| |
C © updated 26022005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ht |
|
| |
Nama:
Dato’ Paduka Sri Mir Khan
Lahir:
Malaysia 20 Juni 1955
Agama:
Islam
Pendidikan:
Doktor ekonomi lulusan Cornell University, AS
Pekerjaan:
CEO Dinar & Dirham International Sdn. Bhd, Malaysia
E-mail:
Khanmir@fastmail.fm
Sumber:
Wawancara, Kamis 10 Februari 2005 |
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
Dato’ Paduka Sri Mir Khan
CEO Dinar & Dirham International
Chief Executive Officer Dinar & Dirham International Sdn. Bhd Malaysia, ini menyatakan komitmen
untuk menggerakan kebangkitan umat Islam melalui sistem ekonomi Dinar emas
Islam. Perusahaan Dinar & Dirham, diresmikan Perdana Menteri Malaysia
Dr Mahathir Mohamed pada Oktober 2003 bersamaan Konferensi Pemimpin Islam
dari 57 negara di Putrajaya
Malaysia.
Dinar & Dirham International Sdn. Bhd, sebuah organisasi (perusahaan) lembaga keuangan dan
ekonomi yang memberlakukan mata uang emas di dunia terutama di
negara-negara yang mayoritas penduduknya beragam Islam.
Dinar emas ini diproyeksikan akan menguntungkan negara dunia ketiga,
termasuk negara-negara Islam di seluruh dunia. Bisa digunakan sebagai
komoditas dan sistem nilai tukar mata uang dalam menghadapi krisis ekonomi
dunia dan mengadapi harga komoditas yang tidak stabil. Kelak, Dinar emas
diharapkan menjadi simbol persatuan di antara negara-negara dunia ketiga,
terutama negara-negara Islam.
Adalah Dato’Paduka Sri Mir Khan, pria kelahiran Malaysia yang lama
bermukim di Amerika Serikat, sebagai penggagas pendirian Dinar & Dirham
Malaysia ini. Dia juga yang menjadi Chief Executive Officer (CEO) Dinar &
Dirham Malaysia yang berkantor pusat di Kuala Lumpur, Malaysia.
CEO yang rendah hati ini menyebut dirinya sebagai pembantu pembangun
sistem ekonomi Islam. Pria ini merupakan seorang ahli ekonomi dari Cornell
University, Amerika Seirkat. Dia telah lama berkecimpung di berbagai
kegiatan bisnis di Malaysia, Europa dan berbagai belahan dunia
Internasional lainnya.
Dalam rangka memperkuat komitmennya menggerakan kebangkitan umat Islam
melalui sistem ekonomi Dinar emas, dia pun kini menjajaki kerjasama bisnis
membuka sebuah perusahan pertambangan emas di Indonesia. Memang
belakangan, pria yang akrab dipanggil dengan Dato’ Mir, ini lebih banyak
menggeluti usaha pertambangan emas. Usaha ini digelutinya agar misi dari
Dinar & Dirham yang berkonsetrasi pada mata uang emas dapat terlaksana.
Karena komposis dari mata uang ini hanya berpaku pada komiditi emas itu
sendiri.
Nah, dengan menggeluti bisnis ini, maka Dato’ Mir harus mengembangkan
pertambangnya bahkan hingga ke Indonesia. Maka dengan itu, ia mencoba
membangun pertambangan baru, karena tanpa komoditi emas ini mata uang emas
tidak dapat diimplementasikan dan rencana dinar & dirham tidak dapat
terlaksana.
Bermula Oktober 2003
Pada acara KTT (Konferensi Tingkat Tinggi) Para Pemimpin Islam dari 57 negara, di bulan Oktober
2003, Perdana Menteri Malaysia Tun Dr. Mahathir Mohamed meresmikan
perusahan Dinar & Dirham Malaysia. Perusahan ini didirikan untuk
membangunkan sistem keuangan Islam di seluruh dunia.
Dinar & Dirham ini didirikan oleh Dato’ Paduka Sri Mir Khan sebagai Chief
Executive Officer. Pada acara peluncuran Dinar & Dirham Malaysia ini
dihadiri oleh banyak para pemimpin lima puluh tujuh Negara Islam yang
turut hadir dan menyaksikan serta mendukung misi daripada organisasi yang
membangunkan sistem ekonomi Islam abad ini. Tak hanya para pemimpin negara
saja yang hadir bahkan 2.000 undangan dari Jakarta di bawah koordinasi OIC
Network dan para undangan terhormat Aa Gym juga turut menghadiri acara
pidato Dato’ dan Aa Gym di acara tersebut.
