ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
 
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
 
  A N E K A
 ► Aneka
 ► Alumni
 ► Puteri Indonesia
 ► Sang Juara
 ► Maestro
 ► Penghargaan
 ► Ratu Dunia
 ► Tokoh Dunia
 ► Penemu
 ► Hadiah Nobel
      ► Perdamaian
      ► Ekonomi
      ► Kedokteran
      ► Fisika
      ► Kimia
      ► Sastra
 ► Pengasuh
 ► Iklan
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► In Memoriam
 ► Majalah
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 


 
  C © updated 12102004  
   
  ►e-ti/prb-nobelprize.org  
  Nama:
Wangari Muta Maathai
Lahir:
1940
Pendidikan:
S3 Universitas Nairobi 1971
Pekerjaan:
Asisten Menteri Lingkungan dan Sumber Daya Alam Kenya
Organisasi:
Pendiri The Green Belt Movement 1977
Penghargaan:
 1998 terpilih sebagai "Hero of The Planet" versi majalah Time
 
 
     
Wangari Maathai

Penerima Nobel Perdamaian 2004

 

Pemenang Nobel Perdamaian 2004 ini tertawa dengan ekspresi bingung ketika dikerubuti oleh wartawan dan ditanya, apa rasanya menjadi. "Saya sangat gembira. Saya benar-benar tak tahu harus berkata apa," kata Wangari Muta Maathai (64) sesaat setelah ia dinobatkan oleh Komite Nobel menjadi pemenang.

Nama perempuan berkulit hitam dan bertubuh cukup subur ini memang tidak muncul dalam 'bursa calon' pemenang Nobel yang dalam beberapa hari ini ramai di media massa. Namun, Komite Nobel dengan suara bulat menetapkan Maathai-yang merupakan perempuan pertama Afrika penerima Nobel-sebagai tokoh yang paling pantas dinobatkan.

"Maathai berdiri di barisan depan untuk memperjuangkan lingkungan, pembangunan budaya, dan ekonomi di Kenya dan Afrika. Dia menerapkan pendekatan holistik yang sekaligus dapat merangkul demokrasi, hak-hak asasi manusia, khususnya hak-hak perempuan. Ia berpikir lokal, tetapi bertindak global," demikian kutipan dari Komite Nobel.

Pernyataan Komite Nobel bukan sekadar pemanis. Sungguh sulit menjadi seorang Maathai di tengah rezim represif Pemerintah Kenya pimpinan Presiden Daniel arap Moi yang memerintah selama 24 tahun, dan kemudian terguling tahun 2002.

Maathai mendedikasikan hidupnya untuk menyelamatkan hutan di Kenya yang dari hari ke hari semakin gundul, dan batasnya terus menyusut. Bagi Maathai, deforestasi merupakan masalah utama di negeri itu karena 30 juta rakyat Kenya harus terus berjuang melawan kekeringan dan kemiskinan.

Sejak tahun 1977 Maathai mendirikan lembaga lingkungan bernama The Green Belt Movement, dan ia memulainya dengan menanam sembilan batang pohon di rumahnya. Perlahan-lahan organisasi ini mampu menanam 30 juta pohon dan berhasil mempekerjakan serta mendidik puluhan ribu perempuan di Afrika.

Salah satu klimaks pertentangan antara Maathai dan pemerintah adalah ketika Pemerintah Kenya tahun 2001 berupaya menghilangkan 170.000 acre (1 acre sama dengan 4046,86 m) hutan lindung, juga ketika pemerintah terus menggunduli wilayah Gunung Kenya (sekitar 300 km dari Nairobi), dan berupaya membangun gedung pencakar langit 62 tingkat di Taman Nasional Uhuru.

Di masa-masa inilah Maathai ditahan dan dipenjara berkali-kali oleh penguasa. Hampir setiap kampanyenya tentang penyelamatan lingkungan selalu dibayang-bayangi dengan ancaman fisik maupun psikis.

"Demi penyelamatan hutan-hutan, kami memutuskan untuk menuntut pemerintah ke pengadilan. Tuntutan ini perlu dilakukan karena pemerintah perlu diawasi. Sayangnya, dalam sistem politik Kenya saat ini, tak ada checks and balances, pemerintah memiliki kekuasaan penuh," kata Maathai ketika diwawancara oleh Radio Earthbeat tahun 2001 saat Presiden Moi sedang berada dalam puncak kekuasaannya.

