A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Makalah
 ► Galeri
 ► Link
 ► Tokoh Dunia
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 01032005  
   
  ► e-ti/maz  
  Nama:
Prof. Dr. Robert W. Hefner

Pekerjaan:
- Professor Anthropologi di Boston University
- Associate Director of the Institute on Culture, Religion and World Affairs (CURA)
- Peneliti dalam Program Agama dan Demokrasi untuk Institute for Religion and World Affairs (IRWA) di Boston University
 
 
     
 
WAWANCARA

 

Prof. Dr. Robert W. Hefner

Pesantren Pusat SDM Nasional

 

Pesantren merupakan suatu sumber daya manusia yang sangat perlu digarap dengan baik. Baik oleh para kiai maupun para pegawai nasional. Karena itu merupakan suatu pusat SDM yang sangat dibutuhkan oleh nasional. Hal itu dikemukakan Prof. Dr. Robert W. Hefner dalam wawancara dengan jurnalis Al-Zaytun, ketika Professor Anthropologi di Boston University, itu berkunjung ke Ma'had Al-Zaytun, 6 Januari 2005.

 

Menurutnya, MAZ menjadi bagian dari salah satu lokomotif perubahan bagi terciptanya visi dan misi pesantren sebagai pusat pengembangan SDM di samping lembaga lain seperti NU, Nahdlatul Wahdah, Dewan Dakwah wal Irsyad dan lain-lain. Berikut petikan wawancara dengan peneliti Islam Indonesia itu:
 

Bisa diceritakan seperti apa pendidikan di Amerika?
 

Sebetulnya pendidikan di Amerika mempunyai suatu ciri yang sangat menonjol bahwa di satu pihak ada program-program pendidikan yang sangat canggih kualitasnya, sangat bagus, tapi di lain pihak ada daerah: kota dan desa di mana kualitas sistem pendidikannya sangat minim. Kenyataan ini mencerminkan bahwa di Amerika tidak ada sistem pendidikan nasional, tapi diurus pada tingkat lokal saja, misalnya pada tingkat kota atau desa. Dengan akibat, bahwa kadang kualitas sumber daya manusia dari hasil pendidikan bisa baik sekali tapi bisa juga tidak.

Untuk menjembatani supaya mutu pendidikan di desa dan di kota bisa balance (seimbang) bagaimana?


Harus ada kerja sama yang erat dan juga ada niat dari masyarakat sendiri. AS, walau seolah-olah dari luar tampaknya monolit tapi sebetulnya sejarah AS cukup majemuk dengan akibat ada daerah di mana sebagian besar masyarakat mendukung peningkatan kualitas pendidikan di daerah lain, dan ada orang yang tidak begitu peduli. Ini suatu hal yang sering diperdebatkan. Tapi di satu pihak, sistem Universitas (perguruan tinggi, red) di AS di luar dari keadaan itu karena universias di AS mendapat subsidi dari pemerintah. Jauh lebih baik dari SMA, SMP atau SD. Akibatnya kualitas universitas-universitas di AS lebih sama rata.

Bagaimana akses pendidikan bagi pelajar-pelajar muslim di Amerika selama konflik yang melanda antara Barat dengan beberapa negara di Timur Tengah?


Ada beberapa hal dan kita harus membedakan antara pelajar-pelajar muslim dan penerimaan terhadap mereka di Amerika, kemudian praturan yang diterapkan untuk tamu dari luar negeri. Menurut pengalaman saya, karena saya memiliki banyak teman muslim baik dari dalam negeri maupun dari luar, sebetulnya sebagian besar dari masyarakat apalagi di tingkat universitas tidak hanya ramah menerima orang muslim, malah mereka mau membela supaya pelajaran mereka tidak terganggu.

 

Memang betul kalau seseorang dari negara muslim mau berkunjung ke sana ada jumlah hal yang harus dilewati. Sekarang lebih banyak, tidak seperti tiga tahun lalu. Dengan akibat apa? Di Amerika pun, bahwa orang seperti saya yang bekerja di univesitas sejak dulu mengeluarkan statement bahwa peraturan yang begitu ketat jangan diterapkan, karena tidak ada satu orang mahasiswa muslim pun yang pernah ditangkap atau dituduh terlibat dalam masalah teroris atau politik.

