| |
C © updated 12102006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/prb-nobelprize.org |
|
| |
Nama:
Muhammad Yunus
Lahir:
Chittagong, Bangladesh, 28 Juni 1940
Isteri:
Afrozi (Menikah April 1980)
Anak:
Deena dan Monica (perempuan)
Pendidikan:
- Chittagong Collegiate School;
- Chittagong College;
- Universitas Dhaka (BA pada 1960 dan MA pada 1961);
- Universitas Vanderbilt (PhD pada 1970)
Penghargaan Internasional:
1978 – President’s Award, Bangladesh
1984 – Ramon Magsaysay Award, Filipina
1989 – Aga Khan Award for Architecture, Swiss
1993 – CARE Humanitarian Award
1994 – World Food Prize
1996 – Simon Bolivar Prize (UNESCO)
1998 – Sydney Peace Prize
1998 – Prince of Asturias Award
2004 – The Economist Newspaper’s Prize
2006 – Mother Teresa Award
2006 – 8th Seoul Peace Prize
2006 – Hadiah Nobel Perdamaian bersama Grameen Bank
|
|
| |
|
|
|
|
Penerima Nobel Perdamaian 2006
M Yunus Pembebas Kaum Papa
Muhammad Yunus dan Grameen Bank Banglades meraih Nobel Perdamaian
2006. Ini untuk pertama kali, sebuah usaha pemberantasan kemiskinan
mendapatkan sendiri apresiasi itu. Komite Nobel makin berpihak kepada
upaya pencegahan perang yang paling fundamental, pemberantasan
kemiskinan. Perdamaian haruslah merupakan sebuah perdamaian yang
berkeadilan.
Pria yang rambutnya sudah memutih itu tertawa riang sambil melambaikan
tangan di antara para kerabat dan masyarakat Bangladesh setelah
mengetahui namanya diumumkan sebagai penerima Hadiah Nobel untuk
Perdamaian 2006 di Dhaka, Bangladesh. "Ini penghargaan bagi kaum
miskin!" seru Muhammad Yunus (66), pendiri Bank Grameen yang kini
memiliki 2.226 cabang di 71.371 desa dan mampu menyalurkan kredit
puluhan juta dollar AS per bulan kepada 6,6 juta warga miskin.
Siapa yang menyangka. Hingga detik-detik terakhir, Muhammad Yunus memang
sama sekali tidak disebut-sebut berpeluang menerima hadiah Nobel
Perdamaian 2006. Banyak kalangan menjagokan mantan Presiden Finlandia
Martti Ahtisaari yang berjasa meredakan konflik Aceh. Tokoh lain yang
dijagokan adalah Mantan Menteri Luar Negeri Australia Gareth Evans yang
berjasa merekonstruksi Kamboja dan Vietnam; aktivis etnik Uighur Rebiya
Kadeer yang menuduh Pemerintah China menyiksa orang Uighur di barat daya
Xinjiang; dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Namun tahun ini, untuk pertama kalinya, pemenangnya bukanlah selebriti
yang sudah terkenal di dunia, juga bukan figur dan badan yang dijagokan,
tetapi yang peduli pada pemberdayaan kaum papa dan wanita. Komite Nobel
Norwegia dalam keputusannya punya alasan tersendiri. “Komite telah
memutuskan untuk menganugerahkan Nobel Perdamaian 2006 kepada Muhammad
Yunus dan Grameen Bank. Itu adalah penghargaan atas usaha mereka
menciptakan pembangunan ekonomi dan sosial dari tataran paling bawah,"
demikian kata Ketua Komite Nobel Norwegia Ole Danbolt Mjoes, di Oslo,
Jumat (13/10). “Muhammad Yunus telah memperlihatkan diri sebagai seorang
pemimpin, yang menerapkan visinya ke dalam hal praktis demi peruntungan
jutaan orang, tidak hanya di Banglades, tetapi juga di banyak negara,"
lanjutnya lagi.