Menurut Dato’ pada waktu itu Aa Gym diundang Presiden Indonesia Ibu
Megawati untuk bertemu Presiden Amerika George Bush di Bali dengan dua
angota lagi wakil dari organisasi Islam Nahdatul Ulama (NU) dan satu wakil
dari Muhammadiyah, tetapi Aa Gym lebih memilih untuk menghadiri acara
pidato ekonomi dinar emas dan agama di Putrajaya Malaysia. Aa
Gym juga turut hadir dalam acara peluncuran Dinar & Dirham itu.
Setelah acara OKI dan peluncuran Dinar & Dirham dalam kurun waktu dua
minggu segera masuk bulan puasa lalu diikuti lebaran, hari natal, tahun
baru dan Pemilu di Malaysia. Maka dengan banyak kegiatan ini perjuangan
Dinar & Dirham agak terhambat sehingga misi harus dimulai kembali pada
tahun ini dan terus hingga tercapainya tujuan yang semestinya sebagai umat
Islam.
Di sela wawancara denga Wartawan Tokoh Indonesia, Dato’ Mir juga
menjelaskan, ”Maka begitulah perjuangan barang-barang seperti inikan susah
dan sulit.” Namun, ia segera menyadarkan sekaligus membangkitkan optimisme
teman-teman bahwa Euro saja sebagai mata uang tunggal Uni Eropa dibangun
selama 30 tahun. Dato’ Sri Paduka Mir mengatakan hanya dengan jangka waktu
tiga tahun saja untuk membangun sistem mata uang emas alternatif, satu
langkah sudah tiba pada taraf satu pasal satu, di mana pemimpin Islam
sudah mengerti mengenai sistem mata uang dinar (emas).
Pembangunan Mesjid dan Sport Center
Sebagai bagian dari komitmennya terhadap kebangkitan ummat Islam, dia pun
menyatakan menyatakan kesediaan untuk membantu pembiayaan menyelesaikan
pembangunan mesjid Rahmatan Lil Alamin serta membangun sebuah gedung olah
raga lengkap berserta isinya bagi Pesantren Ma’had Al-Zaytun di Indramayu,
Jawa Barat.
Sang dermawan dari Malaysia ini menyatakan hal ini di hadapan puluhan
ribuan undangan yang hadir dalam acara perayan tahun baru Hijriah 1
Muharam 1426 (10 Februari 2005) di Mesjid Rahmatan Lil Alamin Ma’had Al
Zaytun. Dan ketika mengatakan janjinya itu, para undangan, santri dan
santriawan yang hadir seakan terkesima seolah tidak percaya. Maka dengan
komitmen Dato’ Paduka ini, Syaykh Al-Ma’had Abdussalam Panji Gumilang
bersama Dato’ Paduka Sri Mir akan mengkaji bersama site plan dan rincian
pembiyaan mesjid untuk dapat diselesaikan dalam waktu dekat.
Sebab mesjid berbiaya Rp 100 milyar ini walaupun sudah dapat digunakan
sehari-hari, penyelesaiannya masih sangat jauh dari sempurna. Penyelesaian
interior dan ekstrior mesjid ini masih harus dibangun agar tampak lebih
sempurna dan cantik untuk digunakan bagi para ummah.
Sumbangan ini tidak kalah besarnya dengan sumbangan yang telah diberikan
oleh H. Probosutedjo, tanah seluas 5.000 hektar di Hambalang, Bogor.
Sumbangan ini diberikan oleh H.Probosutedjo, pengusaha yang akrab
dipanggil Pak Probo, pada perayaan 1 Muharram 1425H, untuk keperluan
pengembangan pendidikan Ma’had Al-Zaytun.
Mengenal Ma’had Al-Zaytun
Dato’ Paduka Sri Mir pertama kali mendengar cerita mengenai Ma’had
Al-Zaytun hanya dalam waktu empat hingga lima hari sebelum kedatangannya
ke tempat itu. Itupun ia mengetahuinya dari beberapa kawan seperti
Renaldi, salah satu pengurus Daun Production yang sering meyumbang dan
mengorganisir artis untuk dapat tampil dan memberikan kontribusi
talentanya pada setiap acara yang berlokasi di Ma’had Al-Zaytun.
Perkenalan Dato’ Sri Mir dengan para pengurus Daun terjadi ketika mereka
tengah berusaha mengumpulkan dana sponsor untuk kegiatan keseniannya di
Ma’had Al-Zaytun.