 

Jadi menurut saya untuk rekan-rekan yang mengurus peraturan keimigrasian, khusus bagi para pelajar atau mahasiwa Indonesia lebih baik dicabut, atau kalau masih diterapkan harus disamaratakan untuk semua orang. Jangan dibedakan antara kaum muslim dan non muslim.

Lalu di Amerika apakah ada pembatasan pemakaian busana seperti jilbab seperti yang terjadi di Prancis dan Jerman, misalnya?


Tidak ada pembatasan seperti itu Amerika. Tidak seperti di Perancis dan Jerman. Di AS, jilbab bisa diterima dan itu bagian dari pada agama Islam. Jadi kalau mau pakai jilbab silahkan saja. Karena salah satu keistimewaan, kalau boleh saya ungkapkan, bahwa orang Amerika adalah orang yang agamis sedangkan orang Perancis tidak. Dalam arti, sebagian besar orang Amerika punya agama dan mereka memeluk agama mereka secara cukup baik.

Apakah dengan kata lain Amerika lebih demokratis dibandingkan Perancis dan Jerman?


Mudah-mudahan, tapi yang lebih pokok lagi mereka menganggap bahwa beragama itu adalah hak seseorang. Dan kalau seorang muslim atau muslimat itu menganggap bahwa jilbab itu wajib, ya silahkan saja. Tidak ada masalah dan tidak ada peraturan yang melarang pemakaian jilbab. Malah banyak orang di sana mendukung dan mau membela hak muslim di satu negara seperti Perancis, yaitu orang Amerika yang menganggap larangan terhadap jilbab bagi pelajar-pelajar SMP dan SMA di Perancis itu tidak hanya bertentangan dengan demokrasi tapi juga bertentangan dengan HAM. Menurut saya begitu.

Selain Indonesia, negara mana saja yang pernah anda singgahi di Asia Tenggara ini?


Saya pernah ke Malaysia, Singapura dan Muangthai.

Sejauh mana pandangan anda tentang komunitas pelajar muslim di Asia?


Sangat maju, kalau orang Malaysia dibadingkan dengan orang Indonesia sedikit berbeda meskipun dalam kultur peradaban sesama melayu. Dalam arti luas, orang melayu seperti Jawa, Aceh itu orang melayu semua. Tapi akibat sistem penjajahan yang tidak parah seperti di Malaysia, dalam arti orang Inggris lebih ingin memberikan fasilitas untuk pendidikan. Walaupun mereka tidak baik, tapi lebih baik dari Belanda.

 

Akibat itu sistem pendidikan Malaysia dari awal kemerdekaan lebih bagus dari Indonesia. Dan kalau muslim di Philipina lain lagi, mereka dari beberapa sudut bisa dianggap dari peradaban Melayu juga tapi sebenarnya terpisah juga. Kalau dulu orang muslim Jawa bisa bahasa melayu tapi sebagian besar kaum muslim di Philipina belum bisa bahasa melayu. Mereka tidak memiliki sastra muslim.

 

Ada sebagian dari adat istiadat Islam yang mirip, tapi garis besar umat muslim di Philipina berbeda. Juga tradisi kesukuan lebih kuat dibanding di Malaysia atau di Indonesia sehingga muslim Philipina itu sendiri kalau mau melawan pemerintahan Philipina sulit untuk bersatu karena ada perpecahan etnis. Jadi kesan saya terhadap kaum muslim di Asia tenggara adalah bahwa mereka cukup majemuk walaupun tradisi Nusantara yaitu Islam peradaban melayu Indonesia merupakan salah satu aliran terbesar dan terpenting di dunia.

Berapa banyak pesantren di Indonesia yang telah anda kunjungi?
 

Kurang tahu saya, mungkin ada 70 an.

Pandangan Anda terhadap pesantren?
Pesantren merupakan suatu sumber daya manusia yang sangat perlu digarap dengan baik. Baik oleh para kiai maupun para pegawai nasional. Karena itu merupakan suatu pusat SDM yang sangat dibutuhkan oleh nasional. Seperti yang saya tegaskan tadi, bahwa pendidikan merupakan tantangan yang paling berat untuk kemajuan suatu masyarakat.

Anda katakan pendidikan merupakan satu-satunya jawaban untuk mengatasi pluralisme. Kita tahu bahwa ada juga tokoh kejahatan kemanusiaan yang mana dia itu bukan orang yang tidak pernah mengenyam pendidikan, contohnya Dr. Azahari yang saat ini masih diburu oleh aparat keamanan. Bagaimana pendapat Pak Bob?


