ada daerah di mana sebagian besar
masyarakat mendukung peningkatan kualitas pendidikan di daerah lain, dan
ada orang yang tidak begitu peduli. Ini suatu hal yang sering
diperdebatkan. Tapi di satu pihak, sistem Universitas (perguruan tinggi,
red) di AS di luar dari keadaan itu karena universias di AS mendapat
subsidi dari pemerintah. Jauh lebih baik dari SMA, SMP atau SD. Akibatnya
kualitas universitas-universitas di AS lebih sama rata.
Bagaimana akses pendidikan bagi pelajar-pelajar muslim di Amerika
selama konflik yang melanda antara Barat dengan beberapa negara di Timur
Tengah?
Ada beberapa hal dan kita harus membedakan antara pelajar-pelajar muslim
dan penerimaan terhadap mereka di Amerika, kemudian praturan yang
diterapkan untuk tamu dari luar negeri. Menurut pengalaman saya, karena
saya memiliki banyak teman muslim baik dari dalam negeri maupun dari luar,
sebetulnya sebagian besar dari masyarakat apalagi di tingkat universitas
tidak hanya ramah menerima orang muslim, malah mereka mau membela supaya
pelajaran mereka tidak terganggu.
Memang betul kalau seseorang dari negara muslim mau berkunjung ke sana
ada jumlah hal yang harus dilewati. Sekarang lebih banyak, tidak seperti
tiga tahun lalu. Dengan akibat apa? Di Amerika pun, bahwa orang seperti
saya yang bekerja di univesitas sejak dulu mengeluarkan statement bahwa
peraturan yang begitu ketat jangan diterapkan, karena tidak ada satu orang
mahasiswa muslim pun yang pernah ditangkap atau dituduh terlibat dalam
masalah teroris atau politik.
Jadi menurut saya untuk rekan-rekan yang mengurus peraturan
keimigrasian, khusus bagi para pelajar atau mahasiwa Indonesia lebih baik
dicabut, atau kalau masih diterapkan harus disamaratakan untuk semua orang.
Jangan dibedakan antara kaum muslim dan non muslim.
Lalu di Amerika apakah ada pembatasan pemakaian busana seperti jilbab
seperti yang terjadi di Prancis dan Jerman, misalnya?
Tidak ada pembatasan seperti itu Amerika. Tidak seperti di Perancis dan
Jerman. Di AS, jilbab bisa diterima dan itu bagian dari pada agama Islam.
Jadi kalau mau pakai jilbab silahkan saja. Karena salah satu keistimewaan,
kalau boleh saya ungkapkan, bahwa orang Amerika adalah orang yang agamis
sedangkan orang Perancis tidak. Dalam arti, sebagian besar orang Amerika
punya agama dan mereka memeluk agama mereka secara cukup baik.
Apakah dengan kata lain Amerika lebih demokratis dibandingkan Perancis
dan Jerman?
Mudah-mudahan, tapi yang lebih pokok lagi mereka menganggap bahwa beragama
itu adalah hak seseorang. Dan kalau seorang muslim atau muslimat itu
menganggap bahwa jilbab itu wajib, ya silahkan saja. Tidak ada masalah dan
tidak ada peraturan yang melarang pemakaian jilbab. Malah banyak orang di
sana mendukung dan mau membela hak muslim di satu negara seperti Perancis,
yaitu orang Amerika yang menganggap larangan terhadap jilbab bagi
pelajar-pelajar SMP dan SMA di Perancis itu tidak hanya bertentangan
dengan demokrasi tapi juga bertentangan dengan HAM. Menurut saya begitu.
Selain Indonesia, negara mana saja yang pernah anda singgahi di Asia
Tenggara ini?
Saya pernah ke Malaysia, Singapura dan Muangthai.
Sejauh mana pandangan anda tentang komunitas pelajar muslim di Asia?
