| |
C © updated
07012004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/stenomuseet.dk |
|
| |
Nama:
Alfred Bernhard Nobel
Lahir:
Stockholm, Swedia, 21 Oktober 1833
Prestasi:
Pendiri Hadiah Nobel
Ayah:
Immanuel Nobel |
|
| |
|
|
|
|
Alfred Bernhard Nobel
Penemu Dinamit, Pendiri Hadiah Nobel
Sebagian orang menyebutkan kedermawanan Nobel karena penyesalannya telah
membuat barang yang dapat membunuh orang secara massal. Maka, untuk
menebusnya, ia menyisihkan sebagian hartanya untuk kemajuan ilmu
pengetahuan dan perdamaian.
Alfred Bernhard Nobel lahir di Stockholm, Swedia, 21 Oktober 1833. Ia
baru masuk sekolah pada usia 8 tahun. Baru setahun sekolah, ia ikut
orangtuanya pindah ke St Petersburg, Rusia. Sang ayah, Immanuel Nobel,
kemudian mendirikan pabrik torpedo dan ranjau.
Di tempat baru itu ia tidak lagi bersekolah melainkan belajar di rumah.
Agar ia mendapat pengetahuan yang cukup, orangtuanya mendatangkan guru
untuk mengajarnya. Pendidikan model itu ternyata cukup baik dan cocok
dengan Nobel.
Pada usia 16 tahun, ia telah menguasai ilmu kimia. Ia juga
mahir dalam berbagai bahasa seperti Inggris, Prancis, Jerman, Rusia, dan
Swedia sebagai tanah kelahirannya. Dengan kemahirannya berbahasa itu, ia
mencoba menulis puisi dan mengarang novel. Sayang, tidak selesai.
Tidak puas dengan ilmu yang didapatnya, ia pergi ke Paris untuk
memperdalam ilmu kimia pada usia 17 tahun. Tahun berikutnya ia berangkat
ke Amerika Serikat dan sempat menetap selama empat tahun di sana.
Setelah itu ia kembali ke St Petersburg dan bergabung di perusahaan
milik ayahnya.
Kepulangannya ke keluarganya itu bertepatan dengan terjadinya Perang
Krim (1853-1856) antara Rusia melawan Inggris, Prancis, Turki, dan
Sardinia. Torpedo dan ranjau produksi perusahaan ayahnya banyak
dipergunakan dalam perang itu. Namun, ketika perang usai, Rusia tidak
memerlukan lagi torpedo dan ranjau. Akhirnya, pabrik mereka pun bangkrut.
Setelah kebangkrutan itu, Nobel kembali ke Swedia dan mendirikan pabrik
nitro gliserin, bahan peledak cair. Tahun 1864 pabrik itu meledak dan
menewaskan lima orang karyawan termasuk adik Nobel, Emil. Pemerintah
Swedia melarang Nobel untuk membangun kembali pabriknya di tempat yang
sama.
Kejadian itu tidak membuat Nobel putus asa dan patah semangat. Ia
kembali melakukan eksperimen penaklukan nitro gliserin. Tanpa sengaja,
ia melihat nitro gliserin yang cair itu menetes ke tanah yang berkapur.
Perpaduan antara nitro gliserin dengan tanah berkapur itu maka lahirlah
dinamit yang cukup aman. Ia pun memproduksi dinamit dan menjadi kaya
raya.
Namun, seiring dengan penggunaan dinamit sebagai senjata dalam
peperangan yang mengakibatkan jatuhnya banyak korban, Nobel pun menyesal.
Akhirnya, dalam wasiatnya menyebutkan agar sebagian hartanya
disumbangkan untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan perdamaian.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|