Sedangkan Asle Sveen, seorang sejarawan Norwegia mengatakan, "Ini adalah
untuk pertama kali, sebuah usaha pemberantasan kemiskinan mendapatkan
sendiri apresiasi itu. Sudah terlalu banyak nominasi bagi pihak-pihak
yang melerai konflik-konflik. Kini Komite Nobel makin berpihak kepada
upaya pencegahan perang yang paling fundamental. Mengupayakan perdamaian
tidaklah cukup, perdamaian haruslah merupakan sebuah perdamaian yang
berkeadilan. Salah satu penyebab perang, yakni kelaparan dan kemiskinan,
harus diatasi mulai dari akarnya," kata Sveen.
Sekjen PBB Kofi Anna juga menyatakan pendapat yang senada. "Terima kasih
pada Yunus dan Grameen Bank. Kredit mikro telah menjadi salah satu alat
untuk memotong lingkaran kemiskinan yang paling membelit wanita," kata
Annan. "Kita tak bisa mengatasi terorisme dengan perang langsung
terhadap terorisme, tetapi dengan memberi akses kehidupan pada kaum
miskin," lanjut Kofi Annan. Komentar senada juga bermunculan dari
berbagai pemimpin dunia, mulai dari Kanselir Jerman Angela Merkel,
Presiden Perancis Jacques Chirac hingga Raja Spanyol Juan Carlos.
Pembela Kaum Papa dan Wanita
Kiprah Yunus memberdayakan kaum papa telah dilakukannya sejak tahun
1974. Ketika itu, sebagai profesor ekonomi di Universitas Chittagong,
dia memimpin para mahasiswa untuk berkunjung ke desa-desa miskin di
Bangladesh. Betapa kagetnya Yunus ketika dia menyaksikan warga miskin di
desa-desa berjuang lolos bertahan dari kelaparan yang melanda negara itu
dan telah menewaskan ratusan ribu orang. Selanjutnya, sebagai akademisi
Yunus pun merasa berdosa. "Ketika banyak orang sedang sekarat di
jalan-jalan karena kelaparan, saya justru sedang mengajarkan teori-teori
ekonomi yang elegan," kata Yunus.
"Saya mulai membenci diri saya sendiri karena bersikap arogan dan
menganggap diri saya bisa menjawab persoalan itu (kemiskinan). Kami
profesor universitas semuanya pintar, tetapi kami sama sekali tidak tahu
mengenai kemiskinan di sekitar kami. Sejak itu saya putuskan kaum papa
harus menjadi guru saya," tambahnya. Dari perasaan bersalah itu,
laki-laki kelahiran Chittagong tahun 1940 itu mulai mengembangkan konsep
pemberdayaan kaum papa. Filosofi yang dia bangun adalah bagaimana
membantu kaum miskin agar bisa mengangkat derajat mereka sendiri. Dia
tidak ingin memberi ikan, melainkan memberi pancing kepada kaum papa
untuk mencari ikan sendiri.
Tekad Yunus semakin bulat setelah mengetahui seorang ibu perajin bambu
bernama Sufia Begum bolak-balik berutang kepada tengkulak untuk mendapat
modal membuat bangku dari bambu. Sufia yang tinggal di desa Jobra dekat
Universitas Chittagong meminjam uang 5 taka atau kurang dari Rp 850
untuk setiap bangku. Namun, dia harus mengembalikan utang tersebut
berikut bunganya sebesar Rp 184. "Saya berkata pada diri sendiri, oh
Tuhan, hanya karena lima taka dia menjadi budak. Saya tidak mengerti
mengapa mereka harus menjadi begitu miskin padahal mereka bisa membuat
barang kerajinan yang bagus," kata Yunus.