Sangat maju, kalau orang Malaysia dibadingkan dengan orang Indonesia
sedikit berbeda meskipun dalam kultur peradaban sesama melayu. Dalam arti
luas, orang melayu seperti Jawa, Aceh itu orang melayu semua. Tapi akibat
sistem penjajahan yang tidak parah seperti di Malaysia, dalam arti orang
Inggris lebih ingin memberikan fasilitas untuk pendidikan. Walaupun mereka
tidak baik, tapi lebih baik dari Belanda.
Akibat itu sistem pendidikan Malaysia dari awal kemerdekaan lebih bagus
dari Indonesia. Dan kalau muslim di Philipina lain lagi, mereka dari
beberapa sudut bisa dianggap dari peradaban Melayu juga tapi sebenarnya
terpisah juga. Kalau dulu orang muslim Jawa bisa bahasa melayu tapi
sebagian besar kaum muslim di Philipina belum bisa bahasa melayu. Mereka
tidak memiliki sastra muslim.
Ada sebagian dari adat istiadat Islam yang mirip, tapi garis besar umat
muslim di Philipina berbeda. Juga tradisi kesukuan lebih kuat dibanding di
Malaysia atau di Indonesia sehingga muslim Philipina itu sendiri kalau mau
melawan pemerintahan Philipina sulit untuk bersatu karena ada perpecahan
etnis. Jadi kesan saya terhadap kaum muslim di Asia tenggara adalah bahwa
mereka cukup majemuk walaupun tradisi Nusantara yaitu Islam peradaban
melayu Indonesia merupakan salah satu aliran terbesar dan terpenting di
dunia.
Berapa banyak pesantren di Indonesia yang telah anda kunjungi?
Kurang tahu saya, mungkin ada 70 an.
Pandangan Anda terhadap pesantren?
Pesantren merupakan suatu sumber daya manusia yang sangat perlu digarap
dengan baik. Baik oleh para kiai maupun para pegawai nasional. Karena itu
merupakan suatu pusat SDM yang sangat dibutuhkan oleh nasional. Seperti
yang saya tegaskan tadi, bahwa pendidikan merupakan tantangan yang paling
berat untuk kemajuan suatu masyarakat.
Anda katakan pendidikan merupakan satu-satunya jawaban untuk mengatasi
pluralisme. Kita tahu bahwa ada juga tokoh kejahatan kemanusiaan yang mana
dia itu bukan orang yang tidak pernah mengenyam pendidikan, contohnya Dr.
Azahari yang saat ini masih diburu oleh aparat keamanan. Bagaimana
pendapat Pak Bob?
Sebagian, itu hanya sebagian kecil, tapi kalau kita membaca sejarah orang
Lamongan misalnya, kalau memang betul mereka itu terlibat di Bali, saya
tidak mau membenarkan atau menolak, tapi pada awalnya mereka sendiri
mengakui dan malah bangga bahwa mereka itu terlibat dalam bom Bali.
Kalau saya lihat komentar mereka yang sempat saya baca di pers, kesan
saya ini orang yang salah menafsirkan agama Islam. Tapi yang kedua,
sederhana sajalah, saya katakan bahwa ini orang yang tidak begitu terdidik.
Memang di antaranya ada yang pernah sampai SMA dan sebagainya tapi kalau
melihat cara penafsiran mereka, mereka itu tidak terdidik dalam agama
Islam. Dan juga secara pribadi tidak terdidik secara tutoril. Mereka,
menurut saya malah agak kaku, tapi juga terlalu kolot betul, seolah-olah
penafsiran mereka dalam politik Islam merekalah yang paling benar.
Bagaimana dengan pendidikan modern, sedangkan kita tahu terjadi juga
Perang Dunia II dengan kerusakan luar biasa, seperti dijatuhkannya bom
atom di Hiroshima dan Nagasaki?
Kalau pendidikan modern dan ilmu pengetahuan modern itu sangat canggih,
sangat berdaya dan sekaligus juga sangat berbahaya. Itulah sebabnya kalau
teknologi itu harus diseimbangkan dengan nilai-nilai etis, nilai-nilai
agama. Tanpa itu teknologi betul-betul bisa merusakkan alam dan umat
manusia. Jadi teknologi saja tidak cukup, harus ada pendidikan moril,
pendidikan agama, dan pendidikan etis.