Sebagian, itu hanya sebagian kecil, tapi kalau kita membaca sejarah orang Lamongan misalnya, kalau memang betul mereka itu terlibat di Bali, saya tidak mau membenarkan atau menolak, tapi pada awalnya mereka sendiri mengakui dan malah bangga bahwa mereka itu terlibat dalam bom Bali.

 

Kalau saya lihat komentar mereka yang sempat saya baca di pers, kesan saya ini orang yang salah menafsirkan agama Islam. Tapi yang kedua, sederhana sajalah, saya katakan bahwa ini orang yang tidak begitu terdidik. Memang di antaranya ada yang pernah sampai SMA dan sebagainya tapi kalau melihat cara penafsiran mereka, mereka itu tidak terdidik dalam agama Islam. Dan juga secara pribadi tidak terdidik secara tutoril. Mereka, menurut saya malah agak kaku, tapi juga terlalu kolot betul, seolah-olah penafsiran mereka dalam politik Islam merekalah yang paling benar.

Bagaimana dengan pendidikan modern, sedangkan kita tahu terjadi juga Perang Dunia II dengan kerusakan luar biasa, seperti dijatuhkannya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki?


Kalau pendidikan modern dan ilmu pengetahuan modern itu sangat canggih, sangat berdaya dan sekaligus juga sangat berbahaya. Itulah sebabnya kalau teknologi itu harus diseimbangkan dengan nilai-nilai etis, nilai-nilai agama. Tanpa itu teknologi betul-betul bisa merusakkan alam dan umat manusia. Jadi teknologi saja tidak cukup, harus ada pendidikan moril, pendidikan agama, dan pendidikan etis.

 

Tanpa itu, orang akan cepat keliru. Lihatlah di Barat, saya lahir tahun 1952, tujuh tahun sebelum itu orang Barat yang mau dianggap sebagai orang yang paling beradab dan sebagainya melaksanakan perang yang paling parah. Dua puluh juta korban di Eropa saja dengan menggunakan teknologi canggih untuk penyembelihan massal. Nah, tanpa nilai-nilai moral teknologi bisa sangat cepat menghancurkan.

Di Amerika, bagaimana caranya menciptakan pendidikan yang seimbang antara pendidikan moril dan teknologi seperti tadi?


Tidak gampang juga, dan ini salah satu hal yang sering diperdebatkan belakangan ini karena ada orang di Amerika yang sangat sekularis, malah ada orang yang menolak agama dalam bentuk apapun, walau mereka minoritas. Dalam hal ini Amerika berbeda dengan Perancis. Tapi perdebatan itu berlangsung terus. Malah tidak hanya berdebat, juga tindakan.

 

Komentar orang sekularis itu juga disebabkan oleh pemakaian agama untuk kepentingan politik. Kalau agama di politisir secara kasar, kalau politik harus ada memang agama karena itu nilai, tapi tidak berarti tiap pemakaian agama untuk kepentingan politik baik, karena itu bisa disalahgunakan. Hal itu pernah terjadi juga di AS, dengan akibat munculnya clash nilai atau benturan peradaban.

Mengapa persoalan pluralisme terjadi juga di Eropa?


Salah satu ciri dunia modern adalah pluralisme dan itu mencerminkan kenyataan. Kalau dulu sebagian besar dari masyarakat tertutup, sekarang semakin modern dengan semakin tercapainya mobilitas. Mereka menjadi sering mengunjungi daerah-daerah lain, tinggal di daerah baru.

 

Kalau dulu orang tinggal hanya sebatas satu kelompok satu daerah, sekarang tidak mungkin hidup seperti itu. Seperti orang Kristen di Perancis atau di Inggris, sekarang mereka tidak mungkin menutupi negaranya menolak kedatangan orang non-kristen. Itu contoh, jadi ciri utama modernitas itu adalah mobilitas. Ada mobilitas sosial, mobilitas manusia dan mobilitas informasi. Kalau dulu, sulit untuk bergaul dengan orang luar negeri atau orang yang agamanya berbeda.