Untuk membantu Sufia dan teman-temannya sesama perajin, awalnya Yunus
merogoh koceknya sendiri sebesar 27 dollar AS. Saat itu, dia begitu
yakin bahwa jika orang miskin diberi akses kredit seperti yang diberikan
kepada orang kaya, mereka pasti bisa mengelolanya dengan baik. "Berikan
itu (kredit) kepada orang miskin, mereka akan bisa mengurus dirinya,"
katanya. Keyakinan Yunus tidak meleset. Program kredit mikro yang
digulirkannya terus berkembang.
Dua tahun kemudian, Yunus mulai mengembangkan program kredit mikro tanpa
agunan untuk kaum papa yang tidak dapat mengakses pinjaman bank. Program
ini menjadi semacam gugatan Yunus terhadap ketidakadilan dunia terhadap
kaum miskin. "Mengapa lembaga keuangan selalu menolak orang miskin?
Mengapa informasi teknologi menjadi hak eksklusif orang kaya," tuturnya.
Tahun 1976, Yunus mentransformasi lembaga kreditnya menjadi sebuah bank
formal dengan aturan khusus bernama Bank Grameen, atau Bank Desa dalam
bahasa Bengali. Kini, bank ini memiliki 2.226 cabang di 71.371 desa.
Hebatnya lagi, modal bank ini 94 persen dimiliki nasabah, yakni kaum
miskin, dan sisanya dimiliki pemerintah. Bank tersebut kini mampu
menyalurkan kredit puluhan juta dollar AS per bulan kepada 6,6 juta
warga miskin yang menjadi peminjamnya. Sebanyak 96 persen nasabah bank
ini adalah kaum perempuan.
Untuk menjamin pembayaran, Bank Grameen menggunakan sistem yang
dinamakan ‘grup solidaritas’. Kelompok kecil yang bersama-sama
mengajukan pinjaman, di dalamnya terdapat anggota yang bertindak sebagai
penjamin pembayaran. Pinjaman ini mirip dana bergulir, di mana ketika
satu anggota telah berhasil mengembalikan pinjaman, akan digunakan oleh
anggota lainnya. Bank Grameen kemudian memperluas cakupan pemberian
kreditnya dengan memberikan pinjaman rumah (KPR), proyek irigasi,
pinjaman untuk usaha tekstil, dan usaha lainnya.
Pada akhir 2003, Bank Grameen meluncurkan program baru, yang membidik
para pengemis di Bangladesh. Pinjaman bagi para pengemis rata-rata
sebesar 500 taka atau setara 9 dollar AS. Pinjaman tanpa agunan ini
tidak dikenakan bunga dengan waktu pembayaran fleksibel. Syaratnya
pinjaman harus dikembalikan dari hasil pekerjaan mereka dan bukan dari
mengemis. “Kami berupaya menaikkan harkat selain tentunya meningkatkan
kemampuan ekonomi mereka,” kata Yunus dalam situsnya.
Mereka diberikan tanda pengenal berupa pin dengan logo bank sebagai
bukti bahwa ada bank yang mendukung kegiatan mereka. Bank Grameen bahkan
membuat perjanjian dengan beberapa toko lokal agar meminjamkan mereka
sejumlah barang, sesuai plafon utangnya, untuk dijual kembali. Bank
menjamin pengembaliannya jika ternyata mereka gagal bayar. Mereka
menjual roti, permen, acar, dan mainan sembari mereka mengemis. Para
pengemis, atau yang disebut struggling member terbuka untuk membuka
tabungan di Grameen. Mereka juga dilindungi asuransi jika terjadi
kematian. Hingga pertengahan 2005, sebanyak 31 juta taka pinjaman telah
disalurkan bagi 47 ribu lebih pengemis. Sebanyak 15,4 juta di antara
pinjaman itu telah dikembalikan.
Bank Grameen juga telah berkembang menjadi Grameen Family of Enterprises
yang membawahkan delapan lembaga profit dan nonprofit, semuanya
ditujukan untuk mendorong masyarakat terangkat derajatnya. Divisi
perbankannya mencatat keuntungan sebesar 15,21 juta dolar pada 2005
lalu.