Tanpa itu, orang akan cepat keliru. Lihatlah di Barat, saya lahir tahun
1952, tujuh tahun sebelum itu orang Barat yang mau dianggap sebagai orang
yang paling beradab dan sebagainya melaksanakan perang yang paling parah.
Dua puluh juta korban di Eropa saja dengan menggunakan teknologi canggih
untuk penyembelihan massal. Nah, tanpa nilai-nilai moral teknologi bisa
sangat cepat menghancurkan.
Di Amerika, bagaimana caranya menciptakan pendidikan yang seimbang
antara pendidikan moril dan teknologi seperti tadi?
Tidak gampang juga, dan ini salah satu hal yang sering diperdebatkan
belakangan ini karena ada orang di Amerika yang sangat sekularis, malah
ada orang yang menolak agama dalam bentuk apapun, walau mereka minoritas.
Dalam hal ini Amerika berbeda dengan Perancis. Tapi perdebatan itu
berlangsung terus. Malah tidak hanya berdebat, juga tindakan.
Komentar orang sekularis itu juga disebabkan oleh pemakaian agama untuk
kepentingan politik. Kalau agama di politisir secara kasar, kalau politik
harus ada memang agama karena itu nilai, tapi tidak berarti tiap pemakaian
agama untuk kepentingan politik baik, karena itu bisa disalahgunakan. Hal
itu pernah terjadi juga di AS, dengan akibat munculnya clash nilai atau
benturan peradaban.
Mengapa persoalan pluralisme terjadi juga di Eropa?
Salah satu ciri dunia modern adalah pluralisme dan itu mencerminkan
kenyataan. Kalau dulu sebagian besar dari masyarakat tertutup, sekarang
semakin modern dengan semakin tercapainya mobilitas. Mereka menjadi sering
mengunjungi daerah-daerah lain, tinggal di daerah baru.
Kalau dulu orang tinggal hanya sebatas satu kelompok satu daerah,
sekarang tidak mungkin hidup seperti itu. Seperti orang Kristen di
Perancis atau di Inggris, sekarang mereka tidak mungkin menutupi negaranya
menolak kedatangan orang non-kristen. Itu contoh, jadi ciri utama
modernitas itu adalah mobilitas. Ada mobilitas sosial, mobilitas manusia
dan mobilitas informasi. Kalau dulu, sulit untuk bergaul dengan orang luar
negeri atau orang yang agamanya berbeda.
Sekarang tidak, masuk internet, bisa beli koran, di mana-mana ada
sirkulasi gagasan, sirkulasi mobilitas ide dan lain lain. Orang tidak
mungkin hidup dalam masyarakat homogen yang maunya tertutup. Memang, bisa
saja punya pendapat orang yang berbeda dengan saya akan saya bunuh, ada
yang bersikap seperti itu, boleh saja. Tapi cara yang lebih pandai dan
lebih adil dan lebih agamis adalah menghadapi kemajemukan dengan jiwa
besar, jiwa pluralis, dan jiwa toleran. Dan untuk itu perlu ada pendidikan.
Ada yang beranggapan agama dan ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang
bertentangan, bagaimana tanggapan Pak Bob? Apakah kita harus membangun
persepsi untuk menyamakan langkah bahwa agama dan ilmu pengetahuan
merupakan satu kesatuan?
Bukan suatu kesatuan tapi satu pasangan, karena metodologi agama dan
metodologi ilmu pengetahuan beda. Jadi kalau saya melaksanakan penelitian,
itu mungkin diwarnai oleh nilai-nilai agama, tapi pendekatan penelitian
itu tidak ada dalam kitab. Namun kitab mungkin membenarkan mengesahkan
pencarian ilmu seperti waktu Nabi Muhammad menyuruh agar muslim kalau
perlu pergilah ke Cina untuk menuntut ilmu.