 

Sekarang tidak, masuk internet, bisa beli koran, di mana-mana ada sirkulasi gagasan, sirkulasi mobilitas ide dan lain lain. Orang tidak mungkin hidup dalam masyarakat homogen yang maunya tertutup. Memang, bisa saja punya pendapat orang yang berbeda dengan saya akan saya bunuh, ada yang bersikap seperti itu, boleh saja. Tapi cara yang lebih pandai dan lebih adil dan lebih agamis adalah menghadapi kemajemukan dengan jiwa besar, jiwa pluralis, dan jiwa toleran. Dan untuk itu perlu ada pendidikan.

Ada yang beranggapan agama dan ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang bertentangan, bagaimana tanggapan Pak Bob? Apakah kita harus membangun persepsi untuk menyamakan langkah bahwa agama dan ilmu pengetahuan merupakan satu kesatuan?


Bukan suatu kesatuan tapi satu pasangan, karena metodologi agama dan metodologi ilmu pengetahuan beda. Jadi kalau saya melaksanakan penelitian, itu mungkin diwarnai oleh nilai-nilai agama, tapi pendekatan penelitian itu tidak ada dalam kitab. Namun kitab mungkin membenarkan mengesahkan pencarian ilmu seperti waktu Nabi Muhammad menyuruh agar muslim kalau perlu pergilah ke Cina untuk menuntut ilmu.

 

Itu sikap yang benar, tapi dari metodologi beda. Akibat itu, bahan yang ditemukan di dua bidang bisa kadang-kadang seperti bertentangan. Tapi itu kan masalah tafsir, bukan masalah kebenaran. Kalau agaknya berbeda itu berarti tafsirannya yang harus digali lagi secara lebih dalam.

Apa pendapat Pak Bob, tentang kurikulum pendidikan yang diterapkan di MAZ?


Saya kira kurikulum terpadu macam ini merupakan percobaan atau ujicoba yang sudah lama dibutuhkan di pesantren. Sebetulnya ada percobaan awal seperti di Gontor. Tapi kalau saya membandingkan apa yang dilaksanakan di sini, saya kira ambisi kurikulum tepadu di MAZ lebih berani dan lebih dalam. Tapi itu harus dikerjakan, gampang untuk mengatakan, “Oh... ini baik”, tapi pendidikan itu kadang-kadang sulit. Dan saya kira pendidikan terpadu demikian juga. Kita jadikan ini tantangan, tidak hanya di MAZ tapi juga di mana-mana. Kita mencari pendidikan yang bermoril tapi juga berilmu.

MAZ bercita-cita menerapkan toleransi dan perdamaian, apa komentar Pak Bob?


Saya sangat setuju dengan nilai-nilai itu. Apa yang saya sampaikan dalam ceramah pendek saya tadi adalah bahwa nilai-nilai itu mencerminkan dan menanggapi suatu kenyataan saat ini yaitu pluralisme, kemajemukan dengan jiwa yang besar. Dunia yang majemuk itu terancam kekerasan terus menerus.

Untuk menjawab masalah pluralisme itu pendidikan yang bagaimana yang diperlukan?


Seperti tadi, pendidikan itu tidak boleh hanya ilmu pengetahuan dan teknologi canggih saja. Harus ada dua jalur: yaitu pendidikan ilmu pengetahuan yang sejalan dengan pendidikan moril. Dan pendidikan moril itu tidak boleh kaku, harus longgar. Maksudnya harus ada penggalian yang lebih dalam. Yang saya lihat di MAZ ini sebagai pendidikan percobaan, saya kira sudah ada penggalian yang lebih dalam. Dan akibatnya akan lebih mampu menghadapi tantangan dunia modern.

Kapan Pak Bob pertama kali datang ke di Indonesia?


Tahun 1977. Pada waktu itu persiapan untuk penelitian di Jawa Timur sekitar tiga bulan, kemudian tahun 1978 selama dua bulan.

Dibiayai oleh pemerintah AS?


Ya, dibiayai oleh lembaga ilmu pengetahuan AS, National Science Foundation.

Pada saat itu apa yang ingin digali untuk diketahui?


Saya meneliti proses islamisasi di Jawa Timur dari sudut kultur dan sosiologi tapi saya juga memakai kacamata yang berbeda. Saya juga meneliti ekonomi pedesaan. Jadi ada jalur penelitian agama dan ada jalur penelitian ekonomi, politik dan perubahan sosial.