Dato’ Paduka Sri Mir menyatakan kesanggupan menghadiri perayaan 1 Muharam
1426H di Ma’had Al-Zaytun walau pada saat itu masih memiliki informasi
yang terbatas. Setelah mendengar informasi mengenai pesantren ini, Dato’
menyempatkan diri untuk kembali ke Malaysia, izin satu hari. Kemudian
keesokannya harinya sudah tiba kembali di Jakarta, dan dari Bandara
Soekarno Hatta, Dato’ dengan pengawalan lengkap serta iringan vorijders
segera bergerak menuju ke Ma’had Al-Zaytun, dan tiba pada malam hari
tepatnya 9 Februari 2005.
Motifasi kedatangan Dato’ Paduka Sri Mir ke Ma’had semata-mata hanya
tertarik dengan keberadaan pondok pesantren, sebuah kampus peradabaan
berskala dunia. Sistem pendidikan Islam dengan standard ini sangat
bersinergi dengan pembangunan sistem keuangan dan ekonomi Islam yang
tengah dijalankan oleh Dato’. Dan ia kini sedang bergerak memperkuat
sistem Islam dalam bidang ekonomi internasional dalam bentuk sistem
keuangan emas.
Salah satu cara memprakasai sistem mata uang emas ini, Dato’ berusaha
untuk mencari peluang dan membuat rencana-rencana untuk memperjuangkan apa
saja yang dapat dibina di masa yang mendatang. Seperti mempererat hubungan
atau bekerjasama dengan lembaga-lembaga tertentu khususnya lembaga-lembaga
resmi keungan dan agama yang berdomisili di Indonesia.
Tetapi selagi hal itu diproses, Dato’ Mir mengatakan kesungguhan dan
kesanggupannya untuk menyelesaikan pembangunan Mesjid Rahmatan Lil Alamin.
Menurut pengakuannya kepada wartawan Tokoh Indonesia, Dato’ Sri Mir
termotifasi atas kekagumannya terhadap visi dan misi Al-Zaytun. Dato’
merasa tidak pernah menjumpai sebuah pondok pesantren di mana pun semaju
dan modern Ma’had Al-Zaytun.
Menurut Dato’ Mir, negara-negara Islam di Jazirah Arab boleh memiliki
sumber finansial yang cukup berlimpah. Namun tak sekali pun ia pernah
menemukan pusat pendidikan dan pengembangan budaya perdamaian dan
toleransi sekelas Ma’had Al-Zaytun. Walapun tampak sederhana tetapi Ma’had
baginya tampak sudah hampir lengkap serta bertaraf internasional. Dan
menurut Dato’: “Itulah yang memotifasikan saya untuk mencoba kemudian
mengenali lebih mendalam mengenai Ma’had Al-Zaytun ini, Insya Allah.”
Dato’ Paduka juga sempat bertanya kepada Syaykh Ma’had Al-Zaytun bagaimana
bisa memiliki ide membangun pusat pendidikan seperti Ma’had Al-Zaytun
begitu jauh dari pusat kota Jakarta. Orang pindah ke Indramayu tempat yang
jauh dari pusat kota untuk mempersatukan berbagai macam orang dan budaya
dalam satu wadah pendidikan.
Dato’ yang telah berkeliling dunia mengaku tidak pernah melihat sesuatu
yang bisa mengagumkannya seperti Ma’had Al-Zaytun. Termasuk gedung paling
tinggi sekalipun, tidak membuatnya terkesima. Namun keberadaan Ma’had
Al-Zaytun di sebuah kampung dengan jangkaun global membuat dirinya merasa
kagum serta bangga sebagai umat Islam.
Berbagai lembaga pendidikan telah ia temukan di berbagai negara tetapi
tidak ada satu pun yang membuatnya terkagum. “Seperti Amerika di mana
software dan komputer modern mudah ditemukan tetapi mungkin di situ kita
tidak bisa memperjuangkan Islam sebagaimana terjadi di Ma’had Al-Zaytun.
Sebab di situ merupakan negara lain. Tetapi di sini, apabila kita berpikir
kembali hebatnya orang-orang kita ini. Islam Nusantara kita ini kalau bisa
mendapat sokongan dari negara Islam lain yang lebih kaya ataupun
negara-negara jiran lain yang memiliki kekayaan. Ummah kita mungkin akan
menjadi lebih sukses dan maju,” ujarnya.
