| |
C © updated 15082005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ |
|
| |
Nama:
Andrias Wiji Setio Pamuji
Lahir:
Desa Ngrendeng, Kecamatan Sine, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur
Penemu:
Reaktor Biogas
Istri:
Mila Juliani Perangin-angin
Anak:
Aldo Adicipta Yanuar
Pendidikan:
Tidak tamat SD
Pekerjaan:
Jurusan Teknik Kimia Departemen Teknik Industri Institut Teknologi
Bandung (ITB)
Julukan:
Bapak sistem pabrik
Penemuan:
Mesin pintal (1769)
Penghargaan:
Gelar bangsawan dari Raja George III tahun 1786 |
|
| |
|
|
|
|
Andrias Wiji Setio Pamuji
Pencipta Reaktor Biogas
Di kalangan peternak sapi perah, terutama di Jawa Barat, membuat biogas
dari kotoran sapi tengah menjadi kesenangan baru. Apalagi dalam kondisi
persediaan bahan bakar minyak yang tidak menentu dan harganya terus
melaju seperti sekarang.
Untuk itu, menghasilkan dan memanfaatkan gas hasil kerja sendiri
merupakan kebanggaan tersendiri sehingga para peternak tidak perlu lagi
membeli minyak tanah, gas elpiji, atau kayu bakar.
Jangan heran kalau mendatangi peternakan di daerah Lembang dan Cisarua,
Kabupaten Bandung, Anda akan menemukan kantong plastik ukuran 5.000
liter dalam sebuah lubang dan kantong lainnya ukuran satu meter kubik
mengapung di bawah atap yang disambungkan dengan pipa-pipa plastik.
Perlengkapan sederhana yang biasa terdapat dekat kandang sapi itu
sebetulnya reaktor dan penampung biogas. Kotoran sapi yang sudah
dicampur air dengan ukuran satu banding satu itu diubah menjadi gas. Gas
itu dialirkan pada reaktor. Setelah menjadi gas kemudian dialirkan pada
penampung gas. Melalui selang plastik, gas dialirkan lagi ke kompor gas
di dapur untuk memasak.
Percobaan membuat reaktor sederhana dari plastik ini sudah dilakukan
oleh Andrias Wiji Setio Pamuji (27) pada tahun 2000, saat ia masih
kuliah tingkat III di Jurusan Teknik Kimia Departemen Teknik Industri
Institut Teknologi Bandung (ITB).
Namun, Andrias baru memasarkannya pada 9 April 2005 setelah
menyempurnakan percobaan-percobaannya. Reaktor biogas dari plastik ini
sebelumnya pernah menang dalam Lomba Kreativitas Mahasiswa tahun 2002
yang diadakan oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan
Nasional.
Andrias sudah lama mengetahui bahwa kotoran sapi bisa dijadikan gas.
Namun, kesempatan membuktikan hal tersebut baru kesampaian saat ia
kuliah. Saking penasaran, ia membawa kotoran sapi yang sudah dicampur
air dari sebuah peternakan. Kotoran sapi itu ia bawa dengan jeriken
ukuran lima liter.
Sampai di rumah indekos, jeriken tetap ditutup agar terjadi fermentasi
pada kotoran sapi. Setelah sebulan, jeriken dibuka dan di atas lubang
jeriken dipasang plastik. Plastik langsung mengembang.
Andrias yang berasal dari Desa Ngrendeng, Kecamatan Sine, Kabupaten
Ngawi, Jawa Timur, itu segera mencari pucuk bolpoin yang terbuat dari
logam. Pucuk pulpen ini ditusukkan pada plastik dan keluarlah gas. Ia
menyulutnya dengan korek api. ”Ternyata betul, kotoran sapi bisa jadi
gas dan bisa dibakar,” ujarnya.
Andrias terus memodifikasi peralatan dengan menggunakan uang bantuan
dari teman- temannya. Percobaan demi percobaan ia lakukan untuk bisa
menghasilkan reaktor dan penampung gas berharga murah dan berkapasitas
mencukupi untuk kebutuhan rumah tangga.
Sampai akhirnya, dari percobaan demi percobaan, ia menghasilkan reaktor
dari plastik dengan tebal 250 mikron serta menciptakan kompor untuk
jenis gas metana.
