|
|
 |

Nama :
Dr. Mahathir Mohamad
Lahir :
Alor Setar, Kedah 20 Desember 1925
Agama:
Islam
Jabatan:
Perdana Menteri Malaysia (16 Juli 1981 – Oktober 2003)
Pendidikan:
Dokter dari Perguruan Tinggi King Edward VII Singapura 1947
Karir:
Pegawai Dinas Kesehatan 1947-1957
Mendirikan klinik di Alor Setah 1957
Aktif dalam dunia politik sejak 1945
Anggota Parlemen 1964
Calon Perdana Menteri 1974
Menteri Pendidikan
Deputi Perdana Menteri 1976
Menteri Perdagangan dan Perindustrian 1976
Perdana Menteri 1981
Dr. Mahathir became the fourth Prime Minister of Malaysia on 16 July 1981.
He was admitted into the King Edward VII College of Medicine in Singapore
in 1947.
Upon graduation, he joined the Malaysian government service as a Medical
Officer. He left in 1957 to set up his own practice in Alor Setar, the
capital of the State of Kedah, where he was born on 20 December 1925.
Dr. Mahathir has been active in politics since 1945. He was first elected
as a Member of Parliament following the General Elections in 1964.
He contested the 1974 General Elections where he was returned unopposed.
Following the elections, Dr. Mahathir was appointed the Minister of
Education.
In 1976, Dr. Mahathir was made Deputy Prime Minister in addition to his
education portfolio and became Minister of Trade and Industry shortly
afterwards.
He has led his country for the past 22 years. During those decades,, he
has built a global reputation as one of the most outspoken — and
thoughtful — government leaders of our time.
|
|
Mahathir Mohamad
Stop Pendangkalan Islam
Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad mengimbau agar para ulama dan
intelektual Muslim menghentikan penyebaran interpretasi dangkal dan keliru
tentang Islam. Para ulama seharusnya tidak menyebarkan ajaran-ajaran yang
membingungkan dan memecah belah jemaah, dan sebaiknya mengajarkan ilmu
pengetahuan modern sehingga masyarakat Muslim dapat diperhitungkan lagi di
mata dunia.
Ia mengatakan keterbelakangan dan penderitaan yang dialami umat Islam di
seluruh dunia adalah akibat kesalahan sendiri. Sekarang umat Islam yang
berjumlah 1 miliar jiwa, masih jauh dari posisi sebagai sebuah kekuatan
dunia. Bahkan umat Islam mudah ditindas dan ditaklukkan dalam perang dan
terpaksa menerima kekuasaan dan hegemoni asing. Hal ini karena pengajaran
agama yang salah. Menurutnya, terorisme bukanlah cara untuk menyelamatkan
Islam.
Mahathir mengemukakan hal itu dalam acara Konferensi Internasional Para
Ulama Islam yang berlangsung selama tiga hari di Kuala Lumpur, pekan kedua
Juli 2003 lalu. Mahathir yang akan pensiun Oktober mendatang, setelah 22
tahun berkuasa, di hadapan sekitar 800 ulama Islam peserta konferensi,
yang datang dari 35 negara, menyatakan, sebagian pemimpin agama telah
membuat umat Islam sekarang bingung, terpecah-belah, serta tak mampu
mengikuti perubahan-perubahan dunia.
Menurutnya, sebagian tampaknya meyakini bahwa mereka dapat benar-benar
menjadi orang Islam hanya dengan menciptakan kembali cara hidup dari masa
1.400 tahun lalu (zaman Nabi Muhammad SAW). "Kejayaan yang pernah dicapai
peradaban Islam, di mana terjadi kemajuan besar dalam ilmu pengetahuan,
telah berakhir karena para pemimpin Islam mulai menentang sikap liberal
terhadap kajian-kajian non-agama ini. Satu-satunya yang boleh dipelajari
hanyalah bidang-bidang yang berkaitan dengan agama Islam,” katanya.
Mahathir menyatakan satu-satunya kesimpulan yang dapat ditarik dari takdir
menyedihkan kaum Muslim adalah bahwa mereka tidak mempraktikkan ajaran
Islam yang sesungguhnya. Juga, bahwa agama Islam yang mereka peluk telah
ditafsirkan secara salah.
Satu hal yang keliru menurut Mahathir, banyak kaum Muslim yang menganggap
para pelaku peledakan bunuh diri Palestina sebagai martir (pahlawan yang
mati syahid). Tapi, di lain pihak, tak ada penghargaan diberikan kepada
orang-orang yang mempelajari ilmu pengetahuan, matematika, teknologi, dan
lain sebagainya, yang sangat penting bagi pembangunan kemampuan pertahanan
negara-negara Islam.