Dalam sebuah penahanan di periode itu, polisi kadang memukulinya, dan dalam sebuah kejadian ia ditinggalkan dalam keadaan tak sadarkan diri.

"Saya hanya berupaya melakukan pekerjaan dengan sepenuh hati," kata Maathai merendah.

Namun, Komite Nobel mencatat segala perjuangannya. "Ia berdiri tegak penuh keberanian melawan rezim pemerintahan (sebelumnya) yang sangat represif. Bentuk perlawanannya yang unik telah menarik perhatian nasional maupun internasional," demikian pernyataan Komite Nobel.

Selain menjadi perempuan Afrika pertama yang menerima penghargaan Nobel, ia juga merupakan perempuan pertama di Afrika Barat yang meraih gelar profesor setelah ia menyelesaikan program doktornya tahun 1971 di Universitas Nairobi. Penghargaan ini juga merupakan yang pertama kali-sejak tahun 1901-bagi seseorang yang bergerak di bidang lingkungan meraih Nobel.

"Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan untuk segalanya. Saya akan terus melanjutkan perjuangan dan akan mengimbau rakyat Kenya untuk bergabung dengan saya," kata Maathai yang tahun 1998 terpilih sebagai "Hero of The Planet" versi majalah Time, dan kini menjabat sebagai Asisten Menteri Lingkungan dan Sumber Daya Alam Kenya.

Maathai mengaku sudah diberi tahu lebih awal oleh Duta Besar Norwegia di Kenya bahwa ia meraih penghargaan yang prestisius tersebut. Kepada Radio NRK Norwegia, Maathai menyebut hari itu sebagai "kejutan terbesar di sepanjang hidup saya".

Maathai yang akan menerima hadiah uang sebesar 1,3 juta dollar AS mengatakan, sumber alam dan lingkungan merupakan aspek yang paling penting dalam perdamaian, karena begitu sumber alam menjadi langka, bangsa-bangsa akan saling berperang. "Banyak perang di dunia ini yang sebetulnya memperebutkan sumber daya alam. Kami telah menanam benih-benih perdamaian," ujarnya

Kelompok Greenpeace menyambut baik penghargaan tersebut, namun menilai Komite Nobel terlambat mengaitkan lingkungan dengan perdamaian dunia. Komite Nobel memang baru berniat untuk memperluas cakupan penghargaan Nobel Perdamaian pada tahun 2001 dengan memasukkan tokoh-tokoh yang dianggap berjasa secara luar biasa dalam bidang lingkungan.

"Ini untuk pertama kalinya lingkungan menjadi penentu bagi penghargaan Nobel Perdamaian, dan kami telah menambahkan dimensi baru bagi perdamaian," kata Ketua Komite Ole Danbolt Mjoes.

Sejumlah kalangan awalnya berspekulasi bahwa Komite Nobel akan memilih tokoh yang bisa "menyindir" invasi militer AS ke Irak, seperti juga ketika Komite memberikan penghargaan Nobel kepada Jimmy Carter di tahun 2002 yang dianggap sebagai kritik terhadap Presiden George W Bush yang menggulingkan Saddam Hussein. Itu sebabnya anggota Partai Kemajuan Norwegia memprotes terpilihnya Maathai karena mereka menganggap ada isu yang lebih mendesak untuk ditangani saat ini, yaitu senjata pemusnah massal.

Apa pun perdebatannya, kemenangan Maathai dianggap sebagai kemenangan bagi Afrika. Menteri Kesehatan Afrika Selatan Manto Tshabalala menyebutkan penghargaan itu membuktikan bahwa kejayaan Benua Afrika akhirnya tiba.

"Ini merupakan pencapaian luar biasa bagi para perempuan yang sehari-sehari berjuang bagi keadilan sosial, kesetaraan jender, dan memulihkan martabat rakyat Afrika. Inilah abad Afrika, di mana perempuan dan pria Afrika telah menempatkan dirinya di tingkat global," ujarnya. (Kompas Sabtu, 09 Oktober 2004/AFP/REUTERS/BBC NEWS/AP/MYR)*** e-ti/mlp

 
Copyright © 2004 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero