Shirin Ebadi
Wanita Muslim Pertama Peraih Nobel
Ahli hukum, hakim, pengajar, penulis, dan aktivis
pembela hak asasi manusia Iran, Shirin Ebadi (56) meraih hadiah Nobel
Perdamaian 2003. Ia merupakan wanita Muslim pertama peraih penghargaan
Nobel, tokoh Muslim ketiga setelah Yasser Arafat (1994) dan Anwar Sadat
(1978), dan merupakan wanita kesebelas setelah Jody Williams (1997)
dalam 103 tahun sejarah Nobel. Ebadi terpilih dari 165 calon, termasuk
Paus Yohanes Paulus II dan mantan Presiden Ceko Vaclav Havel yang
sebelumnya diunggulkan.
Sarjana hukum dari Universitas Teheran yang lahir 1947 ini berjuang
selama 25 tahun untuk menegakkan keadilan di Iran. Baik dalam tulisan
maupun kegiatannya sebagai aktivis HAM, Ebadi dikenal sebagai pribadi
yang mengedepankan solusi yang demokratis dan damai atas berbagai
masalah serius dalam masyarakat.
Dia aktif dalam debat publik dan sangat dikagumi oleh masyarakat di
negaranya karena kegigihannya membela individu maupun kelompok yang
menjadi korban kekuasaan politik dan sistem hukum tidak manusiawi yang
dilegitimasi dengan atas nama Islam. Berkat kampanye yang dilakukan oleh
tokoh seperti Ebadi, hukum keluarga di Iran mengalami reformasi, salah
satunya adalah seorang suami tidak lagi secara otomatis dapat
menceraikan istrinya tanpa membayar uang tunjangan perceraian.
Sebagai seorang muslimah, Ebadi melihat tidak ada pertentangan
fundamental antara Islam dengan hak asasi manusia.
Atas penghargaan yang diterimanya itu, Ebadi menunjukkan bahwa
seseorang bisa menjadi muslim dan mendukung demokrasi. “Islam sejalan
dengan demokrasi. Bila Anda membaca Al Quran, Anda akan melihat tak ada
satu pun ayat yang bertentangan dengan hak asasi manusia,” ujarnya.
Pemerintah Iran secara resmi menyampaikan selamat kepada Shirin Ebadi.
Meski demikian, kelompok garis keras Iran mengecam keras pemberian Nobel
Perdamaian kepada Ebadi. Mereka mengatakan bahwa penghargaan tersebut
merupakan dukungan terhadap gerakan sekuler dan menganggap Komite Nobel
Norwegia telah menjadi alat politik dan mencampuri urusan dalam negeri
Iran.
Ebadi sendiri menilai bahwa dirinya dipilih bukan karena alasan
politik melainkan karena dunia menyadari bahwa perdamaian hanya akan
terwujud melalui penghargaan terhadap HAM.
Ebadi menjadi presiden pengadilan kota di Teheran tahun 1975 tapi
kehilangan posisi itu dalam revolusi Islam lima tahun kemudian ketika
kaum mullah mengambil alih dan memutuskan perempuan tidak bisa memimpin
pengadilan. Sejak Revolusi Iran tahun 1979, ia menjadi aktivis pejuang
demokrasi, HAM, pengungsi, wanita, dan anak-anak.
Sebagai pengacara ia terlibat dalam beberapa kasus politik yang
kontroversial. Ia mewakili para keluarga penulis dan cendekiawan yang
dibunuh antara tahun 1999 dan tahun 2000. Ia juga berupaya mengungkap
konspirasi di balik serangan terhadap para mahasiswa di Universitas
Teheran tahun 2000. Bahkan, ia pernah dipenjara selama beberapa minggu
karena membela keluarga korban pembunuhan politik. Bahkan, tahun 2001
lalu, Ebadi sempat dipenjara karena menghadiri konferensi pembaruan Iran
di Berlin.
Ia adalah pendiri dan pemimpin dari
Association for Support of
Children’s Rights. Ia sudah menulis beberapa
buku akademik dan artikel yang mengangkat isu hak asasi manusia. Di
antara buku-bukunya itu, yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa
Inggris adalahA Study of
Legal Aspects of Children’s Rights in Iran (Teheran, 1994),
yang dipublikasikan dengan dukungan dari UNICEF, dan History and
Documentation of Human Rights in Iran (New York, 2000). Sedangkan
artikel-artikelnya banyak mengangkat isu hukum, perempuan dan anak-anak
di Iran sepertiThe Major
Legal Problems of Children in Iran, Abolishing Slavery in Any Form, The
legal Punishment for Murdering One’s Child,
dan sebagainya.
Ebadi mewakili kalangan Islam reform dan melontarkan
pemikiran-pemikran baru dalam hukum Islam yang selaras dengan hak asasi
manusia seperti demokrasi, persamaan hak dan kewajiban di hadapan hukum,
kebebasan beragama, dan kebebasan mengeluarkan pendapat. Ia
memperjuangkan hak asasi manusia yang paling mendasar dan percaya bahwa
tidak ada masyarakat yang layak dijuluki ‘masyarakat yang beradab’
kecuali hak-hak perempuan dan anak-anak dihormati. Menurutnya, kekuasaan
politik tertinggi dalam suatu masyarakat harus
dibangun dengan dasar pemilihan yang demokratis. Ia lebih memilih jalur
dialog sebagai jalan mengubah perilaku dan menyelesaikan konflik.
Ia mengakui tak mudah menjadi wanita di Iran karena hukum yang
berlaku di sana. Meskipun begitu, ia bersyukur karena berbagai kesulitan
yang dihadapinya baik sebagai wanita maupun ahli hukum justru meneguhkan
perjuangannya yang dengan lantang dan tegas menyuarakan tegaknya
demokrasi dan penghargaan terhadap hak asasi manusia.
Saat ini, Ebadi bekerja sebagai pengacara dan pengajar di Universitas
Teheran. Penganugerahan hadiah Nobel Perdamaian diselenggarakan Oslo,
Swedia, 10 Desember 2003. Ebadi juga menerima uang 10 juta Kroner Swedia
(sekitar Rp10,8 miliar) berdasarkan keputusan Komite Nobel yang
bermarkas di Oslo, dengan anggota dua pria dan tiga perempuan.
*** e-ti/mlp |