Mahathir, yang sering berseberangan dengan Amerika Serikat tapi mendukung
AS dalam perang melawan terorisme, mengatakan, serangan bom bunuh diri
bukanlah cara untuk membangun kembali kejayaan Islam. Ia mengingatkan
bahwa keselamatan tak akan tercapai dengan cara membunuh orang-orang yang
tak berdosa. “Lebih baik kita menyusun rencana jangka panjang dan
melaksanakannya untuk menjadi yang terbaik di segala bidang," serunya.
Mahathir, yang mengkritik serangan Amerika Serikat dan koalisinya ke Irak,
mengatakan, ketika pasukan pimpinan AS menyerang Irak, umat Islam di
seluruh dunia berdoa kepada Allah agar menyelamatkan kaum Muslim Irak dan
negeri mereka. Namun, doa mereka tak terjawab.
Hal itu, katanya, bukan karena Allah telah meninggalkan umat Islam,
melainkan karena mereka tak berusaha mengejar kemajuan dunia dalam bidang
pengetahuan dan kemampuan untuk memproduksi senjata serta memiliki
angkatan bersenjata yang disiplin dan terlatih untuk mempertahanan diri
mereka.
Mahathir mengemukakan beberapa bukti sejarah untuk mendukung argumennya.
Ia menyebutkan bahwa kerajaan Muslim Spanyol hilang dalam tahun 1492
setelah 500 tahun kejayaannya, karena para ulama mulai tidak suka
mempelajari tentang hal-hal non-religi dan karya-karya non-Muslim.
Akibatnya para ulama tidak mengetahui teknologi. Maka ia berpesan agar
diseimbangkan pengetahuan duaniawi dengan pengetahuan relgius.
Ia mengatakan bahwa masyarakat Muslim pernah menjadi suatu kekuatan global
di berbagai bidang, tetapi mereka tidak berhasil mempertahankan dengan
perkembangan-perkembangan kaum Barat, dan kini mereka (masyarakat Muslim)
menjadi lemah dan terbelakang.
Mahathir mendorong umat Islam agar memiliki kemampuan untuk menggetarkan
hati musuh-musuh untuk mempertahankan diri, bukan sebagai agresor,
melainkan untuk mempertahankan diri. "Kita harus membuat tank dan pesawat
tempur. Untuk melakukannya, kita harus memahami ilmu pengetahuan," katanya
dengan tegas.
Memang, dalam satu tahun belakangan ini, Malaysia melakukan perjanjian
pembelian senjata secara besar-besaran. Mereka memesan 18 pesawat tempur
Sukhoi dari Rusia, tiga kapal selam dari Prancis, sistem rudal Inggris dan
Rusia, dan 48 tank dari Polandia.
Biografi Dr. Mahathir Mohamad menjadi perdana menteri
keempat Malaysia, jabatan yang diamanahkan kepadanya sejak 16 Juli 1981. Setelah 22 tahun berkuasa, ia dengan legawa merencanakan akan melepas
kekuasaan itu pada Oktober 2003. Dalam dua dekade pemerintahannya, ia
telah membangun sebuah reputasi global sebagai salah satu pemimpin
pemerintahan yang berani berbicara dan bijaksana di zaman ini.
Lulusan Perguruan Tinggi King Edward VII bidang pengobatan di Singapura
1947, ini memulai karir sebagai pekerja kesehatan Pegawai Negeri Malaysia.
Namun di tahun 1957, ia meninggalkan dinas PNS-nya untuk mendirikan klinik
kesehatan di Alor Setar, ibukota negara bagian Kedah di mana ia lahir pada
tanggal 20 Desember 1925.
Mahathir mulai aktif dalam dunia politik sejak tahun 1945. Pertama kali ia
terpilih menjadi anggota parlemen pada pemilu 1964. Lalu ia masuk dalam
bursa calon Perdana Menteri pada Pemilu 1974. Pada pemilu berikutnya ia
dilantik menjadi Menteri Pendidikan.
Pada tahun 1976 ia menjadikan posisi deputi perdana menteri di dalam
portofolio pendidikannya dan dalam waktu singkat ia menjadi Menteri
Perdaganagan dan Perindustrian. Kemudian, ia terpilih menjadi perdana
menteri tahun 1981.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), dari berbagai sumber
|
|