Memiliki pengetahuan dan informasi tentang Ma’had Al-Zaytun yang terbatas,
Dato’ lalu melihat betapa sistem manajemen dan visi Ma’had kedepan itu
belum pernah ditemukan di pesantren mana pun di Indonesia yang sistemnya
seperti ini. Dato’ begitu kagum bahwa seluruh kegiatan santri di Ma’had
dimonitor terus seperti sebuah sistem yang hanya ada di Amerika dan itupun
hanya terbatas pada sekolah berasrama.
Manajemen Ma’had Al-Zaytun disebutkan oleh Dato’ Paduka Sri adalah suatu
motif pendidikan yang dapat membangkitakan Islam. Dan itu sama persis
dengan sistem misi keuangan dinar (emas) yang kini tengah gencar
diperjuangkannya. Ia juga bangga karena Ma’had Al-Zaytun didirikan di
sebuah perkampungan terpencil jauh dari keramaian.
“Saya terharu bahwa ini satu-satunya modul pesantren yang harus di
publikasikan kepada Indonesia, Malaysia dan Negara Islam lain. Saya sudah
bicara kepada Syaykh, Insya Allah saya akan sarankan ini kepada Perdana
Menteri Malaysia Dato’ Seri Abdullah Ahmad Badawi. Saya akan berbicara
secara tersendiri, dan ini akan saya pegang karena itu kewajiban saya,
Insya Allah” tutur Dato Paduka Sri Mir. Betapa ia tergugah untuk ikut
memperjuangkan keberadaan Ma’had Al’Zaytun ke negerinya Malaysia termasuk
mengkomunikasikannya kepada Perdana Menteri Malaysia.
Sumbangan Maksimal
Mengenai ketulusan hati menyumbang penyelesaian Mesjid Rahmatan Lil Alamin
dan sebuah gedung olah raga, Dato’ menyebutkan hal itu didasari oleh
pemikiran yang sangat universal. Bahwa di mana bumi dipijak di situlah
bumi di junjung. Dato’ mencoba memberikan apa saja yang rasa diperlukan
semaksimal mungkin. Itulah yang diperjuangkan sebagai ibadah.
Dato’ merasa beribadah waktu berada di Ma’had Al-Zaytun, karena dituntun
Allah SWT. Dia sendiri tidak ada rencana. Tiba-tiba datanglah ajakan itu,
lalu dengan senang hati dia pun tiba di pesantren Al-Zaytun. Sesuai cara
hidup Islam, ia menerima semua teman-teman yang ditemukan di Ma’had
Al-Zaytun atau di mana pun sebagai keluarga besar.
Cara hidup Islam yang demikianlah yang Dato’ Mir rasakan. Tanpa menghitung
seberapa besar angka nominal uang yang akan disumbangkan bagi penyelesaian
Mesjid Rahmtan Lil Alamin dan sebuah gedung olah raga yang megah. Maka
setelah dilafaskan terhadap masyarakat di dalam mesjid yang baru, maka
dirasakan oleh Dato’ sebagai sebuah kewajiban untuk memberi komitmen
kepada dirinya sendiri.
Itu komitmen Dato’ sendiri, bukan komitmen organisasi atau lainnya.
Komitmen itu adalah ibadah tersendiri untuk tempat di mana ia pernah
berada dan berdiri. Semaksimal komitmen itu sebesar itu pula ibadahnya.
“Saya rasa penyelesaian pendanaan mesjid serta gedung olah raga
disesuaikan dengan syaykh, apa yang dirasakan perlu, maka diimbangi
semampu saya,” ucap Dato’ Mir dengan spontan menyatakan komitmen
sumbangannya. Ia merasa terkagum menyaksikan sebegitu banyak ummah dan
sebegitu besar mesjid di MAZ. Dan semua itu berada di sebuah tempat yang
jauh dari peradaban kota.
Pertobataan ‘Sosial Modern’
Siapakah tokoh yang mempunyai komitmen mulia untuk memberlakukan dinar
emas dan menjadi dermawan menyelesaikan pembangunan mesjid di Ma’had
Al-Zaytun itu?
Dia, Dato’ Paduka Sri Mir Khan, pria kelahiran Malaysia 20 Juni 1955.
Sejak tahun 1980, dia meninggalkan Malaysia untuk menimba ilmu di Amerika
Serikat. Dia lama bermukim di negeri Paman Sam itu dan melakukan berbagai
kegiatan usaha di Honolulu, Hawaii. Maka sejak lama tinggal di luar
negeri, Dato’ Mir tidak banyak lagi mengenal siapa pun di negerinya
sendiri. Itulah salah satu alasannya untuk ingin kembali ke Malaysia.