Selain sebagai peneliti kapasitas Pak Bob di Indonesia ini?
 

Maksudnya?

Pernah mengajar misalnya?


Ooo... ya. Saya pernah mengajar di Jawa Timur selama dua setengah bulan kemudian di UGM mengajar selama dua minggu secara intensif. Empat jam per hari selama enam hari per minggu selama dua minggu. Itu tahun 1978 sampai 1980.

Mengajar apa?


Di jurusan Antropologi. Tapi fokusnya agama Islam dan masyarakat Jawa dalam tinjauan antropologis.

Aktivitas Pak Bob sekarang?
 

Tahun 1985 saya kembali lagi ke Jawa Timur tapi juga berafiliasi dengan UGM, saya sering di UGM. Kemudian tahun 1991 sampai 1998 saya tidak menetap tapi datang tiap tahun selama satu bulan dan melakukan riset di Jakarta: di kalangan muslim tentang beberapa hal tentang Islam dan perubahan sosial di kalangan elit.


Jadi saya pada waktu itu meneliti ICMI misalnya jadi kenal Pak Habibie, Cak Nur dan beberapa lagi. Tahun 1999 saya kembali lagi mengajar di Fakultas Sospol UGM tapi juga melakukan riset tentang pluralisme atas kerjasama dengan dua orang yaitu Rizal Panggabean dari UGM dan Mokhtar Mesu. Pak Rizal orang Muhammadiyah dan Pak Mokhtar orang independen berlatar belakang NU tapi berafiliasi lebih ke Muhammadiyah. Sejak tahun 1999 saya kembali tiap tahun tapi dalam rangka tugas. Saya pernah ke sini atas kerjasama dengan Departemen Luar Negeri AS dan departemen Agama RI. Tahun lalu saya datang sebagai sarjana senior dari State Departement dan mengunjungi pesantren di Indonesia.

Dari hasil penelitian Pak Bob selama ini, bagaimana sebenarnya karakteristik muslim Indonesia itu?


Sangat majemuk. Kalau muslim di mana-mana ada satu keimanan yang sama, kurang lebih tafsirannya kadang berbeda, kultur berbeda-beda lagi, karena Islam juga seperti Kristen dan Hindu: sangat majemuk secara sosial bukan secara keimanan atau akidah. Itulah sebabnya orang sesama muslim kadang-kadang bertentangan. Kalau di Pakistan dan Mesir, misalnya, tafsirannya yang berbeda dan tata cara sosial yang berbeda. Kalau di Indonesia, salah satu ciri yang yang saya lihat adalah bahwa sejak dulu orang Indonesia sudah terbiasa dengan kemajemukan.

 

Sampai Indonesia dibandingkan dengan negara-negara muslim yang lain sebetulnya kemajemukan itu tidak menjadi masalah yang terlalu berat. Di Indonesia ada Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama dan Persis tapi tak pernah ada kles seperti Singh dan Suni di Pakistan yang sampai kini belum beres. Itu sangat tidak beradab. Itu satu aliran kecil di Pakistan, tapi walau kecil tapi merusakkan masyarakat mereka sendiri. Jelas Indonesia pernah mengalami krisis politik tapi krisis yang diakibatkan oleh kemajemukan muslim tidak.

Tesis Pemerintah AS sendiri terhadap muslim Indonesia seperti apa?


Ada harapan yang besar.

Setelah kemarin agaknya pemerintah AS menyoroti muslim Indonesia agak negatif dengan adanya berbagai kasus yang terjadi?


Saya tidak membela pemerintah AS, karena saya bukan wakil pemerintah AS, tapi kalau saya mengamati sikap pemerintah AS terhadap Indonesia ada harapan besar bahwa Indonesia yang mempunyai SDM dan kultur supaya masyarakat muslim di sini bisa berkembang dengan baik: punya jiwa pluralis, toleran dan demokrat. Ada harapan Indonesia berkembang sebagai negara demokrasi dengan mayoritas muslim. Itu memang harapannya. Itu memang beban. Mungkin terlalu berat buat orang Indonesia, tapi itulah harapannya.

Pendidikan pesantren sendiri, menurut Pak Bob, pada umumnya mampu atau tidak menjawab tiga hal yang Pak Bob maksudkan dalam ceramah tadi?