Itu sikap yang benar, tapi dari metodologi beda. Akibat itu, bahan yang
ditemukan di dua bidang bisa kadang-kadang seperti bertentangan. Tapi itu
kan masalah tafsir, bukan masalah kebenaran. Kalau agaknya berbeda itu
berarti tafsirannya yang harus digali lagi secara lebih dalam.
Apa pendapat Pak Bob, tentang kurikulum pendidikan yang diterapkan di
MAZ?
Saya kira kurikulum terpadu macam ini merupakan percobaan atau ujicoba
yang sudah lama dibutuhkan di pesantren. Sebetulnya ada percobaan awal
seperti di Gontor. Tapi kalau saya membandingkan apa yang dilaksanakan di
sini, saya kira ambisi kurikulum tepadu di MAZ lebih berani dan lebih
dalam. Tapi itu harus dikerjakan, gampang untuk mengatakan, “Oh... ini
baik”, tapi pendidikan itu kadang-kadang sulit. Dan saya kira pendidikan
terpadu demikian juga. Kita jadikan ini tantangan, tidak hanya di MAZ tapi
juga di mana-mana. Kita mencari pendidikan yang bermoril tapi juga berilmu.
MAZ bercita-cita menerapkan toleransi dan perdamaian, apa komentar Pak
Bob?
Saya sangat setuju dengan nilai-nilai itu. Apa yang saya sampaikan dalam
ceramah pendek saya tadi adalah bahwa nilai-nilai itu mencerminkan dan
menanggapi suatu kenyataan saat ini yaitu pluralisme, kemajemukan dengan
jiwa yang besar. Dunia yang majemuk itu terancam kekerasan terus menerus.
Untuk menjawab masalah pluralisme itu pendidikan yang bagaimana yang
diperlukan?
Seperti tadi, pendidikan itu tidak boleh hanya ilmu pengetahuan dan
teknologi canggih saja. Harus ada dua jalur: yaitu pendidikan ilmu
pengetahuan yang sejalan dengan pendidikan moril. Dan pendidikan moril itu
tidak boleh kaku, harus longgar. Maksudnya harus ada penggalian yang lebih
dalam. Yang saya lihat di MAZ ini sebagai pendidikan percobaan, saya kira
sudah ada penggalian yang lebih dalam. Dan akibatnya akan lebih mampu
menghadapi tantangan dunia modern.
Kapan Pak Bob pertama kali datang ke di Indonesia?
Tahun 1977. Pada waktu itu persiapan untuk penelitian di Jawa Timur
sekitar tiga bulan, kemudian tahun 1978 selama dua bulan.
Dibiayai oleh pemerintah AS?
Ya, dibiayai oleh lembaga ilmu pengetahuan AS, National Science
Foundation.
Pada saat itu apa yang ingin digali untuk diketahui?
Saya meneliti proses islamisasi di Jawa Timur dari sudut kultur dan
sosiologi tapi saya juga memakai kacamata yang berbeda. Saya juga meneliti
ekonomi pedesaan. Jadi ada jalur penelitian agama dan ada jalur penelitian
ekonomi, politik dan perubahan sosial.
Selain sebagai peneliti kapasitas Pak Bob di Indonesia ini?
Maksudnya?
Pernah mengajar misalnya?
Ooo... ya. Saya pernah mengajar di Jawa Timur selama dua setengah bulan
kemudian di UGM mengajar selama dua minggu secara intensif. Empat jam per
hari selama enam hari per minggu selama dua minggu. Itu tahun 1978 sampai
1980.
Mengajar apa?
Di jurusan Antropologi. Tapi fokusnya agama Islam dan masyarakat Jawa
dalam tinjauan antropologis.
Aktivitas Pak Bob sekarang?
Tahun 1985 saya kembali lagi ke Jawa Timur tapi juga berafiliasi dengan
UGM, saya sering di UGM. Kemudian tahun 1991 sampai 1998 saya tidak
menetap tapi datang tiap tahun selama satu bulan dan melakukan riset di
Jakarta: di kalangan muslim tentang beberapa hal tentang Islam dan
perubahan sosial di kalangan elit.