Gerakan pemberdayaan kaum papa yang diprakarsai Muhammad Yunus kini
diadopsi oleh lembaga-lembaga pemberdayaan masyarakat miskin di seluruh
dunia. Bahkan, Bank Dunia yang sebelumnya memandang program ini secara
sebelah mata kini mengadopsi gagasan kredit mikro. Lebih dari 17 juta
orang miskin di seluruh dunia telah terbantu dengan program kredit mikro
ini.
Yunus dan Grameen Bank mendapatkan hadiah sebesar 1,36 juta dollar AS
(sekitar Rp 12,5 miliar). Hadiah itu, kata Yunus, akan dipakai untuk
proyek yang menghasilkan makanan bergizi, murah dan juga kepada
perawatan mata, pengadaan air minum serta pelayanan kesehatan. ► e-ti/mlp
(dari berbagai sumber)
============================================== Pengemis
pun Dipinjami
Kompas, 30 Oktober 2006: Pengemis mendapat kucuran kredit dan bisa
mengembalikannya. Bagaimana bisa? Mungkin begitulah pertanyaan banyak
orang. Itu betul-betul nyata. Memang bukan di negeri kita ini yang kian
banyak pengemisnya, tetapi di Bangladesh yang dilakukan oleh pemenang
Hadiah Nobel Perdamaian, Muhammad Yunus.
"Kesalahan terbesar" yang dilakukan bank-bank selama ini karena mereka
hanya mau meminjamkan uang atau membuka kran kredit kepada orang yang
sudah punya "uang" dalam arti penghasilan dan aset. Coba kita datang ke
bank meminjam uang, mana mereka mau tanpa jaminan. Entah berupa surat
motor, surat mobil, surat rumah atau tanah, dan lainnya.
Pendekanya kita harus punya penghasilan dulu baru bisa dipinjami uang.
Artinya, hanya orang yang punya uang bisa meminjam. Muncullah istilah
"bankable", sebuah kata yang sangat menyesakkan bagi mereka yang tak
punya uang, tak punya aset untuk dijadikan jaminan (kolateral) kepada
bank agar bisa memiliki akses untuk meminjam.
Pikiran bankir, pasti hanya orang yang sudah punya penghasilan yang bisa
mengembalikan pinjamannya. Kalau pun ada penghasilan, tetapi pinjaman
tak dikembalikan, bank bisa menyita aset jaminan kita. Lalu siapalah
yang mau meminjamkan orang yang belum punya penghasilan, orang yang
miskin, orang yang tak punya aset untuk dijaminkan?
Kesalahan cara pandang dan pola berpikir itulah yang hendak "diputar"
oleh Muhammad Yunus, yang meraih Hadiah Nobel Perdamaian tahun ini. Ia
memang bukan bankir, tetapi seorang profesor ekonomi, yang sesak melihat
kemiskinan di negerinya.
Belajar dari pengalaman menyalurkan kredit kepada orang miskin melalui
Grameen Bank yang dirintisnya sejak tahun 1976, dan telah terbukti
mereka tidak mengemplang utang dengan ukuran hampir 99 persen peminjam,
yakni golongan orang paling miskin, mengembalikan pinjamannya, maka
mulai tahun 2003, Yunus memulai langkah berani, bahkan mungkin sebagian
orang akan menyebutnya nekat, merintis penyaluran kredit kepada para
genldangan pengemis di Bangladesh. "Pengangguran menjadio pilihan bagi
banyak orang miskin di Bangladesh, akibat dampak bencana banjir,
perceraian, kematian tulang punggung penghasilan keluarga, cacat dan
sebaginya. Dan banyak yang menjadikannya pekerjaan seumur hidupnya,"
ujar Yunus.
Pengemis yang memang banyak jumlahnya (sekitar 70 persen dari total
15... penduduk) di negara itu, tidak terjangkau dengan begitu banyak
intervensi pengentasan kemiskinan.