Fasilitas yang dimiliki ummat Islam itu berbeda di tiap wilayah. Itu bukan masalah Islam tapi masalah sarana sosial. Ada sebagian yang cukup besar dalam masyarakat muslim di Indonesia ini yang perlu diberikan kesempatan yang cukup untuk pendidikan. Itu bukan masalah penindasan, itu masalah ekonomi dan sejarah saja.

 

Tapi itulah yang perlu ada perjuangan terus menerus untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia pada umumnya, termasuk di dalamnya kalangan muslim. Jadi untuk menjawab pertanyaan itu, akibat sejarah dan kemiskinan sebagian dari ummat Islam masih perlu garap dengan baik. Harus ada prakarsa inisiatif baik dari masyarakat maupun pemerintah agar terutama pendidikannya semakin baik. Kesempatan untuk mengenyam pendidikan harus diberikan kepada seluruh muslim Indonesia. Nah semakin terdidik masyarakat akan semakin mampu mereka menghadapi berbagai masalah.

Menurut Bapak, MAZ mampu tidak menjadi lokomotif perubahan bagi terciptanya visi dan misi pesantren yang bapak jelaskan tadi?


Ya, tapi lokomotifnya harus lebih dari satu. Tapi pendek kata iya. MAZ menjadi bagian dari salah satu lokomotif tapi karena ada beberapa jalur, ada NU ada Nahdlatul Wahdah, ada Dewan Dakwah wal Irsyad harus ada beberapa lokomotif. MAZ saya kira ada kesempatan untuk memegang peranan yang sangat bermakna. Jadi lokomotif iya.

Pak Bob begitu banyak mengenal tokoh-tokoh penting di Indonesia semacam Cak Nur, BJ Habibie dan Gusdur. Tentang bencana di Aceh yang meluluhlantahkan sektor pendidikan di sana hampir 60%. Anda punya strategi khusus dalam revisi dan rekonstruksi di sana?


Tidak, sebenarnya apa yang telah diselenggarakan pemerintah sudah bagus, terutama dari sudut apa: pemerintah sangat cepat bertindak dalam menggalang kerjasama internasional, tidak pasrah saja malah mengajak negara-negara lain untuk datang ke sini dan memimpin, mengkoordinir satu program revisi dan rekontruksi yang multilateral. Itu satu pimpinan yang cukup bagus.

 

Nah, Aceh sebagai yang betul-betul hancur itu agak terisolir selama hari-hari pertama, kita tahu banyak orang-orang yang menderita belum diberikan bantuan. Saya kira salah bila itu dianggap kesalahan pemerintah atau siapapun. Itu akibat dari kondisi daerah dan wilayah. Tapi setelah beberapa hari sudah mulai terlihat ada koordinasi yang efektif, malah sangat bagus tidak hanya pada tingkat nasional tapi juga tingkat internasional. Indonesia tidak pasrah, malah memimpin dan mengkordinir program multilateral itu: untuk rekonstruksi Aceh dan juga rekonstruksi wilayah-wilayah di Asia yang lain yang terkena bencana Tsunami.

Pandangan pak Bob sendiri dalam rekontruksi pendidikan di Aceh?


Seperti yang saya sampaikan tadi, bahwa kita hidup dalam dunia global yang di dalamnya suatu kerjasama multilateral sangat dibutuhkan. Manusia mempunyai banyak sumber daya manusia, sumber daya modal tapi untuk memanfaatkan sumber daya tersebut harus ada kolaborasi antara lintas bangsa, lintas masyarakat. Dari pada kita hanya memikirkan benturan peradaban. Realitas yang umum sekarang ini adalah kerjasama peradaban. Itulah kenyataan modern kita.

Terakhir, tadi Pak Bob telah disematkan pin-pin MAZ dan oleh pimpinan kami telah dinyatakan sebagai pemilik MAZ. Apa langkah yang akan Pak Bob ambil ke depan sebagai pemilik MAZ?


Ha...ha...ha... Saya berharap bisa kembali lagi ke sini dan berbalas kebaikan hati dengan berkunjung lagi ke sini. Mudah-mudahan dengan pemberian ceramah dan tukar menukar rohani. Dan di luar itu saya harap diberi kesempatan untuk menyampaikan pesan yang sedikit lebih akurat tentang kultur dan misi MAZ. ► Tim AL-ZAYTUN

 

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)