Jadi saya pada waktu itu meneliti ICMI misalnya jadi kenal Pak Habibie,
Cak Nur dan beberapa lagi. Tahun 1999 saya kembali lagi mengajar di
Fakultas Sospol UGM tapi juga melakukan riset tentang pluralisme atas
kerjasama dengan dua orang yaitu Rizal Panggabean dari UGM dan Mokhtar
Mesu. Pak Rizal orang Muhammadiyah dan Pak Mokhtar orang independen
berlatar belakang NU tapi berafiliasi lebih ke Muhammadiyah. Sejak tahun
1999 saya kembali tiap tahun tapi dalam rangka tugas. Saya pernah ke sini
atas kerjasama dengan Departemen Luar Negeri AS dan departemen Agama RI.
Tahun lalu saya datang sebagai sarjana senior dari State Departement dan
mengunjungi pesantren di Indonesia.
Dari hasil penelitian Pak Bob selama ini, bagaimana sebenarnya
karakteristik muslim Indonesia itu?
Sangat majemuk. Kalau muslim di mana-mana ada satu keimanan yang sama,
kurang lebih tafsirannya kadang berbeda, kultur berbeda-beda lagi, karena
Islam juga seperti Kristen dan Hindu: sangat majemuk secara sosial bukan
secara keimanan atau akidah. Itulah sebabnya orang sesama muslim
kadang-kadang bertentangan. Kalau di Pakistan dan Mesir, misalnya,
tafsirannya yang berbeda dan tata cara sosial yang berbeda. Kalau di
Indonesia, salah satu ciri yang yang saya lihat adalah bahwa sejak dulu
orang Indonesia sudah terbiasa dengan kemajemukan.
Sampai Indonesia dibandingkan dengan negara-negara muslim yang lain
sebetulnya kemajemukan itu tidak menjadi masalah yang terlalu berat. Di
Indonesia ada Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama dan Persis tapi tak pernah ada
kles seperti Singh dan Suni di Pakistan yang sampai kini belum beres. Itu
sangat tidak beradab. Itu satu aliran kecil di Pakistan, tapi walau kecil
tapi merusakkan masyarakat mereka sendiri. Jelas Indonesia pernah
mengalami krisis politik tapi krisis yang diakibatkan oleh kemajemukan
muslim tidak.
Tesis Pemerintah AS sendiri terhadap muslim Indonesia seperti apa?
Ada harapan yang besar.
Setelah kemarin agaknya pemerintah AS menyoroti muslim Indonesia agak
negatif dengan adanya berbagai kasus yang terjadi?
Saya tidak membela pemerintah AS, karena saya bukan wakil pemerintah AS,
tapi kalau saya mengamati sikap pemerintah AS terhadap Indonesia ada
harapan besar bahwa Indonesia yang mempunyai SDM dan kultur supaya
masyarakat muslim di sini bisa berkembang dengan baik: punya jiwa pluralis,
toleran dan demokrat. Ada harapan Indonesia berkembang sebagai negara
demokrasi dengan mayoritas muslim. Itu memang harapannya. Itu memang beban.
Mungkin terlalu berat buat orang Indonesia, tapi itulah harapannya.
Pendidikan pesantren sendiri, menurut Pak Bob, pada umumnya mampu atau
tidak menjawab tiga hal yang Pak Bob maksudkan dalam ceramah tadi?
Fasilitas yang dimiliki ummat Islam itu berbeda di tiap wilayah. Itu bukan
masalah Islam tapi masalah sarana sosial. Ada sebagian yang cukup besar
dalam masyarakat muslim di Indonesia ini yang perlu diberikan kesempatan
yang cukup untuk pendidikan. Itu bukan masalah penindasan, itu masalah
ekonomi dan sejarah saja.