Program yang dinamai The Struggling (Beggar) Members Program" merupakan
inisiatif yang diambil Grameen Bank untuk kampanye berkelanjutan
pengentasan kemiskinan, namun program yang sudah ada sebelumnya, yakni
program kredit mikro kepada kebanyakan wanita, tidak bisa diterapkan
kepada para pengemis itu. Tetapi prinsip Yunus dan Grameen Bank-nya,
kredit seharusnya dipahami sebagai hak asasi manusia.
Kuncinya, program ini memang unik, sebab bahkan "memangkas" kebiasaan
dan "memotong" regulasi aturan yang telah berlaku untuk anggota reguler
(regular members), sebutan bagi nasabah kredit mikro. Karena itu pula,
para anggota pengemis tidak disyaratkan memenuhi aturan pemberian kredit
mikro. Meski pengemis itu berapiliasi dengan grup anggota reguler,
mereka tidak berkewajiban hadir setiap rapat yang diselenggarakan sekali
seminggu oleh Grameen Bank.
Akan tetapi, anggota grup reguler, bertindak sebagai mentor bagi anggota
pengemis, dengan menyediakan petunjuk pelaksanaan dan dukungan bagi
mereka. "Bank memperlakukan angota pengemis dengan perlakuan dan
perhatian yang sama dengan anggota reguler dan anggota reguler
diwanti-wanti untuk tidak menggunakan istilah pengemis yang secara
sosial berkonotasi kuarng baik," kata Yunus.
Karena itulah, tipikal pinjaman yang diberikan memang "sungguh sangat
kecil sekali", hanya Tk 500 (9 dollar). Pinjaman itu tidak memerlukan
kolateral atau agunan, dan sama sekali tidak dikenakan suku bunga.
Pembayaran kembali dari pengemis itu pun sangat fleksibel, yang
diputuskan sendiri oleh penerimanya. Pembayaran pinjaman akan dibayar
sesuai kemampuan meraih keuntungan mereka.
Suatu hal yang paling ditekankan, pinjaman itu tidak dibayar dari uang
hasil mengemis. Artinya, dengan cara seperti itu, mereka memang harus
berusaha lepas dari pekerjaan mengemis. Kalau begitu, pengemis
berkurang? Ya....
"Tujuan program ini bukan hanya memberdayakan secara ekonomi, tetapi
juga mengangkat moral dan harga diri para pengemis itu," ujar Yunus.
Oleh karena itu, para pengemis penerima pinjaman dari Grameen Bank
diberi identitas atau tanda pengenal yang berlogo Grameen Bank untuk
menunjukkan bahwa dukungan Grameen Bank berada di belakang mereka. Bank
membuat perjanjian dengan toko-toko lokal untuk memberi para pengemis
itu saluran akses (credit line) sehingga para pengemis itu dapat
mengambil barang senilai batas yang ditentukan untuk dijual di desanya.
Dengan demikian, para pengemis tersebut dapat menjual berbagai macam
barang, seperti roti, permen, mainan, dan sebagainya.
Sementara Grameen Bank menyediakan jaminan kepada toko-toko itu, untuk
membayarnya sekiranya para pengemis itu gagal bayar.
Sekiranya mereka mampu menabung, tentu saja lebih baik. Mereka pun
dilindungi dengan skim arusansi kredit, yang akan dibayar sepenuhnya
oleh Grameen Bank manakala si penerimakredit meninggal. Sekitar 500 taka
akan disediakan Emergency Fund yang dibentuk Grameen Bank untuk biaya
penguburan bagi mereka yang mengalami kematian keluarga.
Menurut Yunus dalam salah satu makalahnya, para pengemis itu disediakan
berbagai hadiah bagi mereka yang membayar kembali kreditnya. "Meskpiun
tidak ada kewajiban (semacam aturan tertulis) untuk keluar dari
pekerjaan mengemis, namun dalam banyak kasus di antara mereka yang
justru meraih peningkatan status, menjadi pengusaha," kata Yunus. ►
e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|