Waktu bermukim di Amerika Serikat, cara hidup, katanya, cukup hebat, megah
dan modern. Di Hawaii, dia hidup dengan kemerdekaan. Tiap hari kerjaannya
bermain polo atau terbang mengemudikan pesawat sebagai salah satu hobinya.
Dan jika malam tiba, hidupnya di alam sosial bebas. Hidup di Amerika jauh
berbeda dengan cita-citanya semasa tinggal di Malaysia.
“Ini memang menarik karena hidup anak-anak muda itu kan seperti itu. Ini
yang tidak benar. Siapa bilang saya jadi imam di mesjid? Munggkin lebih
bebas dari kebanyakan orang,” kata Dato’ mencoba untuk mengungkap ulang
masa-masa kelam sebelum mengalami pertobatan yang sesungguhnya. Dan kini,
dia berbalik mencari Allah SWT yang maha berkuasa.
Akhir-akhir ini beberapa rambutnya sudah mulai putih. Kehidupan glamor
Amerika sudah tidak lagi penting. Di sana dia tetap merasa sebagai orang
asing. Apalagi dengan perihal agama dan keadaan sekarang itu benar-benar
terasa sekali. Dia menyadari budaya kita jauh lebih baik dari yang lain.
Waktu bermukim di Amerika dia sempat merasakan budaya kita itu jadi kecil.
Sebab ia hidup di alam yang bukan alamnya orang Islam. Berbeda sekali
dengan kini ketika dia sudah hidup di alamnya sendiri.
“Walau mungkin sebagian dari kita miskin tetapi kita tetap kaya dalam
budaya, bangsa, agama dan negara. Budaya kita, bangsa kita, bahasa kita,
makanan kita, orang-orang kita di mana-mana kita juga tahu,” tukasnya.
Dato’ dahulu mempunyai setumpuk kartu kredit, kini sudah dibuangnya semua.
Menurutnya kartu kredit tidak sesuai dengan hukum ekonomi Islam yang
menekankan sistem syariah. Kartu kredit dan segala sistem tata kelola
ekonomi keuangan yang besifat hutang, sesuai dengan hukum ekonomi syariah
adalah memperjuangkan riba. Dan riba itu bertentangan dengan hukum syariah
Islam dan haram.
Belakangan ini, Dato’ tidak pernah lagi berkunjung ke Amerika setelah
memperjuangkan sistem Dinar Emas. Dia telah melupakan kebiasaan lama harus
pergi ke Amerika. Dahulu, dia merasa cukup senang dengan gedung-gedung,
klub dan cara hidup Amerika. Sekarang semua benar-benar jadi tidak benar
dan mungkin lenyap. Bahkan tidak suka lagi kembali ke sana. Dia tak lagi
bangga mengatongi kartu kredit, yang dahulu pernah dibanggakan dan di
megahkannya.
“Setiap bulan, setiap kali kita berhutang, kita adalah milik tempat kita
berhutang. Nah kalau Anda berhutang, maka penghutang dimiliki oleh yang
memberi hutang. Selepas pembayaran hutang barulah kita lepas dari
genggaman yang lain,” jelas Dato’ memberikan ilustrasi mengenai kartu
kredit.
Selama masa malang-melintang dahulu di berbagai bisnis internasional,
Dato’ memiliki banyak koneksi untuk membangunkan berbagai macam bisnis.
Namun akhirnya, dia mulai berpindah lebih tertarik memperjuangkan sistim
keuangan dinar (emas).
Penukaran manusia bisa berubah melalui proses, seperti yang sudah dialami
oleh Dato’. Hidupnya terdahulu dengan sekarang cukup berubah. Ada proses
perubahan berupa pertobatan yang sangat menyeluruh dalam dirinya. Ia
sendiri tidak tahu mengapa dapat berubah. Ia hanya berperinsip untuk mau
mengikuti jalan Allah SWT.
Seperti kedatangannya ke Ma’had Al-Zaytun, petunjunknya hanya bermula dari
berkumpul dengan para teman dan kerabat dekatnya di hotel di Jakarta.
Sampailah dengan sebuah ajakan untuk berkunjung ke Indramayu. Itu pun bagi
Dato’ sudah merupakan sebuah petunjuk dari Allah SWT, tinggal mau atau
tidak menerima jalan petunjuk itu. Ternyata ajakan itu yang lalu dirasakan
di Ma’had Al-Zaytun sebagai sebuah ilham yang telah diberikan oleh Allah
SWT. ►ht-ms-ra
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|