Ia baru memasarkan reaktor tersebut pada April 2005. Saat itu dirasa
tepat sebab harga bahan bakar minyak (BBM) terus naik. ”Saya sudah
memprediksi bahwa BBM akan mahal. Tapi kalau dulu, harga BBM alternatif
masih lebih mahal dari BBM yang ada. Sulit bagi masyarakat untuk
berpaling,” kata Andrias.
Kini reaktor biogas buatannya sudah digunakan oleh 66 peternak sapi
perah di Subang, Bandung, Garut, Tasikmalaya, dan Padang, Sumatera Barat,
menyusul Bali, Jawa Tengah, dan Lampung.
Sebetulnya, segala kotoran binatang bisa digunakan, termasuk kotoran
manusia. Hanya saja teknologi terbentur oleh asas kepantasan dalam
masyarakat. Sampah organik juga bisa dipakai sebagai bahan pokok
pembuatan gas. Reaktor bisa ditempatkan di tempat penampungan akhir (TPA)
sampah.
Pada TPA yang mendapat kiriman sampah sebanyak 5.000 meter kubik per
hari bisa dihasilkan gas sebanyak 25.000 meter kubik per hari atau
setara dengan 31,25 juta watt listrik. Itu juga bisa mengalirkan listrik
bagi sekitar 2.500 rumah tangga.
Andrias menjual reaktornya dengan harga Rp 1,5 juta, termasuk pemasangan.
Keseriusan dalam kerja sama penting karena penjualan reaktor biogas
harus diikuti dengan layanan purnajual yang memuaskan agar masyarakat
tidak merasa tertipu. ”Kalau pemakai merasa banyak keluhan dalam
menggunakan reaktor biogas, mereka tidak akan percaya bahwa kotoran sapi
betul-betul bermanfaat,” ujar Andrias.
Ia mengatakan, sampai kini gas yang dihasilkan belum dapat dikemas dalam
tabung karena gas dari kotoran sapi adalah jenis metana (CH4). Sementara
gas yang dikemas dalam tabung merupakan gas yang bisa dicairkan, yang
berasal dari jenis butana (C4 H10) dan pentana (C5 H12). Gas yang bisa
dicairkan bisa masuk dalam tabung dengan volume jauh lebih banyak. Namun,
metana tidak bisa demikian.
”Tapi biasanya dalam dunia teknologi, segala sesuatu akan terus
berkembang. Mudah-mudahan ada dana untuk meriset lagi agar tidak hanya
peternak sapi yang bisa merasakan manfaat biogas ini,” kata Andrias.
Sejauh ini, bagi masyarakat yang ingin menikmati biogas dari kotoran
sapi dan bagi peternak yang ingin menjual biogasnya kepada tetangga baru
bisa dilakukan dengan sistem jaringan gas yang dihubungkan dengan
selang-selang, seperti penggunaan gas pada zaman dahulu. Untuk
menghitung pemakaian, digunakan meteran.
Andrias adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Anak petani ini sering
penasaran dan ingin membuktikan teori-teori yang didengarnya dengan cara
melakukan percobaan.
Waktu kecil ia pernah membuat listrik dan perahu motor mainan dengan
penggerak kincir angin. Kincir angin dibuat dari pemutar kaset dalam
tape. Andrias juga senang bertani dan beternak. Tanaman dan hewan ia
rawat dengan kasih sayang. Ini adalah ajaran dari ibunya.
Sejak kecil Andrias sering membantu orangtuanya bekerja di sawah. Ibunya
sering menunjukkan kepadanya sawah-sawah yang subur dan kering. ”Sawah
yang hijau dan subur itu setiap hari ditengok petani. Kalau yang coklat
itu jarang ditengoki petaninya,” kenang Andrias menirukan kalimat ibunya.
Perkataan itu mengartikan, sawah yang sering ditengok akan lebih terawat.
Perawatan itu adalah cermin dari ketekunan. Tekun, itulah yang menjadi
prinsip hidup Andrias.
Suami dari Mila Juliani Perangin-angin (24) dan ayah dari Aldo Adicipta
Yanuar (7 bulan) ini pun membuat dan memasarkan reaktor dengan
ketekunannya. Meskipun sudah 66 orang menggunakan reaktornya, keuntungan
materi belum ia rasakan. ”Yang penting masyarakat bisa menerimanya dulu,”
kata Andrias menekankan. (Yenti Aprianti, Kompas 15 Agustus 2005) ►
e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|