Tapi itulah yang perlu ada perjuangan terus menerus untuk meningkatkan
kualitas pendidikan di Indonesia pada umumnya, termasuk di dalamnya
kalangan muslim. Jadi untuk menjawab pertanyaan itu, akibat sejarah dan
kemiskinan sebagian dari ummat Islam masih perlu garap dengan baik. Harus
ada prakarsa inisiatif baik dari masyarakat maupun pemerintah agar
terutama pendidikannya semakin baik. Kesempatan untuk mengenyam pendidikan
harus diberikan kepada seluruh muslim Indonesia. Nah semakin terdidik
masyarakat akan semakin mampu mereka menghadapi berbagai masalah.
Menurut Bapak, MAZ mampu tidak menjadi lokomotif perubahan bagi
terciptanya visi dan misi pesantren yang bapak jelaskan tadi?
Ya, tapi lokomotifnya harus lebih dari satu. Tapi pendek kata iya. MAZ
menjadi bagian dari salah satu lokomotif tapi karena ada beberapa jalur,
ada NU ada Nahdlatul Wahdah, ada Dewan Dakwah wal Irsyad harus ada
beberapa lokomotif. MAZ saya kira ada kesempatan untuk memegang peranan
yang sangat bermakna. Jadi lokomotif iya.
Pak Bob begitu banyak mengenal tokoh-tokoh penting di Indonesia semacam
Cak Nur, BJ Habibie dan Gusdur. Tentang bencana di Aceh yang
meluluhlantahkan sektor pendidikan di sana hampir 60%. Anda punya strategi
khusus dalam revisi dan rekonstruksi di sana?
Tidak, sebenarnya apa yang telah diselenggarakan pemerintah sudah bagus,
terutama dari sudut apa: pemerintah sangat cepat bertindak dalam
menggalang kerjasama internasional, tidak pasrah saja malah mengajak
negara-negara lain untuk datang ke sini dan memimpin, mengkoordinir satu
program revisi dan rekontruksi yang multilateral. Itu satu pimpinan yang
cukup bagus.
Nah, Aceh sebagai yang betul-betul hancur itu agak terisolir selama
hari-hari pertama, kita tahu banyak orang-orang yang menderita belum
diberikan bantuan. Saya kira salah bila itu dianggap kesalahan pemerintah
atau siapapun. Itu akibat dari kondisi daerah dan wilayah. Tapi setelah
beberapa hari sudah mulai terlihat ada koordinasi yang efektif, malah
sangat bagus tidak hanya pada tingkat nasional tapi juga tingkat
internasional. Indonesia tidak pasrah, malah memimpin dan mengkordinir
program multilateral itu: untuk rekonstruksi Aceh dan juga rekonstruksi
wilayah-wilayah di Asia yang lain yang terkena bencana Tsunami.
Pandangan pak Bob sendiri dalam rekontruksi pendidikan di Aceh?
Seperti yang saya sampaikan tadi, bahwa kita hidup dalam dunia global yang
di dalamnya suatu kerjasama multilateral sangat dibutuhkan. Manusia
mempunyai banyak sumber daya manusia, sumber daya modal tapi untuk
memanfaatkan sumber daya tersebut harus ada kolaborasi antara lintas
bangsa, lintas masyarakat. Dari pada kita hanya memikirkan benturan
peradaban. Realitas yang umum sekarang ini adalah kerjasama peradaban.
Itulah kenyataan modern kita.
Terakhir, tadi Pak Bob telah disematkan pin-pin MAZ dan oleh pimpinan
kami telah dinyatakan sebagai pemilik MAZ. Apa langkah yang akan Pak Bob
ambil ke depan sebagai pemilik MAZ?
Ha...ha...ha... Saya berharap bisa kembali lagi ke sini dan berbalas
kebaikan hati dengan berkunjung lagi ke sini. Mudah-mudahan dengan
pemberian ceramah dan tukar menukar rohani. Dan di luar itu saya harap
diberi kesempatan untuk menyampaikan pesan yang sedikit lebih akurat
tentang kultur dan misi MAZ. ► Tim AL-ZAYTUN
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|